Pengikut

Senin, 14 September 2020

Training Menjadi ‘Istri’ di Masa Pandemi

   

Disadari ataupun tidak, pandemi Covid-19 telah membawa pengaruh besar bagi semua orang, termasuk dalam pendidikan karakter. Tidak seharusnya kita menyalahi keadaan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, akan tetapi berpikir bagaimana kita harus mampu menjalani bahtera kehidupan yang terus berjalan. Begitulah kita menyebutnya bijak dalam mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Tidak bisa dipungkiri pula, selama pandemi kita banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah dan lebih banyak bercerita atau mendengar kisah tentang kehidupan yang dijadikan sebagai pelajaran. Iya, memanfaatkan waktu “stay at home” untuk membina karakter sebagai seorang perempuan adalah cara untuk mengambil hikmahnya. Perempuan adalah madrasatul ula bagi anaknya kelak. Maka dari itu, inilah kesempatan bagi seorang perempuan untuk membekali diri sebelum dipinang nanti. Mulai dari bangun pagi, memasak, serta membersihkan rumah adalah hal yang lumrah bahkan menjadi kewajiban bagi seorang perempuan.

 Tidak sedikit unggahan di media sosial yang menunjukkan bahwa dirinya mampu mengerjakan semua hal yang biasa dilakukan perempuan pada umumnya, unggahan tersebut biasanya juga didukung dengan caption ‘‘calon mantu idaman’’. Tak heran jika masa pandemi ini dijadikan sebagai proses pelatihan mereka untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik.

Mempelajari kehidupan rumah tangga dari orang tua, bagaimana kesabaran diuji ketika berada di rumah setiap hari, memahami sifat satu sama lain, menurunkan sikap ego dan tentunya proses pendewasaan lain sebelum nantinya akan tinggal bersama suami atau di rumah mertua. Sebelum menikah bakti anak adalah kepada orang tua, setelah menikah maka bakti anak perempuan adalah kepada suaminya.

Diperlihatkan kepadaku tentang neraka, ternyata penghuninya yang palin banyak adalah kaum wanita, disebabkan mereka kufur, kemudian Rasulullah saw. ditanya: Apakah karena mereka kufur terhadap Allah? Beliau menjawab: Mereka kufur terhadap suami mereka, mereka kufur terhadap kebaikan (suami mereka), walaupun engkau (sang suami) berbuat baik kepadanya selama hidupnya, lalu ia melihat dirimu melakukan satu kesalahan saja maka ia berkata; saya tidak pernah melihat kebaikanmu”. (H.R Bukhari dan Muslim)

Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa diwajibkan bagi seorang istri untuk mentaati dan memuliakan sang suami, berkhidmat kepadanya dengan penuh keikhlasan, dan tidak berbicara kasar atau durhaka kepadanya. Mari persiapkan diri untuk meraih ridha ilahi. 

 

Penulis, Septiana Melala Gayo mahasiswi semester 3 Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Reaksi:

1 komentar: