Pengikut

Rabu, 27 Januari 2021

Gugurnya Nasionalisme karena Membela Palestina

Perdebatan yang kerap muncul ketika membahas perjuangan untuk Palestina adalah,  “Mengapa kita membela yang jauh, sementara negeri sendiri saja masih banyak masalahnya. Pernyataan tersebut seharusnya tidak jika kita mengerti esensi perjuangan. Bukankah membantu yang jauh tetap tidak serta merta melupakan yang dekat? Bukankah membantu negara lain juga bukan berarti tidak membantu negeri sendiri? Tidak jarang pula muncul kalimat semacam “Orang-orang yang sibuk membela Palestina, nasionalismenya sudah terkikis.” Namun memang sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kalimat-kalimat pemicu perdebatan di atas masih sering terdengar hingga hari ini.

Ada satu fase sejarah yang dapat menunjukkan kepada kita bahwa seseorang tidak harus menunggu selesainya urusan (negeri) sendiri untuk membantu yang lain. Fase sejarah tersebut akan mempertunjukkan kepada kita bagaimana Palestina mau memberikan dukungan dan pembelaan kepada Indonesia. Pembelaan tersebut terjadi ketika Indonesia masih dalam masa merintis kemerdekaan, walaupun pada saat itu urusan negaranya sendiri pun sedang porak-poranda.

Pada tahun 1944, sejarah mencatat bahwa Palestina mendukung kemerdekaan Indonesia, hal itu disiarkan melalui muftinya yang bernama Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Tidak berhenti di situ, beliau juga mendesak negara-negara di Timur Tengah untuk memberikan dukungan kepada Indonesia. Hasilnya, pada tanggal 18 November 1946 Dewan Liga Arab menganjurkan negara-negara anggotanya untuk mengakui kedaulatan Indonesia (Hasan, 1990). Padahal pada kisaran tahun 1944-1946 Palestina juga sedang babak-belur memperjuangkan tanah airnya dari tekanan penjajah Zionis yang terus menerus mencuri wilayahnya.

Sejak tahun 1917 ia mengalami penjajahan Inggris lalu berlanjut dengan penjajahan oleh Zionis hingga hari ini. Namun, hal yang dapat dilihat di sana adalah para pendahulu Palestina tidak menunggu urusan negaranya rampung terlebih dahulu untuk mau bergerak peduli terhadap negara lain yang membutuhkan bantuan. Ada perasaan-perasaan kemanusiaan yang dapat digunakan untuk memahaminya.

Lalu apakah Indonesia melakukan hal yang sama? Menarik sejarah lebih jauh ke era sebelum merdeka, pada tahun 1930 melalui pemuda-pemuda visioner dari Jong Islamieten Bond (JIB) yang salah satu anggotanya adalah KH. Agus Salim, mereka menyatakan penolakan akan penjajahan Zionis di tanah Palestina dan bersuara keras untuk membela Palestina. ketika itu masih 15 tahun sebelum Indonesia merdeka, para pendahulu Indonesia juga tetap bergerak memberi bantuan kepada negara lain walaupun negaranya sendiri tengah kalang-kabut memperjuangkan kemerdekaan.

Pada tiga tahun selanjutnya, tahun 1938 Kongres Al-Islam digelar di Surabaya yang diikuti oleh berbagai pergerakan Islam kala itu seperti Muhamadiyyah, Nahdlatul Ulama, Jong Islalmieten Bond, Al-Irsyad, dsb). Kongres ini mengangkat isu Palestina dan selanjutnya membuahkan keputusan untuk mengirimkan do’a dan menggalang dana untuk Palestina, untuk kemudian menyatakan aspirasi bahwa mereka menolak rencana Inggris untuk membagi-bagi wilayah Palestina.

Beberapa hal tersebut adalah bukti bahwa Indonesia sudah sejak lama memiliki kepedulian kepada Palestina. Bagi sebagian orang ada yang berpendapat bahwa berdoa dan menggalang dana sudah hal yang lazim dilakukan, namun melihat sejarah tentu harus menempatkan diri di mana kejadian itu terjadi. Tahun-tahun tersebut, Indonesia masih belum terbentuk, masih dijajah oleh Belanda lalu Jepang, namun alih-alih menutup mata dari kejadian di luar bangsanya, para pendahulu mencontohkan bagaimana memberikan kepedulian saat kondisi bangsa sendiri sedang tidak ideal.

Sekecil apapun pergerakan yang dilakukan, bahkan meskipun hanya dengan pernyataan sikap penolakan atas penjajahan hal tersebut merupakan perwujudan dari sebuah keberpihakan. Keberpihakan sebagaimana dahulu semut-semut yang begitu kecilnya membawakan air untuk meredam api yang membakar Nabi Ibrahim, bukan sesuatu yang besar memang, tapi tentu ada perhitungan dan menentukan di sisi mana mereka berpihak.

Melihat catatan sejarah tersebut, maka pencibiran kepada seseorang yang membantu Palestina dianggap tidak nasionalis rasanya justru merupakan ahistoris. Buktinya pendahulu Indonesia di samping berjuang untuk negaranya juga tetap bergerak membantu negara lain (Palestina). Bukankah mereka para pejuang kemerdekaan adalah orang yang nasionalis? Dan lihatlah, menjadi nasionalis bukan berarti tidak peduli sesama manusia di negara lainnya. Memang justru di sanalah poin pentingnya. Indonesia memiliki kehebatan karena mau peduli. Dengan hal ini tentu saja mengartikan jika kepedulian itu hilang, kehebatan itu terkikis pula.

Hal-hal lain yang tak jarang ditanyakan orang adalah, “Mengapa mau bergerak untuk Palestina?”.  Tentu ada banyak alasan untuk membuat kita bergerak, di antaranya:

a.       Alasan aqidah. Sebagai muslim, Palestina merupakan hal yang menancap erat dalam aqidah. Jantung Palestina berada di Al-quds dan di sana terdapat kiblat pertama bagi umat muslim, Masjid Al-aqsha. Maka sebagai seorang muslim, membela Palestina sama halnya dengan memperjuangkan aqidahnya sendiri. Selain itu dalam firman Allah pada QS: Al-Isra ayat 1, menyatakan bahwa Allah memperjalankan Rasullah pada suatu malam dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-aqsha, lalu selanjutnya menuju Sidratul Muntaha. Jika melihat tafsir yang dikemukakan oleh Sayid Quthb, hal ini memiliki makna Allah ingin menegaskan bahwa Rasulullah adalah pewaris dari tempat suci para nabi sebelumnya, di mana  Allah hendak menunjukkan bahwa seharusnya umat muslim memiliki kepedulian di sana. Lihat saja, bukankah mudah sekali bagi Allah memperjalankan Rasulullah dari Masjd Al-haram langsung menuju Sidratul Muntaha? Namun untuk mengikatnya dalam aqidah, Allah sertakan Masjid Al-Aqsha dalam perjalanan Rasulullah Muhammad SAW.

b.      Alasan kemanusiaan. Hal ini barang tentu sudah jelas. Masalah Palestina berkaitan dengan hak asasi manusia yang telah dilanggar. Banyak rumah yang digusur, anak-anak tidak bersalah yang ditembak, para jurnalis dan tenaga medis yang direnggut nyawanya di tengah bertugas.

c.       Alasan keterkaitan sejarah. Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa Indonesia dan Palestina sudah memiliki keterkaitan saling membantu di masa lalu. Hal ini tentu bermakna positif, maka perlu untuk terus dipertahankan.

Melihat alasan-alasan tersebut, maka tentu Palestina adalah tanggungjawab bersama. Mungkin rasanya hari ini terdengar aneh untuk mengatakan jika persoalan Palestina juga merupakan tanggungjawab kita. Sebabnya memang dari hari ke hari persoalan Palestina dipersempit maknanya. Sehingga tidak heran, banyak yang merasa Palestina begitu jauh, padahal ia adalah detak yang beriringan dan menyatu dengan Indonesia bersama islam.

Nasionalisme tidak akan hilang karena membela Palestina, bahkan para pendahulu sudah banyak menyontohkan bagaimana pembelaan yang selayaknya. Saat kita mengulurkan tangan untuk membela Palestina, kita berarti tengah menuntaskan salah satu tanggungjawab kita. Karena jika kita memilih Islam sebagai jalan hidup, maka Palestina adalah bagian dari aqidah yang harus diperjuangkan. Ya, sesungguhnya Palestina sedekat itu.

 

Penulis: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah, Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta

  e-mail : hanifahrf31@gmail.com

 

 

 

Referensi:

Hasan, M. (1990). Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri. Jakarta: Bulan Bintang.

Quthb, S. (2004). Tafsir Fii Zhilalil Qur'an: Jilid 14. Jakarta: Gema Insani.

0 komentar:

Posting Komentar