Pengikut

Jumat, 29 Januari 2021

Mindfulness: Sebuah Teori Psikologi tentang Khusyuk dan Syukur

Apa itu mindfulness?

Sebagai seorang umat beragama, tentunya kita mengenal istilah khusyuk dan syukur. Sebuah istilah yang banyak dikaitkan dengan keadaan batin seseorang. Katanya, untuk menjadi seorang hamba yang dekat dengan tuhannya, kita harus pandai bersyukur, pun khusyuk saat melakukan perjumpaan dengan Tuhan. Siapa sangka, dalam ilmu psikologi ternyata terdapat sebuah istilah yang dapat mendefinisikan istilah syukur dan khusyuk dengan sangat baik.

Mindfulness adalah sebuah istilah yang merujuk pada praktik untuk menyadari kenyataan dan realitas yang benar-benar terjadi pada masa kini, sekaligus hadir dan menerima segala lika-liku yang melingkupinya apa adanya (present moment). Jika diperhatikan secara seksama maka akan terlihat pola hubungan antara praktik mindfulness dengan sikap syukur dan khusyuk yang ditekankan dalam istilah keagamaan,  yaitu kesadaran penuh untuk menikmati segala peristiwa yang hadir dengan hati lapang untuk menerimanya. Dalam ilmu psikologi, praktik mindfulness ini penting untuk dilakukan bagi setiap individu karena memiliki beragam manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hidup praktisinya.

Harvard University pernah melakukan riset tentang praktik mindfulness ini. Riset tersebut kemudian berkesimpulan bahwa seseorang yang sering berlatih mindfulness dalam realitas kehidupannya, cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Di mana kemungkinan mereka terserang dan terjerembab pada pikiran negatif, stres, hingga gangguan kecemasan lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tidak. Saya dibuat kagum saat menyadari pola hubungan dari praktik mindfulness dengan sikap syukur dan khusyuk dalam agama.

Dalam perintah agama dijelaskan bahwa ketika seseorang mampu untuk bersyukur atas segala nikmat yang dimilikinya, maka Tuhan menjamin akan menambah kenikmatan tersebut. begitupun sebaliknya, ketika kita tidak mampu menyemai rasa syukur, kita akan ditimpa dengan kemalangan.

Pada awalnya, saya memaknai term tersebut dengan sangat sederhana, pemahaman yang cenderung materialistis. Saya memahami, bahwa ketika Tuhan memberikan saya nikmat sebuah mobil, kemudian saya mensyukuri nikmat tersebut maka tuhan akan menambah nikmat saya menjadi sebuah mobil dan dua buah sepeda motor misalnya. Begitu seterusnya. Maka tak heran, jika dalam realitas sosial, kebanyakan dari manusia berhenti dan merasa lelah untuk mensyukuri segala realitas yang tidak sesuai dengan keinginannya karena merasa semuanya terlalu sia-sia dan tak kunjung menemukan titik akhir.

Anggapan tersebut tak sepenuhnya keliru. Karena dalam beberapa kondisi, penambahan nikmat yang dimaksud dapat berupa nikmat material yang secara fisik dapat dilihat dan dirasakan. Kendati demikian, jika kita perhatikan pola dari praktik mindfulness sendiri, dapat kita sadari bahwa dengan melakukan praktik mindfulness, Kita dapat merasakan sebuah kenikmatan yang datang dari dalam diri, terlepas dari segala nikmat materi yang datang dari luar. Seperti ketenangan batin, terhindar dari distraksi (pikiran yang terbagi) dalam berpikir, peningkatan produktivitas, dan kemungkinan untuk mengalami stress dan depresi yang lebih kecil.

Selain itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard Bussiness school menyatakan bahwa untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Seorang individu setidaknya perlu melakukan praktik mindfulness atau refleksi seperti  meditasi dan lain-lain sekurang-kurangnya 15 menit setiap harinya. Dari studi tersebut juga kemudian disimpulkan bahwa seseorang yang terbiasa melakukan refleksi atas kehidupan dan segala aktifitas dirinya, mengalami kenaikan produktivitas hingga 23%. Kendati demikian, di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, umat manusia digadang-gadang justru semakin sulit untuk dapat melakukan praktik mindfulness ini.

Salah satu faktor yang menjadikan seorang individu sulit untuk melakukan praktik mindfulness atau fokus pada situasi kini adalah karena pola pikir manusia yang mudah terdistraksi dengan keadaan lampau maupun mendatang. Pada kasus lain. hadirnya media sosial di tengah kemajuan dan derasnya arus informasi memberi dampak lain terhadap kualitas hidup seseorang, yaitu masifnya praktik membandingan kehidupan yang kita miliki dengan kehidupan individu lain, dan berujung pada tidak mindful-nya (fokus) kehidupan kita sendiri.

Amanda Margaret dari Universitas Diponegoro menjelaskan, bahwa praktik mindfulness setidaknya memiliki 4 komponen utama yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang di antaranya; Memaafkan (forgiveness), Berpikir rasional (rationality), Penerimaan (acceptance), dan Bersyukur (gratitude).

Forgiveness atau memaafkan, berkonotasi pada proses memaafkan segala hal buruk yang tidak sesuai dengan keinginan diri di masa lampau. Pada konotasi ini dinyatakan, bahwa seorang praktisi mindfulness memiliki kecenderungan untuk lebih mampu memaafkan sekaligus bersikap toleran atas segala hambatan serta hal buruk yang terjadi. Di lain sisi, pelaku praktik mindfulness juga dapat melatih kesadaran diri agar dapat bersikap lebih rasional, dan terhindar dari segala perilaku impulsive (tindakan tidak rasional).

Hal tersebut disebabkan oleh latihan mindfulness pada segala aktivitas yang terjadi. Sehingga secara tidak langsung otak dan pikiran kita dilatih untuk menyadari segala tindak-tanduk dan keputusan yang dibuat dalam hidup. Kemudian, praktik ini juga dapat mengantarkan praktisinya pada proses penerimaan dan rasa syukur terhadap segala kejadian yang terjadi. Sehingga praktisinya dapat memaknai dan menerima segala lika liku kehidupan dengan hati lapang.

Dari pengalaman saya bertemu berbagai macam individu. Manusia era modern cenderung mudah untuk mengotak-ngotakkan segala problematika kehidupan. Misalnya musibah yang menimpa dirinya akan dikatakan sebagai sebuah nasib buruk. Begitupun sebaliknya, ketika mendapatkan sebuah keberuntungan, maka dengan mudah menganggapnya sebagai sebuah nasib baik.

Saya pernah membaca sebuah Cerita Rakyat Cina yang menjelaskan tentang nasib buruk dan nasib baik manusia. Cerita rakyat tersebut menjelaskan tentang kemungkinan hadirnya keberuntungan setelah kemalangan. Begitupun sebaliknya . Sehingga apa yang perlu dilakukan oleh seorang manusia hanyalah menjalani segala aktivitas yang ada dengan sebaik-baiknya, dengan cara hadir, utuh, dan fokus pada masa kini.

Praktik mindfulness yang dimaksudkan dengan hidup pada masa kini, sekarang dan saat ini bukan berarti melalaikan masa depan. Dalam praktik mindfulness, manusia dapat mempersiapkan masa depan dengan sebaik-baiknya, dengan hidup secara maksimal pada masa kini. Sehingga hal tersebut tentunya tidak selaras dengan sikap menyerah dan cenderung pasrah, menyerahkan semua kejadian hanya pada takdir semata, tanpa adanya usaha yang menyertai.

Dari beberapa uraian di atas, dapat kita lihat bagaimana manfaat dan korelasi dari praktik mindfulness dengan sikap khusyuk dan syukur yang ada dalam agama. Bahwa anjuran untuk bersyukur dan khusyuk dalam melakukan suatu kegiatan tidak hanya bermanfaat dan dianjurkan dalam aspek spiritual saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, ahli jiwa terkemuka dunia juga menganjurkan agar setiap warga dunia tetap menjaga kewarasan dalam menjalani hiruk pikuk yang ada dengan latihan mindfulness. Praktik tersebut juga memperlihatkan tentang bagaimana kualitas hidup seseorang dapat terjaga di tengah kemajuan zaman seperti saat ini dengan terus menyadari, mensyukuri, dan fokus untuk mengembangkan kualitas hidup kita pada masa kini.

 

Wallahu ‘alam

  Penulis: Nanda Dwi Sabriana

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar