Pengikut

Rabu, 09 Desember 2020

Surau Rang Caniago (Part 2)

 

Aku belum memulai percakapan apapun dengan Uwo Lina selain perkenalan tadi siang. Ia nampak cukup pendiam di usia tuanya, atau mungkin memang tak banyak bicara. Yang keluar dari mulutnya hanya jawaban dari pertanyan-pertanyaan nenek. Atau mungkin juga karena pertemuan yang baru hitungan jam membuat canggung.

Gaek Rajin nampak sangat lesu di usia tuanya, tapi itu tak menghalanginya untuk mengenali nenek, adik satu-satunya. “Pertemuan mengharukan layaknya drama?” mungkin itu yang dapat menjelaskan semuanya. Hanya air mata tanpa kata. Ada rasa bersalah yang terpancar pada masing-masing mata, namun bahagia juga terpancar jelas. Sekarang aku benar-benar penasaran apa yang sebenarnya terjadi.

Aku memilih keluar dan memeriksa notifikasi di handphone. Duduk di beranda depan dengan lampu temaram, rumah ini sangat tua. Aku yakin ada banyak sekali serangga yang hidup di dalam papan dan tiang penyangga. Bentuknya seperti rumah adat Minang kebanyakan, Rumah Gadang dengan atap gonjong. Persis seperti atap rumah makan Padang di Ibukota yang kerap jadi langganan keluarga.

Tak ada notifikasi penting, hanya group chat yang sangat ramai. Ya, aku memang sedikit abai pada benda pipih itu sejak landing tadi pagi. Setidaknya lebih baik sekarang memeriksa percakapan tidak penting dari pada bergabung dengan haru biru nenek. Aku bahkan tidak mengerti dengan kosa kata yang nenek keluarkan saat berbicara dengan Gaek Rajin. “Mungkin bahasa orang terdahulu memang lebih rumit dipahami” batinku yang kala itu hanya mendengar.

“Kenapa indak di dalam saja?” Tanya Uwo Lina sambil duduk di sampingku. Aksen Minang Uwo Lina kental sekali dengan pelafalan huruf  “e” yang seolah ditekan. Sangat lucu jika sesekali mendengarnya.

“Cari sinyal Wo. Lagian juga nggak paham sama percakapan nenek.” Aku mengulas senyum tipis basa -basi untuk menunjukkan sopan santun.

“Bahasa urang tuo memang seperti itu. Indak seperti Bahasa Minang sekarang yang banyak samanya dengan Bahasa Indonesia.” Ternyata Uwo Lina cukup “melek” perkembangan bahasa. “Berapa umurmu nak?” sambung Uwo Lina.

“Dua puluh tahun Wo, dua bulan lagi.” Jawabku seadanya.

“Berapa orang saudara?”

“Anak tunggal Wo.” Uwo Lina sedikit murung mendengar jawabanku.

“Berarti Sari terlambat menikah.” Sambung Uwo Lina dengan gelak tawa di ujungnya. “Tapi ndak baa, asalkan anaknyo padusi[1].” Uwo Lina menangkup wajahku sambil tersenyum dengan mata yang berkaca. Tuturnya lebih seperti gumaman. “Kaulah nanti penerus generasi Caniago yang ada Kia. Penerus keluarga besar nenek kau Kia, penerus satu-satunya.”

Aku sedikit bingung dengan pernyataan Uwo Lina barusan. Uwo Lina bahkan punya tiga orang anak, tapi kenapa aku penerus satu-satunya?

“Di Minang, anak perempuan adalah penerus. Sementara Uwo keterununan Gaek kau, keturunan laki-laki. Ndak bisa mewarisi.” Jawab Uwo seolah paham dengan kebingunganku.[2]

“Wo, kenapa Nenek nggak pernah pulang? Padahal kan masih punya saudara?” Aku dapat melihat perubahan ekspresi Uwo Lina dengan mudah. Lengkung senyum yang tadinya ditarik ke atas, sekarang mulai mengendur ke bawah. Uwo Lina jelas kaget dengan pertanyaanku. Tapi tentu saja aku lebih terkejut dengan ekspresi Uwo Lina. Perasaan takut yang kusembunyikan semakin besar.

“Kia, di dunia ini ada hal yang aneh dan ndak mungkin tapi terjadi. Ada hal-hal yang anak sebesar kau sekarang ini ndak akan paham. Kalau Uwo cerita, takutnya justru membuat salah paham. Lebih baik tanyakan langsung ke Nenek kau, Uwo tidak berani cerita jika Tek Minah belum cerita.”

Jawaban Uwo seketika membuatku tertunduk layu, perasaan cemas dan takut semakin besar. Sebenarnya apa susahnya memberitahu dan membuatku berhenti menduga-duga. Aku semakin pusing karena nenek seperti akan mengingkari janjinya. Seolah belum mau bercerita padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jelas aku bukan orang yang sabar. Satu minggu kukorbankan untuk menemani nenek dan mengambil izin kuliah tapi sekarang aku belum mendapatkan apapun. Enam hari lagi waktu yang kuberikan pada nenek untuk berkata jujur. Jika tidak mungkin lebih baik kembali saja, aku sungguh benci rasa penasaran.

“Lina!” Suara teriakan nenek memutus lamunanaku dan Uwo Lina. Kami bergegas menyusul ke dalam. Sebenarnya ada perasaan kesal saat melihat nenek yang justru malah mengabaikanku dan tak menepati janji. Namun rasa kesal itu sirna saat kulihat Gaek Rajin, yang baru kulihat dua jam lalu terbaring di lantai. Pukul delapan lebih lima belas menit Gaek rajin menghembuskan napas terakhir. Meninggalkan nenek dengan isakan pelan yang nyaris tak bersuara. Air mata berlomba-lomba turun dari kelopak matanya. Nenek tertunduk menatap wajah Gaek Rajin yang sedikit tersenyum, seolah kedatangan nenek adalah penantian terakhirnya.

Di sampingku Uwo Lina juga mengucurkan air mata lalu berlari ke rumah satunya untuk memanggil sang suami yang telah pulang maghrib tadi. Dan di sinilah aku mematung dengan kesedihan yang entah menjalar dari mana. Semua pikiran burukku melambung entah kemana. Mungkin rasa penasaranku memang harus lebih sabar lagi

 

Bersambung...

oleh: Miang

Baca part 1 di https://www.cssmorauinsuka.net/2020/10/surau-rang-caniago.html?m=1

[1]“Tapi tidak apa-apa asalkan anaknya perempuan”

[2]Minangkabau merupakan suku yang menggunukan garis keturunan ibu (matrilinial). Sehingga kewarisan diturunkan kepada keturunan perempuan. Sukupun diwariskan dari ibu, sehingga anak mendapatkan suku yang sama dengan sang ibu.


0 komentar:

Posting Komentar