Pengikut

Kamis, 11 Februari 2021

Salam Rindu (Part 2)

 


Setelah tes dan alhamdulillah dinyatakan lulus seperti kedua teman yang lainnya, saya mulai berpikir soal teknisi. “Berangkat?” Lama saya berpikir. Setelah itu saya bertanya pada salah seorang senior pondok.

“Pergilah, Dek! Kesempatan tidak datang 2 kali,” katanya. Kata-kata itu betul-betul menyulut api semangat saya.

Kemudian saya lanjut dengan salat istikharah. Tidak ada mimpi di dalam tidur saya selepas salat istikharah itu. Barulah di malam kedua setelahnya, saya bermimpi turun dari pesawat dan yang saya lihat adalah hamparan pasir. Kutapaki hamparan pasir itu dengan senyum merekah. Di ufuk barat terlihat tenggelam sang surya dengan semburatnya yang jingga. Saya terbangun, dan saya artikan saja bahwa pasir itu adalah gurun pasir di Mesir.

Terus saya tanya orang tua soal biaya, “Bagaimana ini, Bapak, Emak? Siap jiki?”

Bapak lagsung menimpali, “Pergilah, Nak! Kalau kau betul-betul berniat untuk itu, soal biaya jangan kau hiraukan! Bapak sekarang tidak punya uang. Tapi yakinlah rezeki Allah! Percayalah!”

Untuk keberangkatan yang menegangkan, saya terlebih dahulu mengurus visa. Tiga bulan lamanya visa baru selesai, baru bisa berangkat dari kota kecil kelahiran menuju kota Makassar, transit ke Jakarta, dan kemudian ke Kairo. Berbunga-bungalah sang hati. Saya sudah seperti jatuh cinta pada seorang kekasih. Nyatanya saya hanya tak sabar menginjakkan kaki di Mesir.

Dua orang teman yang juga lulus untuk kuliah ke Mesir, ternyata punya kendala dari restu keluaga. Yang satunya tidak disetujui oleh kakek atau mungkin neneknya kalau tidak salah, untuk kuliah terlalu jauh, sehingga dia kuliah di IAIN kota kelahiran. Sedangkan yang satunya tidak direstui oleh hati kecil sebagian anggota keluarga ditambah persoalan beasiswa yang dia lulusi dari sebuah kampus yang didaftari, dan jika tidak diambilnya maka akan berdampak buruk kedepannya bagi angkatan madrasah Aliyah di bawah kami. Jadilah saya hanya berangkat seorang diri mewakili alumni pondok tahun itu.

Di momen itu saya menemukan sebuah makna dari dua forum gaib dari dalam rindu. Satu; keluarga, dua; teman-teman. Saya sebut satu persatu nama-nama orang yang saya sebut teman-teman itu sepanjang perjalanan. Kudoakan agar sukses dan kita akan bertemu kembali dengan setumpuk kisah masing-masing untuk diobrolkan menghabiskan waktu. Sepertinya akan sudah lebih berbobot dengan perkembangan masing-masing yang sudah ada.

Di kota para Karaeng, kota Makassar yang saat malam kerlap-kerlip jalan rayanya membuat jatuh cinta, saya menemukan haru yang tidak akan terlupakan sampai pulang kembali ke kota tercinta itu. Moment keberangkatan, diwarnai oleh dua pihak yang awalnya jelas memberi dampak bangga pada pribadi, yakni keluarga dan teman-teman. Keduanya rela datang dari jauh-jauh, membuat saya haru, bangga, dan cinta dengan mereka. Agak dramatis air mata setengah mati saya larang jatuh, dekap para sahabat sepondok seperjuangan sependeritaan selama tiga sampai enam tahun selama di pondok, membuat saya haru dan agak tidak enak hati untuk tidak total mengincar sukses. Kedua orang tua saya melepas kepergian dengan tegar. Tidak saya lihat adanya lubang dalam pekatnya cinta dan kasih mereka saat itu.

Transit di bandara kota Jakarta, tiga orang teman yang kuliah di Bandung menyempatkan datang ke bandara ibu kota itu hanya untuk melepas kepergian saya. Dikisahkannya perjalanan mereka dari kota Bandung menuju bandara ibu kota melalui kantung mata yang menghitam di bawah mata mereka. Mata-mata yang selalu saya kenali mampu memberi sorot untuk menunjukkan beratnya ilmu dan abdi penggunanya dalam kehidupan ini.

“Mana buku yang kau janjikan, Mas Bro?” saya bertanya pada teman yang rambutnya sudah berponi. Padahal semenjak di pondok, rambutnya itu tidak pernah sepanjang itu sebab akan selalu dipotong oleh guru piket jika menjelang ulangan tengah atau akhir semester. Katanya itu balas dendam. Orang Bone harus gondrong jika merantau, katanya saat itu.

Dia terlihat mengeluarkan buku hitam dari dalam tas selempangnya. Kubaca judul dan sinopsisnya, buku itu bercerita tentang sejarah spesifik tentang seorang ahli kalam yang dianggap menyalahi akidah yang benar. Tak saya pedulikan untuk sementara apa isi buku itu lebih lanjut, lebih kupilih untuk menghabiskan waktu bersama mereka bertiga sebelum waktu keberangkatan tiba.

Selama beberapa jenak saya terhibur dengan hadirnya mereka melepas kepergian saya, pada akhirnya juga masih saja dengan kesedihan. Saya peluk mereka dengan agak malu. Mereka bertiga malah lebih tegar karena sepertinya lelahnya sudah lebih dominan daripada sedihnya. Hanya saja senyuman bangga di bibir-bibir tebal mereka tidak tersembunyi. Saya ucap sampai jumpa. Dan ribut cecakap di bandara itu menjelma menjadi nyanyian kepergian Layla yang dipinang lelaki lain kala Qais pun menjadi gila.

Cairo, Mesir. Kota para nabi. Dan kota para ulama kontemporer zaman sekarang. Kedatangan di Mesir dengan semangat serta tekad yang membara, begitu pula amanah yang harus ditunaikan, pastinya. Di kala sampai saya disambut oleh seorang senior yang juga alumni dari pondok. Bersama beberapa dari temannya, saya disambut hangat.

Luar negeri, Mesir. Melewati musim dingin yang fantastis. Salju yang tidak saya tahu bagaimana tentang benda-benda kecil beku putih dan turun pelan layaknya hujan kapas bermassa agak berat itu membuat saya menyadari bahwa saya benar-benar telah berda di negeri orang dengan segala bekal yang ada. Mesir, Bung. Kota yang dua kali takluk ini ternyata sangat dingin di malam hari. Atau mungkin karena ini musim dingin? Entah. Saya belum tahu banyak.

Di sela-sela ranting cuaca dingin di malam hari saat itu, saya mulai menerka batin yang sudah agak tenang. Kubaca beberapa pesan di layar ponsel, ternyata teman-teman di Indonesia masih saja banyak tanya soal apa saja. Banyak hal yang rasanya tidak terjelaskan kala menerima bacot-bacot di ponsel saya itu. Kutahu beberapa di antara mereka cemburu. Kutahu pula mereka terlampau bangga. Yang cemburu itu biasanya akan semakin termotivasi, dan seterusnya.

Tiba pada pembahasan cerita-cerita ini, saat itu, saya meniup udara di depan muka dengan napas yang hangat. Saya bukan perokok, tapi mulut dan hidung saya berasap. Sudah seperti pemain bola liga Eropa. Dan seperti itu seterusnya saya dapati semua hal baru dalam perantauan mencari cahaya ini.

Harusnya saya menerima kenyataan sebagai seorang perantau di negeri orang, tidak akan lepas dari yang namanya status minorotas. Saya tekadkan dalam hati untuk bersaing seberat-beratnya demi mengharumkan nama bangsa dan seterusnya. Sebuah fenomena yang sangat baru saya temui yaitu bom yang hampir ada di setiap bulannya, razia polisi yang kadang menangkap mahasiswa asing cuman karena tidak bawa paspor, kebiasaan naik bus setiap hari, dan seterusnya.

Warna negara maju ini begitu khas dengan sesuai yang diceritakan senior yang menjemput saya di bandara waktu itu. Perlahan mulai terbiasa untuk mengguanakan sapa-sapa tukar basa-basi berbahasa setempat.

Sekarang saya pertegas dalam proses saya ini. Kertas kehidupan saya tidak akan kubiarkan mengusam. Apa yang pernah saya niat, tidak akan saya biarkan termakan tipu-tipu dunia yang menggiurkan. Daya seorang santri harusnya selalu bisa lebih bisa dari apa yang dibisa oleh yang mengajari.

Santri yang tengah menempuh suatu asa di negeri taklukan Amr bin Ash ini, agar bisa merasakan yang namanya pulang ke tanah kelahirannya, cita-cita saya harus berusaha sejalan searah dengan kecintaan saya pada setiap yang dicintai, tekun baca dan berpikir wajib searah sejalan dengan takdir poros inti dari Tuhan yang diberikan.

Jika Qais gila, semoga Layla menggantinya untuk mencinta tanpa batas. Jika teman-teman di Indonesia hanya bisa cemburu dan masih lanjut bermimpi, semoga saya bisa mewakili mereka terlebih awal. Mereka pasti belum tahu kalau rindu sangat jauh berbeda aromanya di negeri orang dan di sana. Rindu di Mesir aromanya salju, Bung. Kalau di sana mungkin sebatas aroma hujan yang tak sampai menghapus kenangan bersamanya?

 

Sel, 24 November 2020. _Abdil (dedikasi untuk seorang teman lama.)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar