Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Selasa, 29 Desember 2020

Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Kembali Adakan Bincang Jurnalistik Bagian 2


Selasa (22/12), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali mengadakan Bincang Jurnalistik. Kegiatan yang dipromotori oleh Departemen Jurnalistik dan Redaksi Sarung ini berlangsung 2 hari, yaitu 21-22 Desember. Acara tersebut diadakan secara virtual dengan menggunakan aplikasi zoom meeting. Bincang kali ini merupakan follow up dari Bincang Jurnalistik yang diadakan bulan Oktober lalu. Dengan mengusung tema “ Tulis, Edit, Kirim: Nulis Fiksi dan Kiat-Kiat Menyunting Tulisan Agar Naskahmu Terbit. Bincang kali ini mengundang narasumber yang sangat kompeten di bidang kepenulisan dan tulisannya telah melanglang buana dari mulai sudah memiliki buku sendiri sampai menjadi Redaktur media online yang sudah sangat terkenal. Adapun materi yang disajikan tentang tulisan fiksi yang diisi oleh Alfin Rizal, penulis buku “Manusia Bermilyar-Miliyar Cuma Kamu yang Bikin Ambyar” pada hari pertama dan editing tulisan yang diisi oleh Rifqi Fairuz, Redaktur islami.co pada hari kedua  

Pada hari pertama bincang, dengan dimoderatori oleh Hamada Hafizu yaitu Redaktur Pelaksana Redaksi Sarung. Bincang berlangsung sangat hangat dan interaktif. Pemateri memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya tentang penulisan fiksi dan pengalaman-pengalaman penulis dalam menerbitkan buku-buku karyanya. Di sela-sela bincang pemateri menyampaikan sebuah statement yang sangat menyentuh hati peserta “ ketika tidak ada satu penerbit yang menerbitkan bukumu ada satu penerbit di kepalamu yang bisa menerbitkan sendiri bukumu”. Sesi ini diakhiri dengan kata-kata dari pemateri yang sangat membangun semangat untuk menulis “jangan takut menulis jelek karena setiap penulis profesional pernah amatir.

Kemudian bincang hari kedua dilanjutkan oleh Rifqi Fairuz sebagai pemateri. Masih dimoderatori oleh Hamada Hafizu, dialog antara moderator dan pemateri sangat mengalir dan santai. Di awal sesi Rifqi Fairuz langsung membuka dialog dengan interaksi kepada peserta zoom meeting dengan menanyakan apakah dalam proses menulis diperlukan mood yang bagus? Hampir semua peserta mengatakan bahwa dalam menulis diperlukan mood yang bagus. Kemudian Fairuz, panggilan akrabnya mengatakan bahwa hal tersebut adalah mitos. Setelah penyampaian materi. Sesi selanjutnya tanya jawab yang dibawa oleh moderator. Di akhir sesi Fairuz mengakirinya dengan closing statement yang sangat bagus “ menulis bisa dimana saja, tidak diperlukan mood yang bagus yang diperlukan hanyalah data dan data iu sendiri adalah mood dalam menulis”. Bincang dikahiri dengan foto bersama via capture layar zoom.(ar)

Kamis, 17 Desember 2020

Suara Kami



Suara itu...

Yaaa, itu adalah suara rintihan hati

Riuh mengharu suara pilu dari kami

Berharap adanya banyak simpati

Tetapi negeri tetap saja terbelenggu menjadi-jadi.

Cinta itu...

Yaaa, itu adalah cinta para pejuang

Melawan panasnya api menyerang

Demi kaum bebas dari pengekang

Hingga tak tau caranya kembali pulang.

Laluuu...

Akan kah suara dan cinta itu terdengar?

Bagaikan angin melayang-layang

Debu yang berlalu lalang

Embun pagi yang cepat penghilang

Hingga Ombak yang kencang menerjang.

 

Yaaa, itu adalah suara kami

Suara yang hanya didengar oleh telinga,

Dilihat oleh mata,

Namun Tidak dengan hati yang terbuka.

Wahai negeriku

Cepatlah pulih dari rasa sakit itu.

Oleh: Hasaroh

 

Minggu, 13 Desember 2020

Dalam Rangka memeriahkan Harlah CSSMoRA ke-13, Organisasi PBSB Gelar Obrolan Aktivasi Santri sebagai Ajang Kontribusi untuk Negeri

 

Jumat (11/12), Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) menggelar acara Obrolan Aktivasi Santri dalam rangka memeriahkan hari lahir CSSMoRA ke-13. Acara ini bertajuk Aktivasi Santri Nusantara, makin Reaktif, makin Kreatif yang berlangsung secara virtual melalui zoom meeting. Adapaun peserta dari acara ini merupakan bagian dari alumni CSSMoRA, anggota aktif CSSMoRA dan juga dihadiri oleh khalayak umum.

Organisasi dari Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) tersebut mempunyai rangkaian acara obrolan aktivasi santri, yang berlangsung 4 hari, mulai tanggal 6, 8, 10, dan 11 Desember 2020. Adapun hari pertama, diisi oleh Rinaldi Nur Ibrahim dengan tema kesehatan. Hari kedua, diisi oleh Hamdi Putra Ahmad dengan tema Jurnalistik. Hari ketiga, diisi oleh Acep Jaelani dengan tema Sosial dan Lingkungan dan hari terakhir, diisi oleh Ustaz Syamsuri Firdaus dengan tema Keagamaan sekaligus doa bersama.

“Alhamdulillah, telah selesai hari ini tepat 11 Desember 2020 rangkaian obrolan aktivasi santri yang memang ini menjadi salah satu rangkaian hari lahir ke-13 CSSMoRA, yang kita kemas dengan tema “Aktivasi Santri  Nusantara” ya. Jadi secara filosofis,  aktivasi santri nusantara ini kita ingin menyampaikan bahwa di dalam kondisi  yang saat ini sedang  membutuhkan banyak kontribusi dari berbagai pihak khususnya santri. Ini teman-teman pemuda dan santri secara khusus dapat turut berkontribusi di dalamnya sebagai contoh dalam bidang sosial dan lingkungan dalam bidang Kesehatan dan apapaun bidangnya saat ini bisa kita anggap turun seperti itu ya, ini harapannya temen-teman bisa turut aktif disana, turut aktif membantu apapun kontribusinya”. Ujar Ketua Panitia Harlah CSSMoRA-13, Abid Shidqi

“Nah, kita ingin dengan obrolan aktivasi santri ini setidaknya muncul motivasi, muncul kemauan untuk turut berkontribusi di berbagai bidang. Dan di obrolan aktivasi santri ini ada beberapa tema yang dibahas. Pertama, berkaitan dengan bagaimana kondisi Kesehatan. Kemudian sosial, lingkungan, dan juga di bidang jurnalistik. Yang terakhir, hari ini berkaitan dengan bidang keagamaan”. Imbuhnya

Acara tersebut dilakukan secara interaktif antara narasumber dan peserta, dengan harapan para audiens dapat menerima materi dengan baik dan tidak terkesan membosankan. Abid mengatakan bahwa konsep dari acara ini adalah gerakan sosial.

“Memang obrolan aktivasi santri ini kita konsep dengan kemasan obrolan ya, kita sama-sama tau lah obrolan itu kan sifatnya ringan dan tidak berat karena saat ini ya teman-teman santri dan pemuda itu justru lebih banyak menimbulkan perubahan dari obrolan-obrolan kecil. Jadi perubahan itu ternyata terbentuk bukan dari obrolan kaku atau obrolan yang sifatnya resmi dan lain sebagainya justru lebih banyak menggagas dari obrolan-obrolan kecil ini”. Jelas Mahasantri asal CSS Universitas Pendidikan Indonesia tersebut

Beberapa rangkaian Harlah CSSMoRA lainnya adalah 20 ribu santri berbagi, pesantren visit, dan kampanye-kampanye lainnya. Terselenggaranya acara ini dibarengi dengan harapan khususnya kepada santri agar mampu berkontribusi sesuai dengan latar belakang bidang masing-masing serta membantu meringankan negeri dalam mengahadapi pandemi.

“Harapannya dari kegiatan ini dapat menjadi stimulus untuk teman-teman santri, teman-teman pemuda supaya mau berkontribusi dalam berbagai bidang. Nah, ini harapannya output dan outcome nya seperti itu. Nah, dari beberapa bidang yang tadi kita jadikan tema di obrolan aktivasi santri, harapannya santri mendapatkan gambaran dari sana dan motivasi untuk turut aktif disana. Itu harapan kami semoga dapat tercapai, kita sama-sama berharap obrolan aktivasi santri ini dapat membantu meringankan beban dari pandemi. Ini goals besar kita lah”. Jelas Abid ketika diwawancarai

Kontributor : Septiana Melala Gayo                                                                 

Rabu, 09 Desember 2020

Surau Rang Caniago (Part 2)

 

Aku belum memulai percakapan apapun dengan Uwo Lina selain perkenalan tadi siang. Ia nampak cukup pendiam di usia tuanya, atau mungkin memang tak banyak bicara. Yang keluar dari mulutnya hanya jawaban dari pertanyan-pertanyaan nenek. Atau mungkin juga karena pertemuan yang baru hitungan jam membuat canggung.

Gaek Rajin nampak sangat lesu di usia tuanya, tapi itu tak menghalanginya untuk mengenali nenek, adik satu-satunya. “Pertemuan mengharukan layaknya drama?” mungkin itu yang dapat menjelaskan semuanya. Hanya air mata tanpa kata. Ada rasa bersalah yang terpancar pada masing-masing mata, namun bahagia juga terpancar jelas. Sekarang aku benar-benar penasaran apa yang sebenarnya terjadi.

Aku memilih keluar dan memeriksa notifikasi di handphone. Duduk di beranda depan dengan lampu temaram, rumah ini sangat tua. Aku yakin ada banyak sekali serangga yang hidup di dalam papan dan tiang penyangga. Bentuknya seperti rumah adat Minang kebanyakan, Rumah Gadang dengan atap gonjong. Persis seperti atap rumah makan Padang di Ibukota yang kerap jadi langganan keluarga.

Tak ada notifikasi penting, hanya group chat yang sangat ramai. Ya, aku memang sedikit abai pada benda pipih itu sejak landing tadi pagi. Setidaknya lebih baik sekarang memeriksa percakapan tidak penting dari pada bergabung dengan haru biru nenek. Aku bahkan tidak mengerti dengan kosa kata yang nenek keluarkan saat berbicara dengan Gaek Rajin. “Mungkin bahasa orang terdahulu memang lebih rumit dipahami” batinku yang kala itu hanya mendengar.

“Kenapa indak di dalam saja?” Tanya Uwo Lina sambil duduk di sampingku. Aksen Minang Uwo Lina kental sekali dengan pelafalan huruf  “e” yang seolah ditekan. Sangat lucu jika sesekali mendengarnya.

“Cari sinyal Wo. Lagian juga nggak paham sama percakapan nenek.” Aku mengulas senyum tipis basa -basi untuk menunjukkan sopan santun.

“Bahasa urang tuo memang seperti itu. Indak seperti Bahasa Minang sekarang yang banyak samanya dengan Bahasa Indonesia.” Ternyata Uwo Lina cukup “melek” perkembangan bahasa. “Berapa umurmu nak?” sambung Uwo Lina.

“Dua puluh tahun Wo, dua bulan lagi.” Jawabku seadanya.

“Berapa orang saudara?”

“Anak tunggal Wo.” Uwo Lina sedikit murung mendengar jawabanku.

“Berarti Sari terlambat menikah.” Sambung Uwo Lina dengan gelak tawa di ujungnya. “Tapi ndak baa, asalkan anaknyo padusi[1].” Uwo Lina menangkup wajahku sambil tersenyum dengan mata yang berkaca. Tuturnya lebih seperti gumaman. “Kaulah nanti penerus generasi Caniago yang ada Kia. Penerus keluarga besar nenek kau Kia, penerus satu-satunya.”

Aku sedikit bingung dengan pernyataan Uwo Lina barusan. Uwo Lina bahkan punya tiga orang anak, tapi kenapa aku penerus satu-satunya?

“Di Minang, anak perempuan adalah penerus. Sementara Uwo keterununan Gaek kau, keturunan laki-laki. Ndak bisa mewarisi.” Jawab Uwo seolah paham dengan kebingunganku.[2]

“Wo, kenapa Nenek nggak pernah pulang? Padahal kan masih punya saudara?” Aku dapat melihat perubahan ekspresi Uwo Lina dengan mudah. Lengkung senyum yang tadinya ditarik ke atas, sekarang mulai mengendur ke bawah. Uwo Lina jelas kaget dengan pertanyaanku. Tapi tentu saja aku lebih terkejut dengan ekspresi Uwo Lina. Perasaan takut yang kusembunyikan semakin besar.

“Kia, di dunia ini ada hal yang aneh dan ndak mungkin tapi terjadi. Ada hal-hal yang anak sebesar kau sekarang ini ndak akan paham. Kalau Uwo cerita, takutnya justru membuat salah paham. Lebih baik tanyakan langsung ke Nenek kau, Uwo tidak berani cerita jika Tek Minah belum cerita.”

Jawaban Uwo seketika membuatku tertunduk layu, perasaan cemas dan takut semakin besar. Sebenarnya apa susahnya memberitahu dan membuatku berhenti menduga-duga. Aku semakin pusing karena nenek seperti akan mengingkari janjinya. Seolah belum mau bercerita padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jelas aku bukan orang yang sabar. Satu minggu kukorbankan untuk menemani nenek dan mengambil izin kuliah tapi sekarang aku belum mendapatkan apapun. Enam hari lagi waktu yang kuberikan pada nenek untuk berkata jujur. Jika tidak mungkin lebih baik kembali saja, aku sungguh benci rasa penasaran.

“Lina!” Suara teriakan nenek memutus lamunanaku dan Uwo Lina. Kami bergegas menyusul ke dalam. Sebenarnya ada perasaan kesal saat melihat nenek yang justru malah mengabaikanku dan tak menepati janji. Namun rasa kesal itu sirna saat kulihat Gaek Rajin, yang baru kulihat dua jam lalu terbaring di lantai. Pukul delapan lebih lima belas menit Gaek rajin menghembuskan napas terakhir. Meninggalkan nenek dengan isakan pelan yang nyaris tak bersuara. Air mata berlomba-lomba turun dari kelopak matanya. Nenek tertunduk menatap wajah Gaek Rajin yang sedikit tersenyum, seolah kedatangan nenek adalah penantian terakhirnya.

Di sampingku Uwo Lina juga mengucurkan air mata lalu berlari ke rumah satunya untuk memanggil sang suami yang telah pulang maghrib tadi. Dan di sinilah aku mematung dengan kesedihan yang entah menjalar dari mana. Semua pikiran burukku melambung entah kemana. Mungkin rasa penasaranku memang harus lebih sabar lagi

 

Bersambung...

oleh: Miang

Baca part 1 di https://www.cssmorauinsuka.net/2020/10/surau-rang-caniago.html?m=1

[1]“Tapi tidak apa-apa asalkan anaknya perempuan”

[2]Minangkabau merupakan suku yang menggunukan garis keturunan ibu (matrilinial). Sehingga kewarisan diturunkan kepada keturunan perempuan. Sukupun diwariskan dari ibu, sehingga anak mendapatkan suku yang sama dengan sang ibu.


Jumat, 04 Desember 2020

Mengenal Kaidah-Kaidah Fikih

 

sumber foto: http://makalahirfan.blogspot.com

Salah satu disiplin ilmu dalam Islam di dalam bidang hukum yang masih jarang dipelajari atau diketahui oleh umat Islam sendiri adalah Kaidah-kaidah Fikih/Hukum Islam atau yang dikenal dengan nama al-Qawa’id al-Fiqhiyyah. Umat Islam hanya terbiasa dengan Tafsir Alquran, Hadis, Fikih, Usul Fikih, Tasawuf, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Padahal Kaidah-kaidah Fikih/Hukum Islam sangat penting dipelajari karena ini merupakan hasil buah pemikiran para ulama terdahulu, terlebih ulama empat mazhab.

 Walaupun dalam pembuatannya terdapat perbedaan, misalnya ulama dari mazhab Hambali membuat Kaidah-kaidah Fikih ketika semua Masail Fiqh (Permasalahan-permasalahan Fikih) sudah diketahui dan terjawab, baru mereka membuat Kaidah-kaidah Fikih tersebut. Lain halnya dengan mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, mereka terlebih dahulu membuat Kaidah-kaidah Fikih, walaupun ada maupun tidak ada Masail Fiqh tersebut, mereka tetap membuatnya. Maka dari itu tidak heran apabila ada Kaidah-kaidah Fikih tersebut tidak ada contohnya.

Kaidah-kaidah Fikih atau al-Qawa’id al-Fiqhiyyah yang berasal dari kata al-Qawa’id yang merupakan bentuk jamak dari kata qaidah (kaidah) dan al-Fiqhiyyah merupakan bentuk jamak dari fiqh (pemahaman/fikih/hukum Islam). Secara etimologi al-Qawa’id al-Fiqhiyyah yaitu dasar-dasar atau asas-asas yang berkaitan dengan masalah-masalah atau jenis-jenis fikih. Biasanya Kaidah-kaidah Fikih lebih banyak dipelajari bagi mereka yang berada di Fakultas Syariah, namun tidak menjadikan kita tidak mengetahui tentang Kaidah-kaidah Fikih.

Pada dasarnya, mayoritas ulama menetapkan ada lima kaidah utama (al-Qawa’id al-Khamsah) yang mana kemudian di dalam lima kaidah utama tersebut terpecah lagi menjadi Kaidah-kaidah Fikih cabang yang jumlahnya menjadi ratusan kaidah. Selain itu, ada banyak pembagian bidang kaidah sesuai dengan cabang-cabang ilmu fikih, seperti Siyasah (Politik), al-Ahwal asy-Syakhshiyyah (Hukum Keluarga), Muamalah (Hukum Ekonomi atau Transaksi), Jinayah (Hukum Pidana), Qadha (Hukum Peradilan atau Acara), dan Ibadah. Namun, dalam tulisan ini penulis akan membahas Kaidah-kaidah Fikih dalam bidang Siyasah, al-Akhwal asy-Syakhshiyyah, Muamalah, dan Ibadah saja beserta penjelasan dan contohnya.

A.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Siyasah

تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعيَةِ مَنُوطٌ بِالمَصْلَحَة

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya tergantung kepada kemaslahatan.”

Maksud dari kaidah di atas yaitu seorang pemimpin harus membuat peraturan sesuai dengan masalahat yang dapat diterima rakyatnya dan tidak membuat peraturan sesuai dengan nafsunya yang dapat memudaratkan rakyatnya. Misalnya, pemerintah membuat kebijakan bagi siapa saja yang rumahnya terkena lahan hijau, maka rumahnya akan digusur. Pemerintah tidak hanya membuat kebijakan untuk menggusur rumah rakyat tersebut, tetapi juga mengganti rugi berupa uang sesuai dengan harga rumah tersebut dan mencarikan tempat gantian yang layak bagi mereka. Seorang pemimpin harus berbuat adil kepada rakyatnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَ كِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah itu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan Tuhan yang Maha Pemurah. Kedua tangannya adalah kanan. Mereka itu adalah orang-orang yang berbuat adil dalam kekuasaan mereka, keluarga mereka, dan apa-apa yang dilimpahkan kepada mereka.” (H.R. Muslim)

B.     Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang al-Akhwal asy-Syakhshiyyah

لَا يَصِحّ الوَصِيَّةُ بِكُلِّ المَالِ

“Tidak sah wasiat dengan keseluruhan harta.”

Maksud dari kaidah ini yaitu tidak diperkenankan berwasiat dengan seluruh hartanya karena dalam hadis disebutkan bahwa batas maksimal mewasiatkan harta yang dimiliki sebanyak sepertiga dari keseluruhan harta. Diceritakan dalam sebuah hadis, Ketika Sa’ad bin Abi Waqash meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mewasiatkan dua pertiga hartanya beliau berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata, “Setengahnya”. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam pun berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata lagi, “Kalau begitu sepertiganya”. Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“Sepertiga. Sepertiganya itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

C.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Muamalah

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman dengan menarik manfaat (oleh kreditor) adalah sama dengan riba.”

Maksud dari kaidah ini yaitu apabila terjadi pinjam-meminjam, maka berapa pun uang yang dipinjam maka harus dibayarkan sesuai dengan seberapa banyak yang dipinjam, yang meminjamkan tidak boleh meminta lebih uang yang dipinjamkan karena ini termasuk unsur riba, kecuali yang meminjam uang tersebut memberikan uang lebih kepada yang meminjamkan sebagai bentuk terima kasih. Misalnya, Ahmad meminjam uang dengan Zaid sebesar Rp. 50.000,00, maka Zaid tidak boleh menyuruh Ahmad mengembalikan uang yang ia pinjamkan lebih dari itu, kecuali Ahmad dengan inisiatifnya mengembalikan lebih uang kepada Zaid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 275).

 

D.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Ibadah

الإِيْثَارُ فِيْ القُرْبِ مَكْرُوهٌ وَ فِيْ غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ

“Mengutamakan orang lain pada urusan ibadah adalah makruh dan dalam urusan selainnya adalah disenangi.”

Maksud dari kaidah ini yaitu sebaiknya kita lebih mengutamakan diri sendiri dalam perkara ibadah daripada orang lain karena ini adalah termasuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Contoh, apabila saat kita ingin melaksanakan salat berjamaah, di depan kita ada saf kosong, maka sebaiknya kita yang mengisinya, jangan sampai kita menyuruh orang lain untuk mengisi saf tersebut, karena semakin di depan safnya maka semakin baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 148).

 

Oleh: Muhammad Torieq Abdillah, Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin