Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Jumat, 29 Januari 2021

Memahami Hadis Khoirul Qurun dalam Perspektif Sosiologis


Rasulullah saw. pernah bersabda, yang artinya: 

“Telah diberitahu kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Syuja bin Makhlad dan lafaz milik Abu Bakr, dia berkata; Telah diberitahu kepada kami Husain yaitu Ibnu Ali Al-Ju'fi dari Za'idah dari As-Suddi dari Abdullah bin Al-Bahi dari Aisyah berkata: Seseorang bertanya kepada Nabi saw.; Siapakah sebaik-baik manusia? Kemudian  beliau menjawab pertanyaan tersebut: "Sebaik-baik manusia ialah  generasi saat aku di masanya, kemudian generasi kedua, dan generasi ketiga." (https://carihadis.com/Shahih_Muslim/4604).

Bermula dari definisi, sosiologi menurut Profesor Dr. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, SH., “Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tatanan sosial dan proses sosial, termasuk pembahasan tentang perubahan sosial yaitu norma atau norma sosial, sistem sosial, kelompok, golongan. Semua aspek kehidupan politik, kehidupan hukum Hubungan sosial dan timbal balik dengan kehidupan beragama, kehidupan beragama dan kehidupan ekonomi, dll.(Bab 1, n.d.). Secara fundamental, So.siologi menurut Amir B. Marvasti, “ilmu sosial yang menggali kompleksitas kehidupan manusia berdasarkan pengalaman(Nurdin, 2004).

Kehidupan sosial umat Islam tentu saja berlandaskan dari perbuatan, perkataan serta ketetapan dari Rasulullah saw. sebagai tauladan. Tokoh sekaligus panutan tersebut ialah manusia biasa yang diutus oleh Allah swt. menjadi kekasih-Nya, sama saja seperti kita manusia yang terikat oleh ruang dan waktu. Di masa lalu tentu saja ada hal-hal yang terbentuk dari kontruksi sosial yang melatarbelakangi adanya sebuah hadis atau yang biasa dikenal dengan sebutan asbabul wurud. Para sahabat pun menyaksikan atau mendengarkan langsusng peristiwa itu. Berdasarkan sejarah, Rasulullah saw. dan para sahabat berhasil menguasai daerah-daerah di jazirah Arab dalam penyebaran agama Islam. Perkembangan tersebut terjadi sangat pesat sehingga membawa pengaruh terhadap perubahan sosial masyarakat. Sebagaimana firman Allah swt. pada QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya : “Sungguh, Allah swt. tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.

Dalam 23 tahun, Rasulullah saw. menyebarkan dakwah Islam; menerima, menyampaikan dan menafsirkan ayat-ayat Alquran; menjadi petunjuk jalan bagi sahabat; ia juga berperan sebagai hakim dan bertanggung jawab mengadili berbagai permasalahan umat. Ia juga menjabat sebagai kepala negara dan pemimpin masyarakat yang heterogen. Rasul saw.  mengatur dan menetapkan sistem hukum untuk mempersatukan umat Islam, Kristen dan Yahudi, mengatur ekonomi, dan masalah lain yang berkaitan dengan masalah sosial(Sunardi, 2019). “Sahabat Rasulullah adalah orang yang paling dekat dan sungguh mulia berada di sisi Rasulullah saw. Bahkan mereka termasuk orang yang paling semangat beribadah sepanjang hari dan sepanjang malam” (Taufik Alkhotob, 2018).

Jika dikaitkan dengan hukum, maka “hadis tentang khair al-qurun tersebut menjelaskan bahwa perubahan sosial berhubungan dengan amaliah, di mana ada pada masa sahabat, tapi belum ada pada masa Rasulullah saw. hidup. Begitu juga akibat perubahan sosial terdapat permasalahan, lalu ditetapkan hukumnya di masa tabi’in, tapi dijumpai pada masa Rasulullah saw. dan sahabat hidup. Hadis khair al-qurun menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak dapat dielakkan, sebab perubahan struktur sosial dan perubahan itu dari sistem kelompok masyarakat tertentu. Kemaslahatn umum bersifat dinamis dan fleksibel yang berkaitan dengan perubahan sosial, yang merupakan diantara ciri-ciri dinamis seperti ketetapan Rasulullah saw. atas sebaik-baik tiga masa atau generasi. Perubahan sosial akan mempengaruhi ide dan nilai yang ada di masyarakat. Hukum dan perubahan sangat berkaitan dengan bagaimana pemahaman dan interpretasi atas nash-nash dan kemudian memperhatikan realitas sosial” (Nasution & Hasbi, 2018).

Penulis: Septiana Melala Gayo

REFERENCE

 

Bab 1. (n.d.). BAB. 1 SOSIOLOGI INDUSTRI A. Pengertian Sosiologi. 1–241.

Nasution, I., & Hasbi, R. (2018). Hadis “Khair Al-Qurun” Dan Perubahan Sosial Dalam Dinamika Hukum. Jurnal Ushuluddin, 26(1), 69. https://doi.org/10.24014/jush.v26i1.4042

Nurdin, D. A. (2004). Sosiologi Organisasi: Pengertian, Sejarah Lahirnya, Ruang Lingkup, Manfaat dan Metode Penelitian. Sosiologi Organisasi, 1–36.

Sunardi, D. (2019). Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta. Industri.Ums.Ac.Id, 82–94. https://www.industri.ums.ac.id/

Taufik Alkhotob, I. (2018). Kaderisasi Pada Masa Rasulullah. Jurnal Da’wah: Risalah Merintis, Da’wah Melanjutkan, 1(01), 35–63. https://doi.org/10.38214/jurnaldawahstidnatsir.v1i01.4

 

Mindfulness: Sebuah Teori Psikologi tentang Khusyuk dan Syukur

Apa itu mindfulness?

Sebagai seorang umat beragama, tentunya kita mengenal istilah khusyuk dan syukur. Sebuah istilah yang banyak dikaitkan dengan keadaan batin seseorang. Katanya, untuk menjadi seorang hamba yang dekat dengan tuhannya, kita harus pandai bersyukur, pun khusyuk saat melakukan perjumpaan dengan Tuhan. Siapa sangka, dalam ilmu psikologi ternyata terdapat sebuah istilah yang dapat mendefinisikan istilah syukur dan khusyuk dengan sangat baik.

Mindfulness adalah sebuah istilah yang merujuk pada praktik untuk menyadari kenyataan dan realitas yang benar-benar terjadi pada masa kini, sekaligus hadir dan menerima segala lika-liku yang melingkupinya apa adanya (present moment). Jika diperhatikan secara seksama maka akan terlihat pola hubungan antara praktik mindfulness dengan sikap syukur dan khusyuk yang ditekankan dalam istilah keagamaan,  yaitu kesadaran penuh untuk menikmati segala peristiwa yang hadir dengan hati lapang untuk menerimanya. Dalam ilmu psikologi, praktik mindfulness ini penting untuk dilakukan bagi setiap individu karena memiliki beragam manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hidup praktisinya.

Harvard University pernah melakukan riset tentang praktik mindfulness ini. Riset tersebut kemudian berkesimpulan bahwa seseorang yang sering berlatih mindfulness dalam realitas kehidupannya, cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Di mana kemungkinan mereka terserang dan terjerembab pada pikiran negatif, stres, hingga gangguan kecemasan lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tidak. Saya dibuat kagum saat menyadari pola hubungan dari praktik mindfulness dengan sikap syukur dan khusyuk dalam agama.

Dalam perintah agama dijelaskan bahwa ketika seseorang mampu untuk bersyukur atas segala nikmat yang dimilikinya, maka Tuhan menjamin akan menambah kenikmatan tersebut. begitupun sebaliknya, ketika kita tidak mampu menyemai rasa syukur, kita akan ditimpa dengan kemalangan.

Pada awalnya, saya memaknai term tersebut dengan sangat sederhana, pemahaman yang cenderung materialistis. Saya memahami, bahwa ketika Tuhan memberikan saya nikmat sebuah mobil, kemudian saya mensyukuri nikmat tersebut maka tuhan akan menambah nikmat saya menjadi sebuah mobil dan dua buah sepeda motor misalnya. Begitu seterusnya. Maka tak heran, jika dalam realitas sosial, kebanyakan dari manusia berhenti dan merasa lelah untuk mensyukuri segala realitas yang tidak sesuai dengan keinginannya karena merasa semuanya terlalu sia-sia dan tak kunjung menemukan titik akhir.

Anggapan tersebut tak sepenuhnya keliru. Karena dalam beberapa kondisi, penambahan nikmat yang dimaksud dapat berupa nikmat material yang secara fisik dapat dilihat dan dirasakan. Kendati demikian, jika kita perhatikan pola dari praktik mindfulness sendiri, dapat kita sadari bahwa dengan melakukan praktik mindfulness, Kita dapat merasakan sebuah kenikmatan yang datang dari dalam diri, terlepas dari segala nikmat materi yang datang dari luar. Seperti ketenangan batin, terhindar dari distraksi (pikiran yang terbagi) dalam berpikir, peningkatan produktivitas, dan kemungkinan untuk mengalami stress dan depresi yang lebih kecil.

Selain itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard Bussiness school menyatakan bahwa untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Seorang individu setidaknya perlu melakukan praktik mindfulness atau refleksi seperti  meditasi dan lain-lain sekurang-kurangnya 15 menit setiap harinya. Dari studi tersebut juga kemudian disimpulkan bahwa seseorang yang terbiasa melakukan refleksi atas kehidupan dan segala aktifitas dirinya, mengalami kenaikan produktivitas hingga 23%. Kendati demikian, di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, umat manusia digadang-gadang justru semakin sulit untuk dapat melakukan praktik mindfulness ini.

Salah satu faktor yang menjadikan seorang individu sulit untuk melakukan praktik mindfulness atau fokus pada situasi kini adalah karena pola pikir manusia yang mudah terdistraksi dengan keadaan lampau maupun mendatang. Pada kasus lain. hadirnya media sosial di tengah kemajuan dan derasnya arus informasi memberi dampak lain terhadap kualitas hidup seseorang, yaitu masifnya praktik membandingan kehidupan yang kita miliki dengan kehidupan individu lain, dan berujung pada tidak mindful-nya (fokus) kehidupan kita sendiri.

Amanda Margaret dari Universitas Diponegoro menjelaskan, bahwa praktik mindfulness setidaknya memiliki 4 komponen utama yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang di antaranya; Memaafkan (forgiveness), Berpikir rasional (rationality), Penerimaan (acceptance), dan Bersyukur (gratitude).

Forgiveness atau memaafkan, berkonotasi pada proses memaafkan segala hal buruk yang tidak sesuai dengan keinginan diri di masa lampau. Pada konotasi ini dinyatakan, bahwa seorang praktisi mindfulness memiliki kecenderungan untuk lebih mampu memaafkan sekaligus bersikap toleran atas segala hambatan serta hal buruk yang terjadi. Di lain sisi, pelaku praktik mindfulness juga dapat melatih kesadaran diri agar dapat bersikap lebih rasional, dan terhindar dari segala perilaku impulsive (tindakan tidak rasional).

Hal tersebut disebabkan oleh latihan mindfulness pada segala aktivitas yang terjadi. Sehingga secara tidak langsung otak dan pikiran kita dilatih untuk menyadari segala tindak-tanduk dan keputusan yang dibuat dalam hidup. Kemudian, praktik ini juga dapat mengantarkan praktisinya pada proses penerimaan dan rasa syukur terhadap segala kejadian yang terjadi. Sehingga praktisinya dapat memaknai dan menerima segala lika liku kehidupan dengan hati lapang.

Dari pengalaman saya bertemu berbagai macam individu. Manusia era modern cenderung mudah untuk mengotak-ngotakkan segala problematika kehidupan. Misalnya musibah yang menimpa dirinya akan dikatakan sebagai sebuah nasib buruk. Begitupun sebaliknya, ketika mendapatkan sebuah keberuntungan, maka dengan mudah menganggapnya sebagai sebuah nasib baik.

Saya pernah membaca sebuah Cerita Rakyat Cina yang menjelaskan tentang nasib buruk dan nasib baik manusia. Cerita rakyat tersebut menjelaskan tentang kemungkinan hadirnya keberuntungan setelah kemalangan. Begitupun sebaliknya . Sehingga apa yang perlu dilakukan oleh seorang manusia hanyalah menjalani segala aktivitas yang ada dengan sebaik-baiknya, dengan cara hadir, utuh, dan fokus pada masa kini.

Praktik mindfulness yang dimaksudkan dengan hidup pada masa kini, sekarang dan saat ini bukan berarti melalaikan masa depan. Dalam praktik mindfulness, manusia dapat mempersiapkan masa depan dengan sebaik-baiknya, dengan hidup secara maksimal pada masa kini. Sehingga hal tersebut tentunya tidak selaras dengan sikap menyerah dan cenderung pasrah, menyerahkan semua kejadian hanya pada takdir semata, tanpa adanya usaha yang menyertai.

Dari beberapa uraian di atas, dapat kita lihat bagaimana manfaat dan korelasi dari praktik mindfulness dengan sikap khusyuk dan syukur yang ada dalam agama. Bahwa anjuran untuk bersyukur dan khusyuk dalam melakukan suatu kegiatan tidak hanya bermanfaat dan dianjurkan dalam aspek spiritual saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, ahli jiwa terkemuka dunia juga menganjurkan agar setiap warga dunia tetap menjaga kewarasan dalam menjalani hiruk pikuk yang ada dengan latihan mindfulness. Praktik tersebut juga memperlihatkan tentang bagaimana kualitas hidup seseorang dapat terjaga di tengah kemajuan zaman seperti saat ini dengan terus menyadari, mensyukuri, dan fokus untuk mengembangkan kualitas hidup kita pada masa kini.

 

Wallahu ‘alam

  Penulis: Nanda Dwi Sabriana

Rabu, 27 Januari 2021

Gugurnya Nasionalisme karena Membela Palestina

Perdebatan yang kerap muncul ketika membahas perjuangan untuk Palestina adalah,  “Mengapa kita membela yang jauh, sementara negeri sendiri saja masih banyak masalahnya. Pernyataan tersebut seharusnya tidak jika kita mengerti esensi perjuangan. Bukankah membantu yang jauh tetap tidak serta merta melupakan yang dekat? Bukankah membantu negara lain juga bukan berarti tidak membantu negeri sendiri? Tidak jarang pula muncul kalimat semacam “Orang-orang yang sibuk membela Palestina, nasionalismenya sudah terkikis.” Namun memang sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kalimat-kalimat pemicu perdebatan di atas masih sering terdengar hingga hari ini.

Ada satu fase sejarah yang dapat menunjukkan kepada kita bahwa seseorang tidak harus menunggu selesainya urusan (negeri) sendiri untuk membantu yang lain. Fase sejarah tersebut akan mempertunjukkan kepada kita bagaimana Palestina mau memberikan dukungan dan pembelaan kepada Indonesia. Pembelaan tersebut terjadi ketika Indonesia masih dalam masa merintis kemerdekaan, walaupun pada saat itu urusan negaranya sendiri pun sedang porak-poranda.

Pada tahun 1944, sejarah mencatat bahwa Palestina mendukung kemerdekaan Indonesia, hal itu disiarkan melalui muftinya yang bernama Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Tidak berhenti di situ, beliau juga mendesak negara-negara di Timur Tengah untuk memberikan dukungan kepada Indonesia. Hasilnya, pada tanggal 18 November 1946 Dewan Liga Arab menganjurkan negara-negara anggotanya untuk mengakui kedaulatan Indonesia (Hasan, 1990). Padahal pada kisaran tahun 1944-1946 Palestina juga sedang babak-belur memperjuangkan tanah airnya dari tekanan penjajah Zionis yang terus menerus mencuri wilayahnya.

Sejak tahun 1917 ia mengalami penjajahan Inggris lalu berlanjut dengan penjajahan oleh Zionis hingga hari ini. Namun, hal yang dapat dilihat di sana adalah para pendahulu Palestina tidak menunggu urusan negaranya rampung terlebih dahulu untuk mau bergerak peduli terhadap negara lain yang membutuhkan bantuan. Ada perasaan-perasaan kemanusiaan yang dapat digunakan untuk memahaminya.

Lalu apakah Indonesia melakukan hal yang sama? Menarik sejarah lebih jauh ke era sebelum merdeka, pada tahun 1930 melalui pemuda-pemuda visioner dari Jong Islamieten Bond (JIB) yang salah satu anggotanya adalah KH. Agus Salim, mereka menyatakan penolakan akan penjajahan Zionis di tanah Palestina dan bersuara keras untuk membela Palestina. ketika itu masih 15 tahun sebelum Indonesia merdeka, para pendahulu Indonesia juga tetap bergerak memberi bantuan kepada negara lain walaupun negaranya sendiri tengah kalang-kabut memperjuangkan kemerdekaan.

Pada tiga tahun selanjutnya, tahun 1938 Kongres Al-Islam digelar di Surabaya yang diikuti oleh berbagai pergerakan Islam kala itu seperti Muhamadiyyah, Nahdlatul Ulama, Jong Islalmieten Bond, Al-Irsyad, dsb). Kongres ini mengangkat isu Palestina dan selanjutnya membuahkan keputusan untuk mengirimkan do’a dan menggalang dana untuk Palestina, untuk kemudian menyatakan aspirasi bahwa mereka menolak rencana Inggris untuk membagi-bagi wilayah Palestina.

Beberapa hal tersebut adalah bukti bahwa Indonesia sudah sejak lama memiliki kepedulian kepada Palestina. Bagi sebagian orang ada yang berpendapat bahwa berdoa dan menggalang dana sudah hal yang lazim dilakukan, namun melihat sejarah tentu harus menempatkan diri di mana kejadian itu terjadi. Tahun-tahun tersebut, Indonesia masih belum terbentuk, masih dijajah oleh Belanda lalu Jepang, namun alih-alih menutup mata dari kejadian di luar bangsanya, para pendahulu mencontohkan bagaimana memberikan kepedulian saat kondisi bangsa sendiri sedang tidak ideal.

Sekecil apapun pergerakan yang dilakukan, bahkan meskipun hanya dengan pernyataan sikap penolakan atas penjajahan hal tersebut merupakan perwujudan dari sebuah keberpihakan. Keberpihakan sebagaimana dahulu semut-semut yang begitu kecilnya membawakan air untuk meredam api yang membakar Nabi Ibrahim, bukan sesuatu yang besar memang, tapi tentu ada perhitungan dan menentukan di sisi mana mereka berpihak.

Melihat catatan sejarah tersebut, maka pencibiran kepada seseorang yang membantu Palestina dianggap tidak nasionalis rasanya justru merupakan ahistoris. Buktinya pendahulu Indonesia di samping berjuang untuk negaranya juga tetap bergerak membantu negara lain (Palestina). Bukankah mereka para pejuang kemerdekaan adalah orang yang nasionalis? Dan lihatlah, menjadi nasionalis bukan berarti tidak peduli sesama manusia di negara lainnya. Memang justru di sanalah poin pentingnya. Indonesia memiliki kehebatan karena mau peduli. Dengan hal ini tentu saja mengartikan jika kepedulian itu hilang, kehebatan itu terkikis pula.

Hal-hal lain yang tak jarang ditanyakan orang adalah, “Mengapa mau bergerak untuk Palestina?”.  Tentu ada banyak alasan untuk membuat kita bergerak, di antaranya:

a.       Alasan aqidah. Sebagai muslim, Palestina merupakan hal yang menancap erat dalam aqidah. Jantung Palestina berada di Al-quds dan di sana terdapat kiblat pertama bagi umat muslim, Masjid Al-aqsha. Maka sebagai seorang muslim, membela Palestina sama halnya dengan memperjuangkan aqidahnya sendiri. Selain itu dalam firman Allah pada QS: Al-Isra ayat 1, menyatakan bahwa Allah memperjalankan Rasullah pada suatu malam dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-aqsha, lalu selanjutnya menuju Sidratul Muntaha. Jika melihat tafsir yang dikemukakan oleh Sayid Quthb, hal ini memiliki makna Allah ingin menegaskan bahwa Rasulullah adalah pewaris dari tempat suci para nabi sebelumnya, di mana  Allah hendak menunjukkan bahwa seharusnya umat muslim memiliki kepedulian di sana. Lihat saja, bukankah mudah sekali bagi Allah memperjalankan Rasulullah dari Masjd Al-haram langsung menuju Sidratul Muntaha? Namun untuk mengikatnya dalam aqidah, Allah sertakan Masjid Al-Aqsha dalam perjalanan Rasulullah Muhammad SAW.

b.      Alasan kemanusiaan. Hal ini barang tentu sudah jelas. Masalah Palestina berkaitan dengan hak asasi manusia yang telah dilanggar. Banyak rumah yang digusur, anak-anak tidak bersalah yang ditembak, para jurnalis dan tenaga medis yang direnggut nyawanya di tengah bertugas.

c.       Alasan keterkaitan sejarah. Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa Indonesia dan Palestina sudah memiliki keterkaitan saling membantu di masa lalu. Hal ini tentu bermakna positif, maka perlu untuk terus dipertahankan.

Melihat alasan-alasan tersebut, maka tentu Palestina adalah tanggungjawab bersama. Mungkin rasanya hari ini terdengar aneh untuk mengatakan jika persoalan Palestina juga merupakan tanggungjawab kita. Sebabnya memang dari hari ke hari persoalan Palestina dipersempit maknanya. Sehingga tidak heran, banyak yang merasa Palestina begitu jauh, padahal ia adalah detak yang beriringan dan menyatu dengan Indonesia bersama islam.

Nasionalisme tidak akan hilang karena membela Palestina, bahkan para pendahulu sudah banyak menyontohkan bagaimana pembelaan yang selayaknya. Saat kita mengulurkan tangan untuk membela Palestina, kita berarti tengah menuntaskan salah satu tanggungjawab kita. Karena jika kita memilih Islam sebagai jalan hidup, maka Palestina adalah bagian dari aqidah yang harus diperjuangkan. Ya, sesungguhnya Palestina sedekat itu.

 

Penulis: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah, Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta

  e-mail : hanifahrf31@gmail.com

 

 

 

Referensi:

Hasan, M. (1990). Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri. Jakarta: Bulan Bintang.

Quthb, S. (2004). Tafsir Fii Zhilalil Qur'an: Jilid 14. Jakarta: Gema Insani.

Rabu, 13 Januari 2021

Salam Rindu (Part 1)

 


Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang-orang yang berdosa. Demikian titah sang guru yang saya anut mazhabnya; mazhab Asy-syafi’i. Jika cahaya adalah apa yang menerangi, maka untuk itu haruslah ada mata yang berfungsi sebagai penyaksi terhadap apa yang diterangi. Jika matahari memiliki cahaya sendiri, saya tanyakan padanya, mampukah dia melihat dirinya sendiri dengan sinar raksasa yang dia punya? Belum lagi dia jawab pertanyaan saya, mendengar saya bertanya padanya pun tidak. Kemudian saya bertanya pada bulan dengan pertanyaan yang sama, ternyata dia pun tak mendengar, jadi mirip judul lagu saja Langit Tak Mendengar, Peterpan. Pada api di obor tengah malam samping jalanan desa, dia juga tidak punya telinga untuk mendengar, apalagi mulut untuk menjawab. Begitu seterusnya. Hingga saya bertanya pada titah sang guru. Jika ilmu adalah cahaya, mampukah dia melihat kepada dirinya sendiri dengan cahaya yang dia punya? Dia pun menjawab mampu, sangat mampu.

Jika cahaya adalah apa yang bisa menerangi, maka yang paling pantas disebut cahaya adalah ilmu pengetahuan. Bukan hanya menyinari hal-hal yang di luar dirinya, tapi juga mampu menyinari dirinya sendiri sebagai ilmu.

Maka saya kisahkan sebuah pengalaman dalam sebuah fase pencarian cahaya dalam hidup, yakni masa di mana saya mulai membuka dan memperluas ruang dalam pencarian. Seperti halnya mencari pasangan, jika ingin lebih banyak pilihan, maka perluaslah tempat pencarian. Ya, sepertinya teorinya begitu. Ini teori saya sendiri sih, tapi sepertinya memang ada benarnya ya kan? Begitu pula dengan ilmu pengetahuan. Karena bulan purnama di Indonesia belum tentu persis tampaknya dengan bulan purnama di negeri orang, maka perlu untuk memperluas sudut pandang agar bisa melihat berbagai sisi dari keindahan rembulan. Kiasan lebih amannya demikian.

Dulu, di sebuah pondok yang modern, saya sedang mengemban cinta dengan pongahnya di tempat yang penuh berkah itu. Masih teringat saat itu, di depan asrama satu, saya ditemani oleh seorang teman akrab, bersandar di tiang teras pembatas sambil membaca buku karya Rumi dengan kedua paha yang saya jadikan meja, dan sebuah pulpen tinta biru di tangan kanan sambil sekali-kali saya main-mainkan. Itu adalah kala pertama dimana terjadinya sebuah obrolan mengenai beberapa sudut pandang serius dan akhirnya malah berlanjut pada pembahasan cita-cita ke depannya.

Kehidupan di pondok satu tahun terakhir sebelum tamat, membuat saya memikirkan banyak hal waktu itu. Saya hidup bertatap muka dengan pelajaran agama juga akademik sekolah selama dua puluh empat jam non stop kecuali waktu istirahat di pondok itu. Saya mengakrabkan diri dengan guru-guru, kiyai, ustadz dan ustadzah sampai beberapa anak ustadz juga sempat saya akrabi. Kata seorang teman itu, saya santri yang sopan tutur kata juga adab, sehingga membuat saya tampak baik jiwa. Saya hanya tersenyum, tidak peduli pada pujian atau kalau ada hinaan di lain hari, demikian pula, dan seterusnya.

 Saya berkata kepada seorang teman “Kita tidak sedang haus pujian di umur delapan belas ini, teman. Kita masih tetap haus adab. Ilmu yang insya Allah sudah lebih cukup ketimbang pertama kali kita di pondok ini, itu bekal luar biasa untuk sebuah pengembaraan di lautan experience.”

“Hmm …, diriku pun selalu punya mimpi yang mirip-mirip dengan yang demikian,” jawabnya sambil memasang wajah seriusnya.

Di sebuah tulisan ucap kemudian, saya dihampiri oleh segerombolan kafilah perbacotan konten tidak berbobot, dan saya kisahkan soal apa saja tentang teman, ilmu, guru, asrama, dapur pondok, WC asrama, kelas IPA dan IPS, arama putri, koperasi depan aula, acara Lembaga Bahasa Asing, bimbingan malam, dan seterusnya. Saya bermimpi untuk sebuah suasana yang total soal ilmu, ilmu, dan ilmu saja. Ilmu adalah seni. Ilmu adalah apa yang diberikan dan ditampakkan. Semakin tinggi ilmu, semakin baik tampaknya.

Berbagai suasana pondok yang tidak akan terlupakan nantinya, merupakan kausalitas cinta di dalam hati. Saya membungkus ucap dengan rasa, kala ditimpali dengan secuil kalimat menggelitik oleh seorang guru yang saya cintai.

“Topik, kamu nanti sekolah di Mesir, ya!”

Sayapun tersenyum, mencium tangan beliau, dan tidak berjanji dengan hal yang tidak saya jamin akan tercapai kecuali Allah menghendaki. Saya berbicara dengannya  menggunakan bahasa Arab yang familiar, “Insya Allah, Ustadz,” lantas Ustadz tersenyum pada saya.

Tiba di sebuah kondisi yang saya rasa pasti pernah dilalui oleh setiap alumni pondok itu. Yakni masa akhir-akhir menjelang tamat dari pondok. Beriringan dengan belasan urusan lainnya; ujian nasional, daftar jalur beasiswa, pilah-pilih kampus, perencanaan acara penamatan, dan susulan pengkajian soal apa saja yang terasa kurang sebelum tamat.

Pada persoalan pilah-pilih kampus, saya ikut ke beberapa teman untuk daftar ke sebuah universitas ternama di kalangan santri-santri nusantara; Al-Azhar Cairo, Mesir. Ini sesuai dengan permintaan Ustadz yang sebenarnya sangat saya syukuri. Sebuah permintaan seorang guru pada muridnya menandakan bahwa murid tersebut terlihat mampu di mata sang guru bahwa permintaan tersebut bisa diemban oleh sang murid. Itu logika terkenal yang orang-orang pahami. Saya tidak bermimpi terlalu tinggi. Tapi setiap kali Ustadz dan Ustadzah melontarkan sebuah kalimat yang berbunyi, “Topik, kamu nanti sekolah di Mesir, ya!” saya hanya bisa tersenyum, dan pada akhirnya sambil mengatakan iya, dan tidak lupa mengucapkan, “Insya Allah, Ustadz.” Seraya sedikit mengaminkan di dalam hati.

Pada suatu hari di mana cinta sedang menyembur tak tahu arah, saya mendapat percikan yang entah berapa massa dan volumenya jika ditakar dalam Ilmu Fisika. Cinta itu terdefinisi ke dalam sebuah takdir yang membuat saya tersenyum. Ibarat Qais, saya bertemu Layla di taman yang berlatar romansa sore yang merah. Cinta itu adalah sebuah kabar. Saya dan tiga orang teman divonis menderita hidup yang beruntung seberuntung-beruntungnya, sehingga kata derita di awal tadi dihilangkan maknanya, menjadi tervonis hidup beruntung seberuntung-beruntungnya. Kabar itu mendadak susah saya utarakan kepada dunia. Maka saya utarakan saja pada diri saya sendiri untuk sementara itu.

Kabar gembira; Muhammad Taufiq Hidayat lulus untuk kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Saya merasa hampir tidak bisa menampung makna kabar itu. Saya senyum-senyum sendiri dalam kamar, mengenang setiap yang bisa saya kenang, membatin tentang cinta, cita, mimpi, dan segala sesuatu yang pernah saya cari untuk saya cari kembali.

Bersambung …

Oleh: Abdil

Selasa, 12 Januari 2021

Corona, Pandemi Virus (Covid-19) terhadap Pembelajaran Daring (online)

 


Wabah Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda lebih dari 200 Negara di dunia telah memberikan tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan. Dalam rangka mengantisipasi penularan virus tersebut pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Seperti isolasi, social and physical distancing, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan seluruh warga negara untuk tetap stay at home, bekerja, beribadah dan belajar di rumah.

Kondisi demikian menuntut lembaga pendidikan untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Salah satu bentuk inovasi tersebut ialah dengan melakukan pembelajaran secara online atau biasa disebut dengan sitem belajar daring (dalam jaringan). Akan tetapi, inovasi tersebut melahirkan sebuah permasalahan baru  dalam sistem pembelajaran, mulai dari terbatasnya kuota, banyaknya tugas, penguasaan IT yang masih terbatas, telat ’absen’ karena tidak terbiasa menggunakan sistem daring, jaringan yang tidak stabil karena kondisi pelajar yang ada di pedesaan, dan lain sebagainya.

Sementara itu bagi para pelajar, hambatan terbesar mereka adalah tugas dari pengajar yang semakin tak terkendali. Banyaknya tugas yang menumpuk dirasa menjadi hambatan utama bagi mereka, karena para pelajar belum terbiasa dengan sistem pembelajaran daring. Kondisi tersebut tentunya akan memberikan dampak buruk bagi psikologis mereka.  Staf Sub-bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar, Lyly Puspa Palupi mengatakan “Dampak belajar daring yang telah berjalan lebih tujuh bulan berdampak pada psikologis anak, mulai dari rasa bosan dengan aktivitas di rumah saja, anak juga dituntut beradaptasi belajar dari rumah yang pasti berbeda dengan di kelas sehingga hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kondisi tertekan pada psikis anak dan berpotensi munculnya stres pada anak," kata Lyly, Ahad (4/10).Hal ini tentunya harus diantisipasi mengingat kesehatan mental menjadi hal yang utama dipertahankan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, baik pelajar maupun pengajar disarankan untuk melakukan aktifitas yang berguna untuk meningkatkan sistem imunitas seperti menonton, berolahraga, bercengkrama dengan keluarga, komunikasi dengan teman sejawat, dan lain sebagainya. Jika gangguan semacam tersebut mampu diatasi, maka minat belajar akan tetap terjaga sehingga proses belajar mengajar akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Nurhasanah dan Sobandi (2016) menyatakan bahwa ”minat belajar ini merupakan determinasi dari hasil belajar siswa sehingga minat belajar ini harus tetap dipertahankan”.

Selain itu, pandemi ini juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dunia pendidikan baik dalam segi sosial, non sosial, fisiologis, maupun segi psikologis. Dalam segi sosial yaitu dengan adanya kebijakan social distancing ini mengakibatkan diadakannya peralihan pembelajaran yang memaksa peserta didik untuk mengikuti alur yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran tetap bisa berlangsung, sedangkan yang menjadi pilihan adalah dengan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajran daring.

Dinyatakan oleh Agus Nana Nuryana M.Pd. bahwa ”kebijakan social distancing berakibat fatal terhadap roda kehidupan manusia, tak terkecuali pada bidang pendidikan ikut juga terdampak kebijakan ini. Keputusan pemerintah yang mendadak dengan melibatkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah menjadi di rumah membuat kelimpungan banyak pihak”. Ketidak siapan stakeholder sekolah/madrasah melaksanakan pembelajaran daring menjadi faktor utama kekacauan ini.

Segi non-sosial yaitu dari pemanfaatan teknologi ini juga terdapat banyak kendala seperti signal, fasilitas, alat belajar dan lain-lain. Sedangkan dalam segi fisiologis, anak akan merasa lelah, capek harus menghadap layar laptop atau layar hp terus menerus dengan berbagai macam tugas yang menumpuk dan tak terjadwal dengan baik. Dalam kondisi semacam itu anak akan merasa lebih capek daripada dengan sekolah biasa yang hanya lelah pada saat pembelajaran berlangsung dan mungkin ada PR tapi tidak begitu banyak.

Dalam segi psikologis, ini yang sangat berpengaruh bagi pelajar terutama anak-anak. mereka tidak bisa keluar rumah, tidak bisa bermain lebih leluasa dan hanya memikirkan tugas-tugas yang diberikan. sehingga kebijakan social distancing akan sangat menganggu psikis anak, dia akan merasa sangat bosan dan bisa jadi si anak akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. dan disini orang tua sangat berperan penting dalam mendampingi anaknya.

Literasi News – Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan ”sejak awal virus corona mewabah di tanah air, yang kemudian berdampak pada sistem pendidikan dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ), adalah dampak psikologis bagi siswa, guru, termasuk orang tua”.

Menurutnya, dampak dari pandemi sangatlah luas. dengan diberlakukannya karantina, di mana sebagian daerah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi mencegah terpapar virus corona. setiap orang terpaksa harus berdiam diri di rumah. Kondisi inilah yang berefek pada kondisi psikologis setiap orang.

Kemendikbud sendiri telah menyatakan Secara keseluruhan sekolah diliburkan selama pandemi Covid-19. Kegiatan peliburan ini dialihkan menjadi pembelajaran di rumah home learning atau TFH Teaching From Home untuk mencegah penularan Covid-19. Kegiatan Home learning atau TFH disesuaikan dengan kemampuan, fasilitas, dan ketersediaan akses internet yang ada di masing-masing daerah. Berbagai macam media Home learning atau TFH mulai dari online, offline, dan media lainnya.

Namun, hanya ada satu sekolah saja yang tetap menjalankan KBM secara normal, dikarenakan sekolah tersebut berada di dalam pondok/ asrama, santri tidak keluar pondok sama sekali, dan sekolah telah menerapkan prosedur sesuai anjuran pemerintah, sehingga ini dinilai aman untuk tetap melaksanaan KBM seperti biasa.

Selain itu, Kemendikbud juga memutuskan untuk membatalkan ujian nasional (UN) di tahun 2020. “Tidak ada yang lebih penting daripada keamanan dan kesehatan siswa dan keluarganya," kata Nadiem beberapa waktu lalu. Dengan diberlakukannya kebijakan pembatalan UN tersebut, maka keikutsertaan UN tidak menjadi syarat kelulusan sekolah atau seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Pembatalan UN tahun 2020 ini berkaitan dengan proses penyetaraan bagi lulusan program Paket A, Paket B, dan Paket C yang ditentukan kemudian. Menindaklanjuti hal penyetaraan bagi lulusan program Paket A, Paket B, dan Paket C, pelaksanaannya telah diatur oleh Kemendikbud. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Proses Penyetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C Tahun Ajaran 2019/2020.

Kebijakan belajar dari rumah ini sangat mengubah kebiasaan, ataupun perilaku guru dan siswa selama ini. Bagaimana tidak, selama ini Guru mengajar di kelas dalam artian mengajar di sebuah banguanan sekolah yang memiliki fungsi belajar mengajar, dengan didukung oleh sarana penunjang proses belajar mengajar tersebut. Namun mau apa dikata, pandemi Covid-19 telah mengubah segalanya. setidaknya Pembelajaran ini membantu keberlangsungan pembelajaran di masa pandemi ini. Guru dan siswa akan tetap aman berada pada tempat atau rumahnya masing-masing tanpa harus keluar rumah dan bertatap muka secara langsung. Agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan dengan baik selama masa pandemi ini maka ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan di antaranya:

Inovasi pembelajaran merupakan solusi yang perlu didesain dan dilaksanakan oleh guru dengan memaksimalkan media yang ada seperti media daring (online). Guru dapat melakukan pembelajaran menggunakan metode  E-Learning yaitu pembelajaran memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat komputer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet, guru dapat melakukan pembelajaran bersama diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti Whatsapp (WA), Telegram, aplikasi Zoom ataupun media sosial lainnya sebagai sarana pembelajaran sehingga dapat memastikan siswa belajar di waktu bersamaan meskipun di tempat yang berbeda.

1.      Guru dapat memberikan tugas terukur namun tetap memastikan bahwa setiap hari pembelajaran peserta didik terlaksana tahap demi tahap dari tugas tersebut.

2.      Kepala Sekolah berinovasi dalam menjalankan fungsi supervisi atau pembinaan kepada Guru untuk memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar telah dilakukan oleh guru dan peserta didik meskipun menggunakan metode jarak jauh (daring).

3.      Merancang kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi darurat bencana Covid-19 ini melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi (kelas pintar). Langkah ini sangat penting mengingat bahwa kegiatan belajar mengajar akan dilakukan oleh guru dan peserta didik meskipun menggunakan metode jarak jauh (daring).

4.      Melakukan pelatihan daring secara singkat mengenal platform Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Guru-guru yang melek IT mendampingi guru lain yang belum bisa sehingga ketercapaian penggunaan dan pengoperasian platform dapat dijalankan. Kini, untuk kuota para Guru pun sudah dimasukkan ke dana BOS sesuai edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga kendala kuota bukan lagi menjadi penghalang bagi para guru untuk mengoperasikan aplikasi pembelajaran daring/online.

Dengan demikian, pembelajaran daring sebagai solusi yang efektif dalam pembelajaran di rumah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, physical distancing juga menjadi pertimbangan dipilihnya pembelajaran tersebut. Kerjasama yang baik antara guru, siswa, orangtua siswa dan pihak sekolah menjadi faktor penentu agar pembelajaran daring lebih efektif.

Penulis: Wahyu Munaini