Pengikut

Jumat, 04 Desember 2020

Mengenal Kaidah-Kaidah Fikih

 

sumber foto: http://makalahirfan.blogspot.com

Salah satu disiplin ilmu dalam Islam di dalam bidang hukum yang masih jarang dipelajari atau diketahui oleh umat Islam sendiri adalah Kaidah-kaidah Fikih/Hukum Islam atau yang dikenal dengan nama al-Qawa’id al-Fiqhiyyah. Umat Islam hanya terbiasa dengan Tafsir Alquran, Hadis, Fikih, Usul Fikih, Tasawuf, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Padahal Kaidah-kaidah Fikih/Hukum Islam sangat penting dipelajari karena ini merupakan hasil buah pemikiran para ulama terdahulu, terlebih ulama empat mazhab.

 Walaupun dalam pembuatannya terdapat perbedaan, misalnya ulama dari mazhab Hambali membuat Kaidah-kaidah Fikih ketika semua Masail Fiqh (Permasalahan-permasalahan Fikih) sudah diketahui dan terjawab, baru mereka membuat Kaidah-kaidah Fikih tersebut. Lain halnya dengan mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, mereka terlebih dahulu membuat Kaidah-kaidah Fikih, walaupun ada maupun tidak ada Masail Fiqh tersebut, mereka tetap membuatnya. Maka dari itu tidak heran apabila ada Kaidah-kaidah Fikih tersebut tidak ada contohnya.

Kaidah-kaidah Fikih atau al-Qawa’id al-Fiqhiyyah yang berasal dari kata al-Qawa’id yang merupakan bentuk jamak dari kata qaidah (kaidah) dan al-Fiqhiyyah merupakan bentuk jamak dari fiqh (pemahaman/fikih/hukum Islam). Secara etimologi al-Qawa’id al-Fiqhiyyah yaitu dasar-dasar atau asas-asas yang berkaitan dengan masalah-masalah atau jenis-jenis fikih. Biasanya Kaidah-kaidah Fikih lebih banyak dipelajari bagi mereka yang berada di Fakultas Syariah, namun tidak menjadikan kita tidak mengetahui tentang Kaidah-kaidah Fikih.

Pada dasarnya, mayoritas ulama menetapkan ada lima kaidah utama (al-Qawa’id al-Khamsah) yang mana kemudian di dalam lima kaidah utama tersebut terpecah lagi menjadi Kaidah-kaidah Fikih cabang yang jumlahnya menjadi ratusan kaidah. Selain itu, ada banyak pembagian bidang kaidah sesuai dengan cabang-cabang ilmu fikih, seperti Siyasah (Politik), al-Ahwal asy-Syakhshiyyah (Hukum Keluarga), Muamalah (Hukum Ekonomi atau Transaksi), Jinayah (Hukum Pidana), Qadha (Hukum Peradilan atau Acara), dan Ibadah. Namun, dalam tulisan ini penulis akan membahas Kaidah-kaidah Fikih dalam bidang Siyasah, al-Akhwal asy-Syakhshiyyah, Muamalah, dan Ibadah saja beserta penjelasan dan contohnya.

A.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Siyasah

تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعيَةِ مَنُوطٌ بِالمَصْلَحَة

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya tergantung kepada kemaslahatan.”

Maksud dari kaidah di atas yaitu seorang pemimpin harus membuat peraturan sesuai dengan masalahat yang dapat diterima rakyatnya dan tidak membuat peraturan sesuai dengan nafsunya yang dapat memudaratkan rakyatnya. Misalnya, pemerintah membuat kebijakan bagi siapa saja yang rumahnya terkena lahan hijau, maka rumahnya akan digusur. Pemerintah tidak hanya membuat kebijakan untuk menggusur rumah rakyat tersebut, tetapi juga mengganti rugi berupa uang sesuai dengan harga rumah tersebut dan mencarikan tempat gantian yang layak bagi mereka. Seorang pemimpin harus berbuat adil kepada rakyatnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَ كِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah itu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan Tuhan yang Maha Pemurah. Kedua tangannya adalah kanan. Mereka itu adalah orang-orang yang berbuat adil dalam kekuasaan mereka, keluarga mereka, dan apa-apa yang dilimpahkan kepada mereka.” (H.R. Muslim)

B.     Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang al-Akhwal asy-Syakhshiyyah

لَا يَصِحّ الوَصِيَّةُ بِكُلِّ المَالِ

“Tidak sah wasiat dengan keseluruhan harta.”

Maksud dari kaidah ini yaitu tidak diperkenankan berwasiat dengan seluruh hartanya karena dalam hadis disebutkan bahwa batas maksimal mewasiatkan harta yang dimiliki sebanyak sepertiga dari keseluruhan harta. Diceritakan dalam sebuah hadis, Ketika Sa’ad bin Abi Waqash meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mewasiatkan dua pertiga hartanya beliau berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata, “Setengahnya”. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam pun berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata lagi, “Kalau begitu sepertiganya”. Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“Sepertiga. Sepertiganya itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

C.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Muamalah

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman dengan menarik manfaat (oleh kreditor) adalah sama dengan riba.”

Maksud dari kaidah ini yaitu apabila terjadi pinjam-meminjam, maka berapa pun uang yang dipinjam maka harus dibayarkan sesuai dengan seberapa banyak yang dipinjam, yang meminjamkan tidak boleh meminta lebih uang yang dipinjamkan karena ini termasuk unsur riba, kecuali yang meminjam uang tersebut memberikan uang lebih kepada yang meminjamkan sebagai bentuk terima kasih. Misalnya, Ahmad meminjam uang dengan Zaid sebesar Rp. 50.000,00, maka Zaid tidak boleh menyuruh Ahmad mengembalikan uang yang ia pinjamkan lebih dari itu, kecuali Ahmad dengan inisiatifnya mengembalikan lebih uang kepada Zaid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 275).

 

D.    Kaidah-kaidah Fikih dalam Bidang Ibadah

الإِيْثَارُ فِيْ القُرْبِ مَكْرُوهٌ وَ فِيْ غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ

“Mengutamakan orang lain pada urusan ibadah adalah makruh dan dalam urusan selainnya adalah disenangi.”

Maksud dari kaidah ini yaitu sebaiknya kita lebih mengutamakan diri sendiri dalam perkara ibadah daripada orang lain karena ini adalah termasuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Contoh, apabila saat kita ingin melaksanakan salat berjamaah, di depan kita ada saf kosong, maka sebaiknya kita yang mengisinya, jangan sampai kita menyuruh orang lain untuk mengisi saf tersebut, karena semakin di depan safnya maka semakin baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 148).

 

Oleh: Muhammad Torieq Abdillah, Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin


1 komentar: