Pengikut

Sabtu, 10 Oktober 2020

Renovasi Ka’bah dan Pengambilan Keputusan

Saat Rasulullah menginjak usia 35 tahun, kaum Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah yang saat itu hanya berupa susunan bebatuan dengan ketinggian sekitar sembilan hasta. Salah satu penyebab tercapainya kesepakatan ini adalah karena Ka'bah yang dibangun sejak masa Nabi Isma’il ‘Alaihis Salam ini tidak mempunyai atap, sehingga banyak pencuri masuk dan mengambil barang-barang berharga yang tersimpan di dalamnya. Hal itu diperparah dengan kondisi bangunan Ka’bah yang telah rapuh dan banyak terlihat retakan di hampir seluruh dindingnya.

Pada tahun yang sama, bencana banjir besar yang melanda kota Mekkah meluap sampai ke Baitul Haram. Kaum kafir Quraisy pun merasa khawatir kalau sewaktu-waktu banjir tersebut akan membuat Ka’bah menjadi runtuh. Sementara itu, kaum Quraisy dihinggapi rasa dilema antara merenovasi Ka’bah atau membiarkan bangunan tersebut seperti apa adanya. di sisi lain, mereka sepakat untuk untuk tidak memasukkan hasil harta haram mereka seperti hasil dari pelacuran, transaksi yang mengandung sistem riba, dan harta dari rampasan orang lain.

Alih-alih ingin bergerak untuk merenovasi Ka’bah, masyarakat Quraisy justru diliputi rasa takut ketika akan merobohkannya. Rasa takut tersebut tidak lain karena Ka'bah adalah tempat yang dianggap sakral, sehingga mereka takut tuhan akan menimpakan kepada mereka sesuatu yang buruk apabila merusaknya. Ditengah kegalauan mereka,  Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi menarik perhatian masyarakat Quraisy dengan mengawali perobohan tersebut. Namun kaum Quraisy yang lainnya membiarkan al-Walid bekerja sendiri sembari menunggu apakah Al-Walid kena azab dari Allah.

Dengan diliputi rasa takut, Masyarakat Quraisy membiarkan al-Walid merobohkan Ka’bah mulai pagi sampai sore hari. Mereka ingin memastikan apakah akan datang azab dari Allah pada saat sore hari tiba. Ternyata hingga sore hari tiba tidak ada azab yang datang, kemudian mereka menunggu apakah esok hari azab akan datang. Ternyata keesokan harinya azab tidak kunjung datang, setelah terlepas dari ketakutannya, akhirnya kaum Quraisy membantu Al-Walid merobohkan Ka’bah serta setiap bangunan Ka’bah  sampai Rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap kabilah dengan bagiannya sendiri-sendiri. Setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan mulai membangun. Arsitek yang bertugas menangani urusan pembangunan Ka’bah ini adalah seorang berkebangsaan Romawi yang bernama Baqum.

Tatkala pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula. Perselisihan itu terus berlanjut sekitar empat atau lima hari tanpa ada keputusan. Perselisihan tersebut semakin memanas dan hampir saja terjadi pertumpahan darah di tanah suci. Bahkan salah satu kabilah ada membawa seguci darah dan mereka celupkan tangan-tangan mereka ke dalam guci tersebut sembari bersumpah bahwa mereka tidak akan mundur dan tetap berjuang untuk ikut terlibat dalam meletakkan Hajar Aswad tersebut.

 Pada akhirnya Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi tampil dan menawarkan jalan keluar dari perselisihan di antara mereka. Ia menawarkan agar menyerahkan urusan ini kepada siapa yang pertama kali masuk lewat pintu Masjid. dan mereka pun menyetujuinya. Allah menghendaki orang yang berhak tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tatkala mengetahui itu mereka berbisik-bisik, “Inilah Al-Amin. Kami rida kepadanya. Inilah dia Muhammad.”

Setelah mereka semua berkumpul di dekat beliau (Muhammad) dan bertanya apa yang harus beliau lakukan untuk mereda perselisihan ini?, maka beliau meminta sehelai selendang, lalu meminta para pemuka kabilah yang saling berselisih untuk memegang setiap ujung selendang tersebut, lalu beliau meletakkan  Hajar Aswad tepat di tengah-tengah selendang supaya mereka bisa mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, beliau mengambil Hajar Aswad tersebut dan meletakkannya di tempat semula. Berkat kecerdasannya, Rasulullah berhasil menghilangkan perselisihan diantara kaum Quraisy.

Setelah pembangunan selesi, Ka’bah yang awalnya apabila dilihat dari atas akan terlihat seperti bentuk "D" dengan setengah lingkarannya merupakan Hijir isma'il, sekarang   berubah menjadi segi empat seperti kubus yang memiliki tinggi kira-kira mencapai 15 m, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah 10 x 10 m. Hajar Aswad itu sendiri diletakkan dengan ketinggian 1,5 m dari permukaan pelataran tempat thawaf. Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi 12 m. Adapun pintunya setinggi 2 m dari permukaan tanah. Di sekeliling Ka’bah terdapat pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan, di bagian tengahnya dengan ketinggian ¼ m dan lebarnya kira-kira 1/3 m.

Pada masa pemerintahan sahabat ‘Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘Anhu, Ka’bah direnovasi kembali dan dikembalikan ke bentuk semula seperti huruf “D” karena ingin mengembalikan bentuk Ka’bah yang asli seperti yang dibangun oleh Nabi Ibrahim beserta anaknya Nabi Isma’il ‘Alaihis Salam. Kemudian sampai masa pemerintahan khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan, Ka’bah direnovasi lagi dan dibentuk seperti kubus. Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan mengatakan, jika di zaman Rasulullah saja bentuk Ka’bah berbentuk kubus, kenapa sahabat ‘Abdullah bin Zubair mengubah bentuk Ka’bah menjadi seperti huruf “D”?

 Hingga akhirnya, khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan tahu bahwa apa yang dilakukan sahabat ‘Abdullah bin Zubair itu benar. Beliau berniat ingin mengembalikan bentuk Ka’bah dalam bentuk yang asli lagi namun Imam Malik Rahimahullah melarangnya dan mengatakan biarlah Ka’bah seperti itu bentuknya (berbentuk kubus).

Imam Malik khawatir jika setiap kali pergantian khalifah, bentuk Ka’bah juga berganti terus dan menjadi tradisi setiap khalifah yang ada untuk mengubah bentuk Ka’bah. Hingga akhirnya Ka’bah tidak pernah berubah lagi bentuknya hingga sekarang. Semoga bermanfaat.

Sumber:

- Kitab Sirah Nabawiyah, karangan Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, cetakan Pustaka Al-Kautsar, halaman 57-58

- Video ceramah “Sirah Nabawiyah bag 6 - Ustadz Rahmat Fauzan Azhari, Lc, MA”, channel YouTube Masjid Al Jihad


Penulis adalah Muhammad Torieq Abdillah, Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar