Pengikut

Kamis, 15 Oktober 2020

Debu yang Masuk Darah yang Keluar

 

Di ujung musim semi yang tak bertuan, di sebuah desa yang tak ada tanda-tanda musim semi telah berjalan. Hanya ada debu jalanan yang lalu-lalang bersama udara, yang membantunya menggapai angan lebih lanjut untuk hinggap pada dedaunan, dinding rumah, atau bahkan menyelinap masuk menerobos deretan pagar-pagar bulu hidung. Tak ada belas kasih, bahkan kakek tua pun tanpa ampun batuk dibuatnya. Debu yang masuk, darah yang keluar, ah.. dunia memang adil.

Debu-debu itu sudah sangat melekat dengan kampung kami, tidak tahu apa solusinya. Apalagi ditambah kendaraan-kendaraan dengan knalpot bisingnya yang menganggap jalanan kami bak sirkuit balap, semakin menambah derita kami. Yang semulanya menderita opda hidung sebab menghirup udara bercampur debu, tapi telinga kami pun kini turut merasakannya. Segala cara sudah diterapkan, mulai dari memasang spanduk larangan mengebut, membuat polisi tidur pada setiap lima meter jalan, hingga para pemuda kampung yang turun tangan sendiri, yang tak jarang sampai berlanjut ke perkelahian berkepanjangan, maupun hingga tawuran antar kampung, dan berakhir ke pemakaman. Berbagai cara sudah kami lakukan namun debu itu tak kunjung menghilang usai, dunia memang adil.

Pagi itu Nur berjalan menghampiri motornya setelah menyantap lima buah pisang goreng buatan sang ibu. Udara pagi di kampungnya memang tidak seperti pada kampung-kampung lainnya, debu jalanan yang kian hari semakin bertambah langsung menyapa pagi yang ceria itu. Nur perlahan mengeluarkan motor peninggalan bapaknya yang hanya berupa rangkaian mesin, dua buah ban dan kerangka dari batangan-batangan besi yang dirangkai sedemikian unik, bentuknya telah termodifikasi menyesuaikan pekerjaan sehari-harinya, mengambil rumput untuk hewan ternak. Nur mengendarai kuda besinya itu, kulitnya yang hitam legam membaur dengan debu jalanan. Bermula dari putaran ban, lalu merangkak naik, debu-debu itu mengepul sebab tersambar angin bekas laju si kuda besi dan jadilah jalanan yang dilaluinya seperti kabut coklat yang menari.

Pagi itu, masyarakat kampung masih sangat antusias mengerjakan aktivitas pagi mereka seperti biasanyaa walaupun terkepung oleh debu. Berbeda dengan Arman, pemuda pemalas yang manja dan dimanja ole keluarganya. Ia adalah anak orang terkaya dari sepuluh rumah pertama dari perbatasan, karna rumah ke sebelas adalah rumah Pak Kepala Desa yang sudah sepuluh tahun menjabat. Seperti biasanya, Arman sejak pagi sudah nongkrong di dalam pos ronda kampung itu, menghisap asap rokok yang tak jarang debu jalanan pun turut terhisap di dalam hela nafasnya. Sembari menunggu teman-teman tongkrongannya, ia berbaring di pagi yang indah itu.

Sementara Nur telah sampai di lahan rumput gajah milik Daeng Manganring, bapak dari Arman, lokasi tempat ia hendak mengambil rumput untuk hewan-hewan ternak penyambung hidupnya. Ia memenuhi dua karung besar lalu meletakkannya di motornya. Nur kemudian melaju pulang ke rumah dengan semangat, saking semangatnya ia sampai lupa bahwa knalpot dari motornya itu bersuara sangat bertenaga, tepatnya suara dari tempat seharusnya knalpot itu terpasang. Si kuda besi itu memang tidak memiliki batangan knalpot, hanya ada lubang tempat knalpotnya saja. Karena sebab itulah suara yang keluar pun tidak karuan pula, seperti memancing datangnya musibah.

Benar saja, Arman terperanjat bangun dari tidur paginya di pos ronda. Kurang sedetik dari melajunya Nur di depan pos ronda itu, debu mengebut dan suara tidak karuan mengikutinya. Naiklah pitam tingkat sepuluh sang anak manja namun beringas itu, Arman. Tanpa basa-basi, ia langsung bergegas menyalakan motor bebek miliknya itu, lalu tancap gas mengikuti Nur yang mungkin bernasib malang beberapa menit kemudian. Sialnya, semua debu bekas laju motor Nur ditambah suara bising tidak karuan seolah membungkus Arman yang kini pitamnya naik ke tingkat sebelas.

Kegigihannya membuahkan hasil, kini Arman pun tepat berada di samping Nur yang masih asik berkendara tanpa mennyadari adanya seseorang yang berkendara di sampingnya. Tanpa pikir panjang, Arman melayangkan tendangan ke arah Nur dan mengenai karung rumputnya, jadilah Nur bersama kuda besinya terpelanting ke samping kiri, hingga tubuhnya tergelincir di selokan yang tak berair. Arman pun berhenti untuk kemudin berdiri memasang badan tepat di depan tempat Nur mencium tanah, seolah bangga dan ingin menampar sekali lagi wajah kusam Nur yang kini berdarah. Tanpa banyak bicara, Nur yang kesal kemudian bangkit menuju ke hadapan orang yang memasang badan di sana dan sekaligus orang yang membuatnya jatuh tersebut. Baru saja  mau berucap, wajah Nur lebih dahulu tertampar oleh tangan kasar Arman.

Dasar orang miskin tak tahu malu, sudah diberi belas kasih dari bapakku, masih saja mau kurang ajar!” berkata Arman dalam intonasi memarahi.

Nur yang merasa tidak bersalah apa-apa langsung mengambil sabit yang tertancap di karung rumputnya tadi, lalu menyerang Arman secara bertubi-tubi  tepat di bagian lehernya. Tewaslah seketika Arman di tangan Nur sang tukang ambil rumput di ladang bapaknya itu, dan Tak tahu nasib Nur di kemudian hari nanti.

 

Penulis , Nanang iskandar berasal dari PP AL-Junaidiyah Biru Bone

Reaksi:

1 komentar: