Pengikut

Senin, 26 Oktober 2020

Tudung Berkesuduhan

 

Dalam uluran masa yang berkepanjangan

Menyita setiap jengkal deretan peristiwa yang bertuan

Membuat satu kata beranak seribu untaian

Pada setiap malamnya hanya ada satu yang pasti, gelap berkesudahan

 

Kau jelajah lagi untai rayu setahun yang lalu

Pohon yang menyumbang dedaunan tuk mencium tanah

Kau sempatkan menghitungnya, pada setiap helai yang berlalu

Seolah sang daun merajuk bila ia tak terjamah

 

Di ujung senja

Untai-untai itu kau lantunkan dengan samar

Terpaku kumeratap sinar surya yang berkarat

Kesamaran lisanmu memberiku asa tuk berharap

 

Kita memberi peluang senja tuk mengolok-olok

Sepertinya ia menghujat sambil tertawa

Kau yang menyamarkan kata berarak

Aku yang menderu asa, untuk sebuah mimpi yang belum nyata

 

Kepalaku menoleh sekejap ke rona jingga sang langit

Hanya sekedar mengukuhkan kembali asa-asa yang ragu

Sekejap lagi mataku menangkap kepergianmu

Apakah ada yang menyapu tudungmu hingga kau malu?

 

Kau semakin menjauh,

menunduk menghitung butir pasir pada setiap derapmu

Atau aku yang kian tolol,

yang harus bimbang walau sekedar memanggil

Oh lisan berucaplah! Hanya sekedar kata “hai... Tunggu”

Payah, kini ujung tudungnya tak terlihat lagi

 

Lihatlah! Kini sendiri kudiolok-olok sang senja

Dikatai tolol, aku pun pasrah

Karna kenyataannya

kubiarkan diriku ditinggalkannya

 

Oleh  : Nanang Iskandar, Santri PP AL-Junaidiah biru Bone

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar