Pengikut

Kamis, 22 Oktober 2020

Yang Saya Benci dari Sebuah Aksi


Setelah kurang lebih tujuh bulan kita perang melawan pandemi covid-19 dan hidup berdampingan dengan ragam isu yang menghiasinya, kini kita kembali dihadapkan pada masa-masa genting dengan adanya aksi turun jalan secara serentak di hampir seluruh penjuru tanah air. Aksi ini dilakukan sebagai ekspresi penolakan terhadap disahkannya RUU Omnibus Law pada tengah malam tanggal 5 Oktober 2020.

Berbicara tentang aksi sepertinya tidak akan pernah ada habisnya,  sebuah aksi tersebut akan terus lahir dari masyarakat sebagai ekspresi kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dinilai merugikan rakyat. Melalui aksi, masyarakat menyampaikan aspirasi berupa tuntutan dan berharap akan ada dampak yang lebih baik melalui apa yang mereka tuntut. Entah itu aksi turun jalan maupun pernytaaan sikap dan lain sebagainya

Aksi penolakan terhadap disahkannya RUU tersebut terjadi dimana-mana. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa yang dipermasalahkan adalah undang-undang yang katanya merugikan kaum buruh dan pekerja namun menguntungkan para investor atau pemilik modal. Selain isi UU yang penuh kontroversi, pelaksanaan sidang  yang tampak sengaja dilaksanakan secara sembunyi hingga memilih waktu tengah malam atau dini hari, memunculkan kecurigaan di tengah masyarakat.

Bermacam golongan turun ke jalan dalam aksi yang terjadi beberapa hari ini. Ada yang dari mahasiswa,pelajar sekolahan(lebih dikenal dengan STM) dan juga kaum buruh dan pekerja. Terbayang bukan bagaimana gentingnya keadaan di Indonesia ini?

Setelah ini, saya akan berbagi tentang apa yang saya lihat dan saya benci dari aksi demonstrasi ini. Memang menyampaikan aspirasi dengan cara unjuk rasa atau demonstrasi merupakan hak semua rakyat yang dilindungi undang-undang dalam negara demokrasi. Namun ada saja hal negatif yang dirasakan oleh para massa aksi sendiri maupun oleh orang lain yang ada di sekitar tempat digelarnya aksi tersebut, maka dari itu terlepas dari sisi baik yang kita dapat namun ada juga sisi buruk yang harus  kita hindari dalam berunjuk rasa. Tetntunya dengan alasan demi kebaikan bersama dan juga supaya saya berhenti membenci. Wkwkwk.

a)   Provokator 

          Provokator dalam aksi atau demo kerap kita temui. Biasanya mereka muncul di penghujung aksi. Peran mereka dalam demo adalah memancing amarah massa dan aparat keamanan supaya bentrok antara keduanya. Banyak atau sedikit, pasti akan ada korban dibalik aksi yang anarkis. Parahnya lagi bahkan sampai meninggal dunia, entah itu dari aparat ataupun massa aksi.

          Inilah alasan mengapa saya membenci provokator. Sebab dengan adanya mereka, niat baik massa akan rusak, bahkan niat aparat yang awalnya adalah untuk menjalankan tugas mulia menjaga keamanan dan jiwa, akhirnya bisa menjelma menjadi predator kejam yang seakan-akan membasmi hama negara. Begitupun massa juga akan merasa bahwa dirinya dikhianati oleh penjaga keamanan mereka sendiri, rasa amannya bahkan ditebas pentungan nyasar dan gas air mata.

b)   Pembuat gaduh yang sembunyi

       Sengaja saya tidak menggunakan kata pemerintah/pejabat, karena meskipun pemerintah yang biasanya memancing adanya demo, namun tak menutup kemungkinan bahwa instansi-instansi lain juga bisa menjadi aktor penggantinya.

       Biasanya, para pembuat gaduh akan bersembunyi ketika sudah didatangi massa, baik itu banyak ataupun sedikit. Dia /mereka takut untuk menampakkan wajahnya dan kemudian berdialog bersama massa. Tidak perlu kiranya saya memberikan contoh para pelaku, karena memang sejak dulu kita melihat sendiri siapa mereka yang bersembunyi ketika didemo dan siapa mereka yang berani bertanggung jawab lalu berdialog dengan massa pendemo.

       Sikap mereka dengan bersembunyi juga menjadi salah satu penyebab massa bertindak anarkis, maka jangan salahkan massa apabila mudah terprovokasi untuk berbuat anarkis! Karena memang dalam keadaan lelah semua orang mudah dipengaruhi untuk kemudian menjadi marah dan kejam.

c)     Penunggang gelap

          Penunggang gelap merupakan dia/mereka yang punya kepentingan dan berharap mendapatkan keuntungan besar dibalik terlaksananya demo baginya. Mereka bahkan rela mengeluarkan hartanya untuk dibagikan pada massa agar mendemo siapa yang menjadi target mereka, baik individu ataupun instansi, baik milik negara ataupun swasta.

        Penunggang gelap akan menyuplai energi semangat dan materi bagi massa setelah keresahan massa yang menjadi alasan untuk turun jalan. Penunggang gelap tidak hanya menunggangi massa untuk mendemo targetnya, bisa saja dia juga menunggangi provokator untuk memprovokasi massa yang kemudian nanti akan rugi adalah massa  atau siapapun yang ada di lapangan saat itu. Intinya penunggang gelap itu licik dan harus punah.

            Setelah beberapa hal yang saya sebutkan dan coba saya paparkan di atas, maka bisa kita tarik kesimpulan, bahwa dalam hal negatif yang terjadi di lapangan sebagian besar merupakan ulah dari pihak ketiga(selain massa dan aparat keamanan). Karena kita semua tahu bahwa petugas keamanan yang ada di lapangan, pada saat itu posisi mereka adalah sebagai abdi negara. Apapun yang negara perintahkan harus mereka lakukan sebagai wujud dari sumpah setia yang mereka ucapkan ketika awal memasuki profesinya.

Juga demikian dengan massa yang hanya bermodal panggilan hati nurani untuk turun jalan , mereka sangat tidak pantas untuk diperlakukan atau dianggap sebagai musuh negara dengan cara apapun. Apalagi sampai dengan memukul dan menghajarnya habis-habisan. Aparat juga harus sadar diri, sebab mereka dilengkapi pengaman diri dan juga senjata. Maka dengan itu, seharusnya aparat adalah menahan, bukan melawan. Sebab sekali pukul, massa bisa luka atau sekarat. Sedangkan aparat tidak gampang tumbang hanya dengan lemparan batu. Ah sudahlah, aku tak harus Panjang-panjang dalam hal ini, semua kita sudah tahu harus bagaimana menyikapinya.

Kemudian akhirnya, aparat dan massa sama-sama menjalankan tugas mulia. Sangat tidak pantas apabila keduanya saling bantai. Kalau suka hal-hal seperti itu, ikut saja event-event resmi yang ada. Jangan lakukan di jalan, apalagi diselipkan dalam suasana penyampaian aspirasi. Sangat tidak pantas dilakukan manusia yang masih mengaku punya hati Nurani.

 Aparat kalau memang hobi memukul dan membasmi hama negara, silahkan basmi mereka yang merugikan negara dengan cara-cara halus dibalik kursi jabatan, atau juga beberapa daftar yang sudah saya sebutkan di atas. Mereka hama negara. Basmilah wahai para aparat yang terhormat. Jangan diam!

Penulis; Ahmad fikri, salah satu mahasantri Ma`had Aly Hasyim Asy`ari PP.Tebuireng yang berasal dari Sumenep

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar