Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Sabtu, 23 Oktober 2021

MUSYARAKAH PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’AN

Zaim Mahmudy
UIN Sunan Kalijaga yogyakarta
Mrzee1507@gmail.com 

    Musyarakah merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih dalam menjalankan usaha yang mana masing-masing pihak akan menyertakan modalnya sesuai dengan kesepakatan. Pembagian hasil atas usaha bersama akan diberikan sesuai kontribusi dana atau sesuai kesepakatan bersama sebelumya (Ismail:2011). Kasmir(2003) menuturkan bahwa musyarakah merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak memberikan dana atau jasa dengan kesepakatan bahwa nantinya keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan yang sudah disepakati. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa musyarakah merupakan akad kerja sama diantara para pemilik modal yang mencampurkan modal mereka dengan tujuan mencari keuntungan. Pembagian hasil atas usaha tersebut diberikan sesuai keuntungan yang diperoleh dan/atau kesepakatan bersama.

    Menurut perspektif ilmu fiqh dalam Kitab as-Sailul Jarrar III, Imam al-Syaukani berpendapat bahwa Syirkah syariyah terwujud (terealisasi) atas dasar sama-sama ridha di antara dua orang atau lebih yang masing-masing dari mereka mengeluarkan modal dalam ukuran yang ditentukan. Kemudian modal bersama itu dikelola untuk mendapatkan keuntungan dengan syarat masing-masing di antara mereka akan mendapat keuntungan sesuai dengan besarnya saham yang diserahkan kepada syirkah tersebut. Sejalan dengan itu, Al-qur’an menyebutkan bahwa Musyarakah merupakan salah satu kegiatan ekonomi (muamalah) yang dapat dibenarkan dalam Islam sesuai dengan Firman Allah Swt:

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْخُلَطَآءِ لَيَبْغِى بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ فَٱسْتَغْفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.(QS. Al-Shaad: 24)

Dalam ayat tersebut, lafal ٱلْخُلَطَآءِ (al-khulaha) diartikan syaruka, yakni orang-orang yang mencampurkan harta mereka untuk dikelola bersama. Menurut al-Suyuthi dalam Kitab Tafsir Jalalain menerangkan bahwa:

Daud berkata, "Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu) dengan maksud untuk menggabungkannya (untuk ditambahkan kepada kambingnya. Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu) yakni orang-orang yang terlibat dalam satu perserikatan (sebagian mereka berbuat lalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini") huruf Ma di sini untuk mengukuhkan makna sedikit. Lalu kedua malaikat itu naik ke langit dalam keadaan berubah menjadi wujud aslinya seraya berkata, "Lelaki ini telah memutuskan perkara terhadap dirinya sendiri." Sehingga sadarlah Nabi Daud atas kekeliruannya itu. Kemudian Allah Swt. berfirman, (Dan Daud yakin) yakni merasa yakin (bahwa Kami mengujinya) Kami menimpakan ujian kepadanya berupa cobaan dalam bentuk cinta kepada perempuan itu (maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur rukuk) maksudnya bersujud (dan bertobat.)

Dengan demikian dapat juga dikatakan bahwa musyarakah adalah sistem ekonomi Islam yang pada intinya merupakan salah satu usaha untuk keberlangsungan hidup bagi manusia. Hal ini juga bisa dijadikan sebagai solusi dari perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi yang merubah sistem ekonomi manusia yang cenderung menuntut agar mengikuti kepada arus perkembangan tersebut.

    Musyarakah sekilas merupakan akad yang didasarkan atas prinsip-prinsip syariah. Tetapi tentu belum bisa dikatakan bahwa akad ini telah memenuhi kualifikasi sebagai bagian dari akad-akad syariah. Karena, saat ini banyak sekali bermunculan bank dengan label syariah namun sebenarnya tidak menerapkan sistem tersebut. Contohnya, pada praktik musyarakah di dalam perbankan syariah masih terdapat perbedaan dengan musyarakah perspektif fiqh. Ini dapat dilihat dari beberapa unsur seperti; modal, manajemen, masa berlaku kontrak, jaminan, dan bagi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musyarakah yang dilaksanakan di perbankan syariah belum sesuai dengan konsep fiqh sebab di dalamnya masih terdapat unsur riba. Hal itu dilandaskan bahwa pada faktanya penetapan nominal uang yang harus disetorkan di dalam perbankan syari’ah sudah ditentukan di awal transaksi, walaupun masih belum diketahui apakah usaha yang akan dilakukan oleh nasabah nantinya mengalami keuntungan atau kerugian. Sementara apabila usaha yang dilakukan nasabah terjadi kerugian maka hanya akan ditanggung oleh pihak nasabahnya saja. Selain itu, di dalam praktiknya juga masih terdapat jaminan dalam akad musyarakah.

    Berdasakan keterangan di atas, dapat kita ketahui bahwa musyarakah juga dimaksudkan sebagai alternatif pembiayaan untuk modal kerja yang mana dana dari bank merupakan bagian dari modal usaha nasabah dan keuntungannya dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati. Manfaat yang ditimbulkan dari akad ini adalah; pertama, lebih menguntungkan karena berdasarkan prinsip bagi hasil; dan kedua, fasilitas yang diberikan adalah mekanisme pengembalian pembiayaan yang fleksibel (bulanan atau sekaligus di akhir periode). Oleh karena itu, kerjasama bagi hasil dapat dijalankan dengan memanfaatkan musyarakah untuk mencari solusi terbaik dalam memulai kolaborasi bisnis pada aktivitas muamalah. Sehingga aktivitas ekonomi riil dapat dijalankan dan sekaligus menghindarkan diri dari riba dan transaksi terlarang lainnya.



Rabu, 20 Oktober 2021

Dalam Rangka Memperkenalkan Organisasi kepada Mahasantri Baru, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Acara MESRA

 


    Minggu (17/10)-CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menggelar acara bertajuk Mengenal CSSMoRA (MESRA) bertempat di Taman Tempuran Cikal, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY. Acara tersebut merupakan rutinitas tahunan yang diselenggarakan oleh pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dalam rangka mengenalkan seluk-beluk organisasi CSSMoRA yang berada di dalam Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), sekaligus untuk saling memperkenalkan dan menguatkan relasi antara mahasantri baru dengan mahasantri lama. Sebagai akibat dari masih berlangsungnya masa pademi, acara Mengenal CSSMoRA diselenggarakan secara luring oleh sebagaian besar anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan mahasantri PBSB angkatan 2021 sebagai calon anggota baru, sementara beberapa diantaranya mengikuti secara virtual melalui Gmeet dikarenakan masih berada di daerah asal. Meskipun begitu, dalam acara tersebut panitia penyelenggara turut menghadirkan saudara Ahmad Fakhrurrozi sebagai pemateri. Beliau merupakan demisioner pegurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang juga mantan ketua umum CSSMoRA Nasional periode 2020/2021. 

                Acara dimulai pada pukul 08:30 WIB dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang kemudian dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA. Kemudian selanjutnya adalah sambutan oleh ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2020/2021, Hamada Hafidzu. Acara kemudian dilanjutkan dengan acara inti, yaitu pemberian materi oleh saudara Ahmad Fakhrurrozi. Beliau bepesan bahwa slogan CSSMoRA yang berbunyi ‘loyalitas tanpa batas’ tidak hanya sebuah slogan, akan tetapi harus bisa diselaraskan dengan praktik-praktik di dalam kehidupan berorganisasi. Beliau juga berpesan untuk tidak hanya mengenal teman-teman dari CSSMoRA atau PBSB tingkat perguruan tinggi saja, melainkan untuk mengenal seluruh anggota CSSMoRA atau mahasantri PBSB nasional, khususnya yang seangkatan. Acara Mengenal CSSMoRA itu kemudian ditutup dengan pelantikan dan peresmian anggota baru CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga oleh saudara Hamada Hafidzu selaku ketua umum organisasi tingkat perguruan tinggi.

                Setelah acara MESRA selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan berbagai macam kegiatan perlombaan yang juga ditujukan untuk semakin mengeratkan relasi dan solidaritas antara mahasantri PBSB angkatan 2019 yang merupakan pengurus aktiv CSSMoRA dengan mahasantri baru angkatan 2021. Kegiatan tersebut berlangsung hingga minggu sore yang kemudian ditutup dengan do’a dan sesi foto bersama.

 

Reporter: Azharin saja

Minggu, 10 Oktober 2021

Tradisi Mandi Safar dalam Masyarakat Bugis

            Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki beraneka ragam budaya dan tradisi yang berbeda-beda pada setiap daerahnya. Keragaman budaya dan tradisi tersebut menjadi pendorong untuk meningkatkan hubungan emosional antara suatu wilayah dengan wilayah yang lain. Pada pelestariannya, budaya dan tradisi yang dilestarikan antar generasi tersebut telah melahirkan proses transmisi ilmu pengetahuan yang berupa doktrin maupun prakteknya. Ilmu pengetahuan inilah yang mengikat emosional di antara masyarakat untuk terus melestarikan tradisi di daerahnya.

            Istilah tradisi dalam islam dikenal dengan kata 'urf yang secara terminologi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang diyakini oleh mayoritas orang baik berupa ucapan ataupun perbuatan yang sudah berulang-ulang sehingga dapat tertanam di dalam jiwanya. Tradisi islam yang terdapat di Indonesia merupakan hasil dari proses perkembangan agama dalam mengatur penganutnya untuk melakukan aktivitas dan interaksi sehari-hari. Di sisi lain, tradisi islam cenderung memberikan keringanan dan kemudahan sehingga tidak memaksa pemeluknya di luar batas kemampuannya. Maka dari itu tidak jarang jika proses perkembangan dan pengamalannya masih dapat kita saksikan hingga saat ini.

            Sebagai contoh tradisi islam yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Mandi Safar. Tradisi tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang masih terlestari di dalam kehidupan masyarakat Bugis. Selain dengan maksud untuk melakukan pembersihan diri atau yang dikenal sebagai thaharah yang juga merupakan salah satu perintah dari agama, Mandi Safar juga merupakan ritual yang dilaksanakan sebagai bentuk permohonan pada Allah  Swt. agar dijauhkan dari segala  bencana. Konon, tradisi Mandi Safar ini merupakan pengaruh dari budaya masyarakat Arab zaman dahulu yang beranggapan bahwa Safar  merupakan bulan penuh bencana. Biasanya, mandi safar ini dilakukan di sungai dengan membaca beberapa ayat al-Qur’an, seperti Q.S. Yasin ayat 58, ash-Shafat ayat 79, ash-Shafat  ayat 109, ash-Shafat ayat 120, ash-Shafat  ayat 130, dan al-Qadar ayat 5.

            Dengan demikian, berdasarkan tradisi ini kita bisa melihat bahwa sebenarnya agama selalu terkait di dalam berbagai macam tradisi dan menjadi sebuah ekspresi budaya tentang keyakinan seseorang terhadap sesuatu yang suci tentang ungkapan keimanan terhadap pencipta-Nya. Apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai pergulatan dalam dinamika sejarah umat beragama itu sendiri.

 

Kontributor : Zaim Mahmudy

Kamis, 07 Oktober 2021

Dalam Rangka Mengesahkan Program Kerja, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Musyawarah Kerja (Musyker) Periode 2021/2022.

 

            Sabtu(25/09)-CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar acara Musyawarah Kerja (Musyker).  Penyelenggaraan acara tersebut merupakan langkah terakhir untuk penetapan program kerja Kabinet Totalitas yang dipimpin oleh Hamada Hafidzu selaku ketua organisasi CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2020-2021. Acara tersebut dihadiri oleh banyak peserta yang merupakan anggota pengurus CSSMoRA periode 2021/2022, ketua umum CSSMoRA nasional  periode 2021/2022, pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), serta demisioner pengurus dan alumni CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara tersebut berlangsung selama 1 hari, yakni dimulai dari Sabtu pagi pukul  08.00 WIB sampai dengan 16.30 WIB. secara virtual yang bertempat di Lamara Homestay.

            Acara dimulai pada pukul 08.20 WIB yang dibuka oleh pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga Ahmad Mujtaba, kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang dibawakan oleh ketua umum CSSMoRA nasional Dani Taufikkurahman dan ketua CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Hamada Hafidzu. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengesahan tata tertib sidang musyawarah kerja yang dipimpin presidium sementara Hamada Hafidzu. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan sidang musyawarah kerja dan pemaparan program kerja oleh masing-masing departemen yang dipimpin oleh presidium tetap Pradika Yoga Pratama. Pemaparan program kerja diawali oleh departemen PSDM dan diakhiri dengan pemaparan program kerja dari departemen BPH. Selanjutnya, beragam kritik dan saran disampaikan oleh demisioner pengurus dan alumni CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Mereka berpesan kepada para pengurus baru untuk selalu konsisten dalam menjalankan program kerja yang telah disahkan bersama.

 

Kontributor: Pradika Yoga Pratama

Dalam Rangka Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Program Kerja, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Musyawarah Besar Sekaligus Pelantikan Kepengurusan Baru Periode 2021/2022

 

Senin (13/09)-Badan Pengurus Harian (BPH) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar acara Musyawarah Besar (Mubes) dan pelantikan kepengurusan baru. Penyelenggaraan acara tersebut merupakan program kerja terakhir dari kabinet yang dipimpin oleh Andi Fatihul Faiz selaku ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2020/2021 . Acara tersebut berlangsung selama dua hari, yakni dimulai dari hari Sabtu (11/09) hingga hari Ahad (12/09) secara virtual melalui zoom meeting. Adapun peserta dari acara ini merupakan anggota aktif CSSMoRA, alumni dan demisioner, pengelola PBSB, serta perwakilan dari CSSMoRA nasional.

Pada hari pertama, acara dimulai pada pukul 08.15 WIB hingga berlanjut sampai malam hari yang berupa penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dari para pengurus. Laporan tersebut dimulai dari divisi PSDM dan diakhiri dengan divisi BPH sebelum ditutup dengan pembacaan konsiderans pengesahan dari LPJ yang telah dipaparkan tersebut. Pada hari kedua, acara Mubes dilanjutkan dengan pelantikan pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2021/2022 pada pukul 13.30 WIB yang diketuai oleh Hamada Hafidzu. Selanjutnya, berbagai sambutan dan ucapan selamat pun disampaikan baik dari pengelola PBSB oleh Ahmad Mujtaba S.Th.i., wakil ketua umum CSSMoRA nasional oleh Rozkit Bouti, serta demisioner CSSMORA UIN Sunan Kalijaga oleh Andi Fatihul Faiz. Waketum CSSMoRA Nasional mengungkapkan bahwa kepengurusan kali ini harus benar-benar siap dengan berbagai tantangan di depan yang tentunya sangat berat. Kemudian Andi Fatihul Faiz, selaku demisioner CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dalam sambutannya mengungkapkan rasa terima kasih dan permohonan maaf mewakili seluruh kabinetnya. Sebelum acara ditutup, Hamada Hafidzu sebagai pemegang kepemimpinan yang baru mengungkapkan bahwa sejatinya di dalam oganinasi yang terpenting adalah komunikasi dan chemistry agar terciptanya organisasi yang mumpuni untuk mengabdi sebagai seorang santri.

Kontributor : Septiana Melala Gayo

Sabtu, 11 September 2021

Majalah Sarung IX 2021


Untuk Majalah Sarung IX 2021 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Majalah Sarung IX 2021


Kamis, 24 Juni 2021


Untuk Buletin Sarung Edisi Oktober 2020 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi Oktober 2020


Selasa, 22 Juni 2021

Teori Wahdat al Wujud

 

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekurangan. Beribadah merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Di dalam Q.S Al-adiyat (56) menjelaskan bahwa seluruh makhluk di alam semesta diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Maka dari itu  jalan yang harus ditempuh manusia adalah berusaha untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Terdapat berbagai jalan yang dapat dilakukan manusia untuk beribadah, diantaranya dengan cara mendalami ilmu Filsafat dan Tasawuf. Dengan adanya filsafat dan tasawuf, manusia mampu memahami keberadaan Allah SWT sehingga dapat mengantarkan manusia menuju jalan kebenaran. Tasawuf sendiri merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang bagaiman cara manusia untuk menghindari sikap cinta kepada dunia. Istilah ini sering ditujukan kepada orang-orang sufi dan zuhud. Sedangkan filsafat sendiri merupakan jembatan untuk mendalami (logika) atau mengenal hakikat Allah SWT.

Filsafat dan Tasawuf mempunyai peran penting dalam ber-taqarrub ilallah. Keduanya sama-sama mempelajari bagaimana cara manusia dapat merasakan kehadiran sang pencipta di setiap perjalanannya. Dalam perkembanganya, tasawuf terbagi menjadi berbagai aliran, salah satunya yaitu Tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi sendiri merupakan suatu ajaran ma’rifatullah (tasawuf) yang berdasarkan nalar atau logika (filsafat). Tasawuf falsafi juga bisa dimaknai dengan tasawufnya orang filsafat, karena mengandung pemikiran orang-orang filsafat di dalamnya.

Konsep tasawuf falsafi muncul karena adanya pemahaman tasawuf yang beraneka ragam. Sehingga mengakibatkan para sufi berupaya untuk mengungkap ajaran tersebut, seperti halnya Syeikh Muhyi al-Din Muhammad Ibnu Ali yang dikenal dengan nama Ibnu Arabi[1]. Ibnu arabi sendiri merupakan tokoh yang dikenal dengan konsep tasawuf dan filsafatnya.

Konsep tasawuf dan filsafat ibnu arabi memberikan dampak yang cukup signifikan dalam dunia keilmuan, salah satu sumbangsinya ialah teori wahdat al wujud (tasawuf falsafi) yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi. Sebelum membahas tentang teori wahdat al wujud, disini penulis akan sedikit menjelaskan mengenai pemikiran metafisika Ibnu Arabi. Menurutnya, Allah SWT merupakan wujud yang hakiki, karena keberadaan-Nya tidak melalui bantuan dari pihak lain, serta  wujud Allah SWT merupakan dzat-Nya sendiri. Kemudian hakikat universal terdapat pada Tuhan dan alam semesta. Yang artinya tiada permulaan dan tiada yang mendahului wujudnya Allah SWT (qidam). Selanjutunya, jagat raya tersusun dari sesuatu yang ada di bumi dan langit, dan sesuatu yang berada di dalam keduanya, tak terkecuali manusia. Kemudian asumsi yang terakhir adalah manusia merupakan khalifah Allah SWT di muka bumi (mikro kosmos)[2].

Konsep wahdat al wujud tercipta berdasarkan logika dan perasaan sehingga dapat dirasakan oleh semua orang, baik sufi maupun tidak. Wahdat al wujud sendiri merupakan teori yang menegaskan bahwa tiada sesuatu yang wujud selain wujud Allah SWT, wujud hakiki semata-mata hanya milik-Nya[3]. Sedangkan pengertian secara terminologi yaitu pada hakikatnya manusia dan tuhan menyatu menjadi satu kesatuan yang wujud. Makna terminologi tersebut dianggap sulit untuk dimengerti oleh masyarakat yang rendah dalam pemahaman agamanya, sehingga menimbulkan banyak kontroversi dikalangan sufisme.

Pemahaman sufisme dianggap menyimpang serta dapat mengakibatkan manusia terjerumus ke dalam faham polytheisme, yaitu menganggap bahwa tuhan itu banyak.  Padahal wahdat al wujud yang dimaksud oleh Ibnu Arabi yaitu wahdat al wujud dalam bentuk hakikat, bukan juziyat. Bahwa secara hakikat, semua yang ada di alam semesta ini tidak berwujud (tidak ada wujudnya). Sebagaimana cahaya yang mampu bersinar dan dapat dilihat oleh indra penglihatan kita. Sesungguhnya cahaya tersebut tidak ada. Cahaya tersebut merupakan wujud Allah yang telah dimanifestasikan, sehingga memancarkan cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia (wujud).

Penulis: Ulfatun



[1] Zulkifli, “Tasawuf falsafi ibnu arabi”, (https://zulkifli-sekarbela.blogspot.com/2013/02/tasawuf-falsafi-ibnuarabi, diakses pada 18 November 2020, 09:32)

[2] Abd. Halim rofi’ie, “wahdat al wujud dalam pemikiran ibnu arabi”, Ulul Alban Vol. 13 No. 2 tahun 2010

[3] M. robith fuadi, “memahami tasawuf ibnu arabi dan ibnu al farid”, Ulul Albab Vol. 14 No. 2 tahun 2013

Pro dan Kontra Pilkada Serentak 2020 dalam Analisis Kaidah Fikih Tentang Kemudaratan

    Sebagian daerah di negara kita akan melaksanakan pilkada serentak pada tanggal 9 Desember 2020 nanti di tengah pandemi Covid-19. Tentu saja pelaksanaan pilkada serentak tahun ini sangat berbeda dari sebelumnya. Pasalnya negara kita masih diselimuti dengan pandemi Covid-19 yang mana belum ada penurunan yang begitu berarti. Masih banyak acara besar yang ditunda bahkan dibatalkan akibat pandemi Covid-19. Namun yang sedikit mengherankan, kenapa pemerintah tetap melaksanakan pilkada serentak tahun ini? Padahal acara besar yang lainnya seperti kompetisi sepak bola yang mana panitia dari kompetisi sepak bola menjamin kalau semua pertandingan yang dimainkan tidak akan didatangi oleh suporter ke stadion demi terhindarnya kasus penularan Covid-19. Hal ini yang menimbulkan kecemburuan pada pecinta sepak bola tanah air terhadap dilaksanakannya pilkada serentak tahun ini. Terlepas dari itu, terdapat pro dan kontra tentang pelaksanaan pilkada serentak apabila kita analisis dengan kaidah fikih tentang kemudaratan. Dalam beberapa kaidah turunan/cabang tentang kemudaratan, kita bisa lihat dan sikapi ke arah mana kaidah-kaidah yang akan disebutkan nantinya mengarah, apakah pro terhadap pilkada serentak, ataukah justru kontra.

Kaidah pertama, اَلضَّرَرُ يُزَالُ, “Kemudaratan dihilangkan sebisa mungkin.” Apabila kita kaitkan dengan pelaksanaan pilkada serentak tahun ini, maka kita harus menghilangkan mudarat semaksimal mungkin. Mudarat apa yang dimaksud? Yaitu menghindari terjadinya kerumunan atau berkumpulnya banyak orang saat melaksanakan pilkada serentak tersebut. Jadi, hal yang harus diberlakukan saat berlangsungnya pemilihan nanti, pemerintah harus mengatur ketat tentang salah satu komunikasi politik yang sering digunakan oleh calon legislatif atau eksekutif tersebut, yaitu kampaye. Pemerintah harus ekstra kerja keras agak tidak terjadi kerumunan saat perlaksanaan kampaye dengan mengutamakan jaga jarak dan menggunakan masker. Namun, apabila kerumunan tidak bisa dihindari dan masyarakat mengabaikan apa yang diatur oleh pemerintah, maka solusi yang ditawarkan bisa melakukan kampanye melalui media massa dan media elektronik. Begitu juga saat di TPS nanti, masyarakat harus dibatasi jumlahnya saat mendatangi TPS dengan cara membagi waktu pemilihan. Sesi pertama di pagi hari, sesi kedua di siang hari, dan sesi ketiga di sore hari. Jadi, kaidah ini pro terhadap pelaksanaan pilkada serentak tahun ini.

            Kaidah kedua, اَلضَّرَرُ يُدْفَعُ عَلَى قَدرِ الْإِمْكَانِ, “Kemudaratan dihilangkan semaksimal mungkin meskipun tidak seluruhnya hilang.” Kaidah ini masih berkaitan dengan kaidah pertama, yaitu ketika kampanye dilaksanakan dan kerumunan tidak bisa dihindarkan, maka setidaknya masyarakat tetap menjaga jarak, tidak saling berdekatan, dan tetap menggunakan masker. Jadi, kaidah ini masih pro terhadap pelaksanaan pilkada serentak tahun ini.

            Kaidah ketiga, دَرْءُ الْمفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ, “Menolak kemudaratan lebih diutamakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan.” Kaidah ini berbicara ketika kemudaratan dan kemaslahatan berada dalam satu waktu, maka lebih baik mengutamakan untuk menolak kemudaratan. Di saat Indonesia masih terdapat banyak kasus masyarakat yang terkena Covid-19 dan pilkada serentak akan segera dilaksanakan yang kemungkinan akan menimbulkan bertambahnya kasus masyarakat yang terkena Covid-19, ditambah dengan munculnya klaster ‘pilkada serentak’ dalam sebuah kemudaratan. Sedangkan kemaslahatan yang akan diraih yaitu di beberapa daerah akan segera mendapatkan pemimpin yang baru. Apabila kita lihat kaidah ini, maka kemudaratan (pilkada serentak) harus ditiadakan untuk sementara waktu, meskipun maslahat yang didapatkan berupa terpilihnya pemimpin yang baru di beberapa daerah di Indonesia. Jadi, kaidah ini kontra terhadap pilkada serentak tahun ini.

            Kesimpulan, solusi, dan saran yang bisa penulis paparkan, apabila pemerintah tetap bersikeras untuk melaksanakan pilkada serentak tahun ini, maka pemerintah harus mengawal ketat berlangsungnya pilkada serentak tersebut dengan memerhatikan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan menggunakan masker untuk masyarakat. Kemudian, sebisa mungkin kampaye langsung ditiadakan dan diganti dengan kampanye secara daring dengan menggunakan media yang ada, sebab untuk menghindari kerumunan masyarakat. Namun, alangkah lebih baiknya pilkada serentak tahun ini ditunda terlebih dahulu dengan mengutamakan menghindari atau menolak kemudaratan yang ada. Selain itu, dalam masa mencari pemimpin yang baru di beberapa daerah yang ada, bukan berarti terjadi kekosongan kekuasaan di daerah yang menyelenggarakan pilkada serentak, masih ada pejabat sementara gubernur, wali kota, atau bupati yang mengisi kursi pemerintahan. Sehingga menurut penulis, tidak ada ruginya apabila pilkada serentak ditunda dalam 2-3 bulan ke depan, sambil membantu pemerintah pusat dalam meminimalisir dan memerangi  penyebaran Covid-19 di Indonesia. Siapa tahu dalam 2-3 bulan ke depan, terdapat penurunan yang signifikan terhadap penyebaran Covid-19 sehingga pilkada serentak bisa dilakukan dengan normal tanpa ada rasa khawatir dan takut.

Penulis: Muhammad Torieq Abdillah Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

mtabdillah11@gmail.com 

Insecure Tidak Akan Mensukseskan Diri

 

Kehidupan bahagia serta menjadi pribadi yang baik merupakan impian setiap manusia. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kehidupan yang dimimpikannya layaknya ajang kompetisi pencarian bakat. Namun, Pada saat berusaha melakukan yang terbaik, seringkali mereka melirik dan membanding-bandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Hal tersebut kerap memicu adanya rasa minder (tidak percaya diri), sehingga menganggap bahwa dirinya lemah dan tidak berguna.

Situasi tersebut akan menimbulkan perasaan Insecure pada diri seseorang. Belakangan ini, kata “Insecure” kerap kali terlontar dari mulut setiap orang. Kata tersebut mulai merajalela di berbagai kalangan, terutama kalangan remaja. Mereka selalu menanyakan pada dirinya sendiri “apa sih kemampuan yang saya miliki?”. Mereka beranggapan bahwa dirinya tidak memiliki kualitas diri dan ragu untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mata.

Memang, rasa Insecure seringkali dikatakan sebagai sifat manusiawi, dimana seseorang wajar mengalaminya. Di sisi lain akan berdampak buruk bila hal tersebut kerapkali terjadi pada diri seseorang. Sebab semua perkara yang dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan hal yang buruk. Terkadang Insecure pada orang lain diperbolehkan, dengan tujuan untuk muhasabah terhadap diri sendiri. Mungkin dalam situasi tersebut dapat membuat seseorang termotivasi dan menghidupkan kembali rasa semangat. Tetapi, alangkah baiknya jika perasaan insecure terhadap orang lain dimusnahkan. Karena khawatir memicu adanya keterpurukan, depresi, atau hal-hal negatif lainnya.

Semua orang sadar bahwa setiap Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, mengapa kita sering melihat kelebihan seseorang tanpa melihat kekurangannya?. Dan mengapa hal tersebut justru berbalik arah terhadap diri kita?. kerapkali kita melihat kekurangan diri sendiri, bahkan kelebihan pun tidak terdeteksi, why?. Karena seringkali orang lain hanya memperlihatkan kelebihan yang mereka miliki, dan cenderung menyembunyikan kekurangannya. Itulah akibatnya, kelebihan mereka lebih sering ter-ekspos dibandingkan kekurangannya. Padahal mereka juga pasti memiliki kekurangan yang mungkin sebanding dengan kelebihannya. Hanya saja Tuhan sedang menutupi kekurangan mereka. Berbeda dengan kita, yang kerapkali mengurung diri dengan rasa tidak percaya diri. Sehingga merasa bahwa dunia tidak adil.

Jika dilihat dari ungkapan di atas, nyata adanya bahwa kita semua memiliki kelebihan, namun kita seringkali tidak sadar akan kelebihan yang kita miliki. Hal tersebut terjadi karena adanya “Negativity bias”, di mana seseorang kerap kali mengingat pengalaman atau informasi yang bersifat negatif. Negativity bias ini merupakan sifat bawaan dari orang-orang terdahulu atau dikenal sebagai nenek moyang. Pada zaman dahulu, pengalaman negatif lebih penting untuk diingat dibandingkan pengalaman positif. Sifat tersebut masih menempel pada manusia dewasa ini. Itulah sebabnya kita seringkali beranggapan bahwa kelebihan pada diri kita tidak ada. Padahal kita juga pasti mempunyai pengalaman positif yang dianggap sebagai kelebihan tersendiri. Akan tetapi sulit untuk mengingatnya.

Negativity bias juga tidak baik bagi kesehatan mental. Semakin kita sering mengalaminya, maka semakin rendah pula self-esteem yang kita miliki, sehingga memicu adanya rasa stres. Selain itu, sseorang yang kerapkali mengalami Negativity bias, secara tidak langsung mereka membangun rasa insecure yang sangat besar. (https://youtu.be/VBSb63bJGXo)

Perlu kita sadari bahwa beberapa hal yang kita miliki, seperti halnya mampu bekerjasama, jujur terhadap orang sekitar, tidak mudah menyerah, mudah beradaptasi, setia terhadap teman, dll, kerapkali dianggap sebagai hal yang sepele. Padahal hal tersebut merupakan tindakan positif yang tidak dimiliki semua orang. Perilaku yang baik juga merupakan passion tersendiri. Tak perlu minder terhadap teman sekelas, rekan kerja, pengusaha, dan orang-orang di sekitar kita yang dirasa mempunyai kualitas lebih baik dibangding kita. Semua orang bisa menjadi yang terbaik versi dirinya sendiri. Tuhan maha adil, percayalah bahwa semua yang diberikan kepada kita adalah nikmat tiada duanya.

 So, buat apa insecure terhadap orang lain?, padahal belum tentu orang tersebut memiliki passion yang ada dalam diri kita. Terkadang ada satu orang yang membuat kita merasa insecure, tetapi percayalah bahwa ada puluhan orang yang menginginkan untuk menjadi kita.

Penulis: Ulfatun

Jumat, 11 Juni 2021

Sisi Positif Perkembangan Teknologi Sebagai Sarana Mempermudah Beragama Pada Era Society 5.0 dan Pandemi Covid-19

 

    Perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa tidak lepas dari peran penting teknologi. Hadirnya teknologi di tengah-tengah manusia sungguh membawa perubahan yang begitu signifikan. Kecanggihan teknologi membawa manusia semakin berinovasi dalam menjalani kehidupan, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Tampaknya, sangat sulit untuk lepas dari teknologi, sebab teknologi sudah menjalar ke semua lini kehidupan. Salah satu buah dari lahirnya teknologi adalah internet. Hadirnya internet menjadi bentuk semangat manusia dalam menghadapi era society 5.0.

Semuanya memang memiliki sisi positif dan negatif, tidak terkecuali internet. Semua sisi positif dari internet sangat membantu manusia dalam menjalani hidup. Terlebih di saat seluruh manusia bersiap dalam menghadapi era society 5.0 dan pandemi Covid-19, teknologi sangat berperan penting bagi manusia. Namun, harus diingat bahwa dengan kehadirannya teknologi jangan sampai membuat manusia terbuai. Sebab, teknologi bukanlah segalanya, meskipun tidak bisa kita pungkiri bahwa semua manusia membutuhkan teknologi. Masih ada norma dan batasan yang harus diperhatikan saat menggunakan teknologi, terlebih internet. Itulah yang menjadi tantangan tersendiri saat berhadapan dengan internet, karena tidak sedikit sisi negatifnya muncul di tengah keberlangsungan hidup.

Pembahasan

            Tekonolgi hadir untuk membantu manusia dalam menjalani kehidupan. Apapun itu, teknologi berperan sangat penting bagi manusia. Contoh sederhana dalam penerapan teknologi bagi manusia adalah menjadikan teknologi, khususnya internet sebagai sarana mempermudah beragama. Contoh sederhananya, ketika ingin mengikuti pengajian langsung di masjid, tetapi ada kesibukan, salah satu solusinya yaitu mengikuti kajian melalui live streaming. Adanya live streaming hadir di tengah-tengah kita membantu mempermudah saat tidak bisa mengikuti kajian langsung di masjid. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini, kita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa hadir langsung di masjid. Antara kemaslahatan diri untuk menuntut ilmu secara langsung di majelis ilmu harus dikalahkan oleh adanya kemudaratan pandemi Covid-19. Apabila kita tetap memaksakan diri untuk hadir secara langsung di masjid, sedangkan di sisi lain akan ada kemudaratan yang kita terima, sebagai konsekuensinya kita harus mengurungkan niat untuk hadir secara langsung. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah fikih turunan tentang kemudaratan,

دَرْءُ الْمفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan lebih diutamakan daripada menghilangkan kemaslahatan.”

Kaidah ini diterapkan apabila maslahat dan mudaratnya sama, tidak ada dari keduanya yang lebih besar. Oleh karena itu, yang harus didahulukan di antara keduanya adalah menghindari diri dari mudarat yang akan muncul, meskipun harus merelakan maslahat yang ada. Artinya, kita lebih baik untuk tidak menghadiri kajian secara langsung, terlebih apabila kondisi kesehatan kita kurang fit, maka sangat mudah untuk terpapar Covid-19. Meskipun kita tahu bahwa menghadiri kajian secara langsung akan dipermudah jalannya menuju surga dan dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikatNya.

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga.” (H.R. at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (H.R. Muslim).

            Semangat menuntut ilmu akan tetap ada dengan hadirnya internet di tengah-tengah kita. Salah satu wujud nyatanya yaitu dengan adanya live streaming yang bisa kita akses di mana dan kapan saja, termasuk mengakses kajian. Tentu saja ini merupakan salah satu spirit dalam berbuat kebaikan. Namun, jangan sampai dengan hadirnya internet membuat manusia melampaui batas. Maksudnya jangan sampai kita menuhankan internet dan bergantung segalanya dengan internet.

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah’.” (Q.S. az-Zumar: 53)

Penulis: Muhammad Torieq Abdillah mahasiswa S1 Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

 

Referensi

Andirja, Firanda. 2019. Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubra – Kemudharatan Dihilangkan Sebisa Mungkin (Kaidah 4). https://firanda.com/2464-al-qawaid-al-fiqhiyyah-al-kubra-kemudharatan-dihilangkan-sebisa-mungkin-kaidah-4.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2021)

Purnama, Yulian. 2019. Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid. https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.html

https://tafsirweb.com/8715-quran-surat-az-zumar-ayat-53.html