Pengikut

Selasa, 12 Januari 2021

Corona, Pandemi Virus (Covid-19) terhadap Pembelajaran Daring (online)

 


Wabah Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda lebih dari 200 Negara di dunia telah memberikan tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan. Dalam rangka mengantisipasi penularan virus tersebut pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Seperti isolasi, social and physical distancing, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan seluruh warga negara untuk tetap stay at home, bekerja, beribadah dan belajar di rumah.

Kondisi demikian menuntut lembaga pendidikan untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Salah satu bentuk inovasi tersebut ialah dengan melakukan pembelajaran secara online atau biasa disebut dengan sitem belajar daring (dalam jaringan). Akan tetapi, inovasi tersebut melahirkan sebuah permasalahan baru  dalam sistem pembelajaran, mulai dari terbatasnya kuota, banyaknya tugas, penguasaan IT yang masih terbatas, telat ’absen’ karena tidak terbiasa menggunakan sistem daring, jaringan yang tidak stabil karena kondisi pelajar yang ada di pedesaan, dan lain sebagainya.

Sementara itu bagi para pelajar, hambatan terbesar mereka adalah tugas dari pengajar yang semakin tak terkendali. Banyaknya tugas yang menumpuk dirasa menjadi hambatan utama bagi mereka, karena para pelajar belum terbiasa dengan sistem pembelajaran daring. Kondisi tersebut tentunya akan memberikan dampak buruk bagi psikologis mereka.  Staf Sub-bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar, Lyly Puspa Palupi mengatakan “Dampak belajar daring yang telah berjalan lebih tujuh bulan berdampak pada psikologis anak, mulai dari rasa bosan dengan aktivitas di rumah saja, anak juga dituntut beradaptasi belajar dari rumah yang pasti berbeda dengan di kelas sehingga hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kondisi tertekan pada psikis anak dan berpotensi munculnya stres pada anak," kata Lyly, Ahad (4/10).Hal ini tentunya harus diantisipasi mengingat kesehatan mental menjadi hal yang utama dipertahankan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, baik pelajar maupun pengajar disarankan untuk melakukan aktifitas yang berguna untuk meningkatkan sistem imunitas seperti menonton, berolahraga, bercengkrama dengan keluarga, komunikasi dengan teman sejawat, dan lain sebagainya. Jika gangguan semacam tersebut mampu diatasi, maka minat belajar akan tetap terjaga sehingga proses belajar mengajar akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Nurhasanah dan Sobandi (2016) menyatakan bahwa ”minat belajar ini merupakan determinasi dari hasil belajar siswa sehingga minat belajar ini harus tetap dipertahankan”.

Selain itu, pandemi ini juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dunia pendidikan baik dalam segi sosial, non sosial, fisiologis, maupun segi psikologis. Dalam segi sosial yaitu dengan adanya kebijakan social distancing ini mengakibatkan diadakannya peralihan pembelajaran yang memaksa peserta didik untuk mengikuti alur yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran tetap bisa berlangsung, sedangkan yang menjadi pilihan adalah dengan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajran daring.

Dinyatakan oleh Agus Nana Nuryana M.Pd. bahwa ”kebijakan social distancing berakibat fatal terhadap roda kehidupan manusia, tak terkecuali pada bidang pendidikan ikut juga terdampak kebijakan ini. Keputusan pemerintah yang mendadak dengan melibatkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah menjadi di rumah membuat kelimpungan banyak pihak”. Ketidak siapan stakeholder sekolah/madrasah melaksanakan pembelajaran daring menjadi faktor utama kekacauan ini.

Segi non-sosial yaitu dari pemanfaatan teknologi ini juga terdapat banyak kendala seperti signal, fasilitas, alat belajar dan lain-lain. Sedangkan dalam segi fisiologis, anak akan merasa lelah, capek harus menghadap layar laptop atau layar hp terus menerus dengan berbagai macam tugas yang menumpuk dan tak terjadwal dengan baik. Dalam kondisi semacam itu anak akan merasa lebih capek daripada dengan sekolah biasa yang hanya lelah pada saat pembelajaran berlangsung dan mungkin ada PR tapi tidak begitu banyak.

Dalam segi psikologis, ini yang sangat berpengaruh bagi pelajar terutama anak-anak. mereka tidak bisa keluar rumah, tidak bisa bermain lebih leluasa dan hanya memikirkan tugas-tugas yang diberikan. sehingga kebijakan social distancing akan sangat menganggu psikis anak, dia akan merasa sangat bosan dan bisa jadi si anak akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. dan disini orang tua sangat berperan penting dalam mendampingi anaknya.

Literasi News – Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan ”sejak awal virus corona mewabah di tanah air, yang kemudian berdampak pada sistem pendidikan dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ), adalah dampak psikologis bagi siswa, guru, termasuk orang tua”.

Menurutnya, dampak dari pandemi sangatlah luas. dengan diberlakukannya karantina, di mana sebagian daerah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi mencegah terpapar virus corona. setiap orang terpaksa harus berdiam diri di rumah. Kondisi inilah yang berefek pada kondisi psikologis setiap orang.

Kemendikbud sendiri telah menyatakan Secara keseluruhan sekolah diliburkan selama pandemi Covid-19. Kegiatan peliburan ini dialihkan menjadi pembelajaran di rumah home learning atau TFH Teaching From Home untuk mencegah penularan Covid-19. Kegiatan Home learning atau TFH disesuaikan dengan kemampuan, fasilitas, dan ketersediaan akses internet yang ada di masing-masing daerah. Berbagai macam media Home learning atau TFH mulai dari online, offline, dan media lainnya.

Namun, hanya ada satu sekolah saja yang tetap menjalankan KBM secara normal, dikarenakan sekolah tersebut berada di dalam pondok/ asrama, santri tidak keluar pondok sama sekali, dan sekolah telah menerapkan prosedur sesuai anjuran pemerintah, sehingga ini dinilai aman untuk tetap melaksanaan KBM seperti biasa.

Selain itu, Kemendikbud juga memutuskan untuk membatalkan ujian nasional (UN) di tahun 2020. “Tidak ada yang lebih penting daripada keamanan dan kesehatan siswa dan keluarganya," kata Nadiem beberapa waktu lalu. Dengan diberlakukannya kebijakan pembatalan UN tersebut, maka keikutsertaan UN tidak menjadi syarat kelulusan sekolah atau seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Pembatalan UN tahun 2020 ini berkaitan dengan proses penyetaraan bagi lulusan program Paket A, Paket B, dan Paket C yang ditentukan kemudian. Menindaklanjuti hal penyetaraan bagi lulusan program Paket A, Paket B, dan Paket C, pelaksanaannya telah diatur oleh Kemendikbud. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Proses Penyetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C Tahun Ajaran 2019/2020.

Kebijakan belajar dari rumah ini sangat mengubah kebiasaan, ataupun perilaku guru dan siswa selama ini. Bagaimana tidak, selama ini Guru mengajar di kelas dalam artian mengajar di sebuah banguanan sekolah yang memiliki fungsi belajar mengajar, dengan didukung oleh sarana penunjang proses belajar mengajar tersebut. Namun mau apa dikata, pandemi Covid-19 telah mengubah segalanya. setidaknya Pembelajaran ini membantu keberlangsungan pembelajaran di masa pandemi ini. Guru dan siswa akan tetap aman berada pada tempat atau rumahnya masing-masing tanpa harus keluar rumah dan bertatap muka secara langsung. Agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan dengan baik selama masa pandemi ini maka ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan di antaranya:

Inovasi pembelajaran merupakan solusi yang perlu didesain dan dilaksanakan oleh guru dengan memaksimalkan media yang ada seperti media daring (online). Guru dapat melakukan pembelajaran menggunakan metode  E-Learning yaitu pembelajaran memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat komputer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet, guru dapat melakukan pembelajaran bersama diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti Whatsapp (WA), Telegram, aplikasi Zoom ataupun media sosial lainnya sebagai sarana pembelajaran sehingga dapat memastikan siswa belajar di waktu bersamaan meskipun di tempat yang berbeda.

1.      Guru dapat memberikan tugas terukur namun tetap memastikan bahwa setiap hari pembelajaran peserta didik terlaksana tahap demi tahap dari tugas tersebut.

2.      Kepala Sekolah berinovasi dalam menjalankan fungsi supervisi atau pembinaan kepada Guru untuk memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar telah dilakukan oleh guru dan peserta didik meskipun menggunakan metode jarak jauh (daring).

3.      Merancang kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi darurat bencana Covid-19 ini melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi (kelas pintar). Langkah ini sangat penting mengingat bahwa kegiatan belajar mengajar akan dilakukan oleh guru dan peserta didik meskipun menggunakan metode jarak jauh (daring).

4.      Melakukan pelatihan daring secara singkat mengenal platform Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Guru-guru yang melek IT mendampingi guru lain yang belum bisa sehingga ketercapaian penggunaan dan pengoperasian platform dapat dijalankan. Kini, untuk kuota para Guru pun sudah dimasukkan ke dana BOS sesuai edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga kendala kuota bukan lagi menjadi penghalang bagi para guru untuk mengoperasikan aplikasi pembelajaran daring/online.

Dengan demikian, pembelajaran daring sebagai solusi yang efektif dalam pembelajaran di rumah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, physical distancing juga menjadi pertimbangan dipilihnya pembelajaran tersebut. Kerjasama yang baik antara guru, siswa, orangtua siswa dan pihak sekolah menjadi faktor penentu agar pembelajaran daring lebih efektif.

Penulis: Wahyu Munaini

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar