Pengikut

Kamis, 02 Juli 2020

Perut Buncit di Atas Becak


*Failal

“Pak aku lulus tes kuliah jurusan Kedokteran”
Setelah Malia memberi tahu bapaknya tentang penerimaanya masuk kuliah, pak Sobri seketika itu tak berhenti memikirkan bagaimana mendapat uang untuk pembayaran anaknya. Tidak mungkin cita-cita malia terputus hanya karena keterbatasan pekerjaan yang dimiliki pak Sobri. “Lia harus kuliah, dia harus lebih baik dari saya” kata hati laki-laki separuh baya yang rambutnya terus berubah menjadi putih.
Sepetak tanah berukukan 10 m x 15 m yang setiap sekatnya masih menggunakan kayu triplek, disitulah Malia tumbuh. Bukan anak yang pintar, ketekunan yang terus di istiqomahkan selalu mengantarkan Malia pada garis takdir tuhan yang lurus, banyak teman-temannnya memicingkan mata atas prestasi-prestasi yang di dapatkan Malia, prestasi yang diinginkan banyak siswa-siswi di sekolah, memandang Malia penuh dengki sampai dia menjadi korban bully-an teman-temanya.
“Anak tukang becak enggak pantes buat juara”
Loe cari muka ya di depan para guru”
“Enggak usah main sama kita, kemana-mana aja di antar sama becak butut, huuu
enggak usah sok melas, kita tetap gak mau temenan sama loe
Begitu cercaan dan makian yang terus di lontarkan, syukurnya Malia tak putus asa, semangatnya membalas dengan kesuksesanya semakin menjadi-jadi.
Gadis lugu berkulit kuning langsat hidungnya tidak terlalu pesek bukan pula seperti hidung orang berkulit putih tapi Malia selalu memberikan senyuman setiap bertemu orang yang sudah ia kenal maupun belum. Tak jarang guru-gurunya sering meminta bantuan malia hanya sekedar membawakan bukunya ke kantor guru, atau menyampaikan tugas-tugas yang di titipkan saat guru pengajar izin tidak masuk kelas.
Matahari tak malu menunjukan cahayanya, pergantian petang menuju pagi memberikan kesejukan setiap hirupan udara di desa yang tak banyak polusi. Perlahan matahari mulai naik, cahaya itu menembus sela-sela pohon rambutan depan rumah pak Sobri sampai menyapa hangat Malia dari balik jendela kamarnya. Ia beranjak menuju dapur menggantikan peran ibunya sejak kelas 2 SMP. Saat itu seharunya Malia bukan anak satu-satunya, karena ibunya meninggalkan Malia dan pak Sobri ketika melahirkan adik Malia. Tapi takdir tuhan berkata lain karena kehabisan air ketuban adik Malia tidak terselamatkan dan tak lama ibu malia menyusul bayi mungil yang belum sempat melihat dunia serta belum luput dari dosa.
“Pak, mau di buatkan kopi?”
“Tak usah Malia, bapak harus segera pergi nanti kehilangan pelanggan”
“Ini pak, bekal nasi goreng dengan telur setengah matang kesukaan bapak, bapak harus tetap sarapan”
“Makasih nak, Cuma kamu harapan hidup bapak satu-satunya”
Sambil tertunduk Malia ingin sekali menangis tapi ditahannya agar air mata itu tidak membuat ayahnya sedih.
“Hari ini mau kemana Malia?” lanjut tanya bapaknya.
“Mau bantu-bantu ke rumah bu Vita pak, barang kali nanti disana malia dapat informasi beasiswa.”
“Iya jangan lupa kunci rumah, meskipun rumah ini tidak mewah tetap kita tidak boleh membiarkan orang lain masuk sembarangan. Bapak pergi dulu ya”
Hari terakhir pembayaran uang pangkal masuk kedokteran berakhir 3 hari lagi, Malia juga bingung dari mana ia harus mendapatkan uang sebesar 35 juta dalam waktu secepat itu. Tapi tak putus usahanya. Di sela-sela selesai ujian dan menunggu waktu terakhir pembayaran uang pangkal kuliah, Malia bekerja paruh waktu di supermarket kecil milik bu Vita, guru SMA Malia. Ditabungnya uang tersebut dan ia menjual kue yang di titipkan di toko-toko serta dia bawa saat menjaga swalayan Bu Vita.
“Selamat pagi bu Vita, Malia hadir” dengan wajahnya yang selalu ceria ia menyapa bu Vita dan memberikan senyum kepada rekan-rekan kerjanya.
Seperti biasa, sebelum toko di buka para pelayan dan pekerja tersebut di-briefing dan di arahkan serta diberi nasehat agar kerja mereka baik. Hampir di seluruh toko besar maupun supermarket melakukan hal yang sama. Dibacakan peraturan kerja dan ada hadiah yang di tawarkan jika kerja mereka bagus.
“Malia kamu salah naruh barang, ini snack rentengan di rak sebelah timur samping rak susu”
“Oh iya mba, maaf saya kurang fokus baca tadi”
“Malia... Malia. sudah sana pindah, kerja yang benar.”
---
“Gimana pak tadi narik becaknya”
“Lumayan, hasilnya bisa buat nambah tabungan. Kamu masih mau melanjutkan di Fakultas Kedokteran nak ?”
“Iya pak, tapi kalo tak ada biasa biarkan Malia mencoba mendaftar jadi guru honorer dan melanjutkan kerja di toko bu Vita.”
“Jangan Malia, nanti biar bapak cari cara biar bisa membayar uang pangkal masuk kedokteran itu.”
Setiap sepertiga malam Malia tak pernah berhenti bersujud serta mengadukan Doa malia agar dia dimudahkan bisa kuliah. Sampai dimana hari pembayaran terakhir Malia juga belum menemukan solusi. Ia berangkat ke toko bu vita dengan pikiran kosong. Baisanya ia selalu menampakkan keceriaanya, tapi hari ini ia agak berbeda. Setelah breafing dan arahan diberikan, bu Vita memanggil Malia ke ruang tamunya.
“Kamu mengapa Malia, mukamu murung, ada masalah ?”
Seketika itu Malia menangis sejadi-jadinya, ia mengadukan semua yang menjadi perang batinya ke bu Vita, tak kuasa bu Vita melihat tangis anak se kuat malia menahan isak sesak seperti yang di lihatnya saat ini. Langsung di dekapnya Malia dan diusap kepala Malia layaknya anak sendiri. Sudah lama Malia tak pernah merasakan kehangatan dekapan seorang ibu. Saat itu bu Vita hadir sebagai malaikat seperti ibunya sendiri.
“Kenapa kamu tak bilang sejak awal malia, barangkali ibu bisa bantu. Dito anak ibu juga masuk di jurusan yang sama seperti kamu tapi dia memilih masuk di sekolah militer Angkatan darat. Ibu sudah menyiapkan uang pangkal Dito buat masuk Kedokteran tapi uang itu tidak terpakai ternyata, dan masih di tabungan saya. Barangkali kamu mau mengggunakan uang tersebut dulu. Ibu tidak masalah”
Malia seperti menemukan keajaiban usaha-usahanya selama ini. Setiap doa yang ia lantunkan setiap malam seakan telah di jawab oleh tuhan. Sore itu sebelum jam 4 sore Malia langsung membayar uang pangkal ke teller bank yang berada di kecamatanya. Dan satu-satunya bank yang berada di dekat kampung Malia. Ia pergi di temani bu Vita, di perjalanan tak hentinya berterimakasih kepada bu Vita.
Malia sudah menunggu bapaknya di depan rumah tak sabar ingin memberitahu kabar baik dari jawaban doa-doa bapak Malia juga. Seketika bapak Malia datang ia langsung memeluk dan menagis haru.
“Kenapa kamu nak, bapak baru sampai. Biar bapak duduk dan kita bercerita”
Setelah semua diceritakan kepada bapaknya. Pak Sobri juga tidak menyangka anaknya bisa membayar uang pangkal tersebut atas bantuan bu Vita. Padahal pak Sobri tadi juga sudah mengusahakan menanyakan pinjama di pegadaian. Karena meragukan pak Sobri, pegadaian tersebut tidak memberikan pinjaman yang di ajukan pak sobri.
“Kamu minggu depan sudah bisa masuk kuliah Malia, kamu harus menyiapkan semuanya. Biar bapak nanti yang urus uang untuk mengembalikan ke bu Vita.”
“Terimakasih pak, Malia akan selalu membuat bapak bangga.”
Pak Sobri kini tenang sudah mengantarkan anaknya ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Di jurusan banyak orang yang menginginkan kursi Malia. Ia kini memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk mengembalikan ke Bu Vita. Dipikirnya hingga ia tertidur di samping trotoar jalan raya, di atas becak dengan perut buncitnya yang terlihat karna bajunya yang sudah kekecilan tapi masih di pakainya.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar