Pengikut

Selasa, 02 Maret 2021

Musik dalam Sudut Pandang Agama

 


Hiburan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia untuk menyegarkan pikiran. Pada hakikatnya manusia tidak selalu mengalami atau menghadapi suka, adakalanya manusia mengalami keadaan duka. Maka dari itu manusia membutuhkan sebuah hiburan untuk menyegarkan atau me-refresh otak dari banyaknya beban pikiran yang dialaminya.

Musik merupakan salah satu media untuk meredakan stres. Sebuah penelitian yang berjudul The Effect of Music and the Human Stress Response yang dimunculkan oleh Thoma dan kawan-kawan menyebutkan bahwa musik memiliki pengaruh positif terhadap sistem saraf pusat sehingga ampuh dalam meredakan stres. Efek itu lebih cepat dibandingkan suara hutan atau percikan air yang dianggap menenangkan. Musik itu suara yang berirama. Suara yang berirama bisa dihasilkan tanpa alat  juga bisa disertai alat musik.

Sementara itu ada beberapa ketentuan dalam mengkategorikan bahwa musik itu dibolehkan atau dilarang. Meskipun banyak yang meyakini bahwa musik bisa membangun kesadaran masyarakat atas kondisi sosial yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian jangan sampai musik itu mengantarkan manusia kepada sesuatu yang buruk. Secara umum, ketika musik membawa kepada kemaksiatan dan kesia-siaan, saat itulah mulai diharamkan.

Tuhan menciptakan manusia untuk membangun bumi dalam artian membangun peradaban dengan unsur kebenaran, kebaikan, keindahan. Kebenaran menghasilkan ilmu, kebaikan menghasilkan moral, dan keindahan menghasilkan seni. Islam itu adalah agama fitrah sesuai dengan fitrah manusia (bawaan manusia). Dalam pandangan Islam, musik tidak semata-mata digolongkan sebagai sesuatu yang haram. Dalam Al-Qur’an sendiri  tidak dijelaskan bahwa musik itu termasuk dalam kategori yang halal atau haram.

Secara fikih, hukum mendengarkan musik memang tidak mutlak atau hitam-putih.  Akan tetapi terdapat beberapa pendapat dari para sabahat mengenai boleh atau tidaknya mendengarkan maupun memainkan musik. Diantaranya Abdullah bin Umar mendefenisikan musik itu haram karena pernah suatu ketika Nabi Muhammad saw. sedang menaiki unta, beliau mendengar suara seruling, lalu nabi  mempercepat laju untanya, ketika sudah jauh dan sudah tidak terdengar, Nabi saw. melepas jarinya dari kedua telinganya. Sedangkan menurut pendapat Abdullah bin Abbas tidak haram.

Ketika An-Nabilisy mengkaji semua tentang musik, banyak hadis yang riwayatnya lemah. Sehingga tidak bisa dijadikan rujukan pasti untuk menetapkan sebuah hukum. Dan ternyata dalam pandangan An-Nabilisy semua hadis tidak berlaku secara menyeluruh melainkan terbatas dalam cakupan objek tertentunya. Oleh karena itu, musik-musik yang haram adalah ketika disertai dengan kemaksiatan seperti mabuk dan zina.

Masyarakat sering kali mendefinisikan musik itu sebagai sesuatu  yang haram karena dapat menjerumuskan kepada kesyirikan.  Contohnya, musik barat yang menjadi fenomenal atau musik korea yang telah menjajah kaum muda di Indonesia. Lirik yang diucapkan dalam musik tersebut terkadang memiliki makna yang dapat menyesatkan. Karena tak banyak yang mengetahui artinya, sekalipun ia mengetahui arti dari lirik tersebut ia tetap akan menyenangi musik itu. Maka pentingnya mendudukkan kembali musik pada dasarnya adalah media. Sebagai sebuah media, musik tidak bisa dihukumi apa-apa.

Sejatinya tidak ada larangan dalam hal bermusik, sama seperti seperti suara perempuan,  yang juga bukan merupakan aurat. Tetapi kalau sudah menyimpang dan menimbulkan hal-hal yang bisa mengantarkan seseorang menjauh dari fitrah kesuciannya maka musik diharamkan. Agama hanya melarang  jika dengan bermain dan mendengarkan musik dapat menyita waktu  dengan sia-sia sehingga apa yang penting terabaikan. Contohnya dalam penggunaan pisau. Pisau  menjadi bermanfaat ketika digunakan untuk memotong makanan dan sejenisnya. Dan ia akan menjadi haram ketika digunakan untuk membunuh orang. Semua musik yang mengajak kepada nilai-nilai luhur seperti kemanusiaan, perdamaian, ketulusan, cinta, kesetiaan, dan lain-lain, itu termasuk musik yang baik.

Penulis: Za’im Mahmudy Mujahid-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar