Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Minggu, 02 Mei 2021

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Rangkaian Acara Dalam Rangka Memeriahkan Sersantara (Semarak Santri Nusantara)


CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (02/05)-Badan Pengurus Harian (BPH) kembali mengadakan program kerja dalam rangka memeriahkan hari lahir CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini dinamakan Semarak Santri Nusantara atau biasa disingkat dengan Sersantara. Sersantara merupakan kegiatan rutin tahunan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang sampai saat ini telah mengnjak usia 13 tahun. Selama itu, rangkaian acara pun banyak mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan

Sersantara tahun ini memiliki serangkain kegiatan. Dimulai dari perlombaan MTQ, MQK, dan Pidato bahasa Indonesia tingkat nasional yang dimulai dari tanggal 24 Maret-22 April. Perlombaan-perlombaan tersebut dilaksanakan secara online dikarenakan kondisi dan situasi sekarang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan secara offline. Pada cabang lomba MTQ dan Pidato diambil kejuaraan 1, 2 dan 3 serta favorit. Sedangkan, lomba MQK dilakukan dalam dua tahap. Pertama, babak penyisihan. Kedua, babak final yang diadakan pada Kamis (29/04). Selain itu, Bakti Sosial santunan anak yatim di panti asuhan Bintan Sa'adillah Al-Rasyid Krapyak Yogyakartya turut memeriahkan rangkaian acara Sersantara 2021

Acara puncak sekaligus penutup dari Sersantara ke-13 yaitu tabligh akbar dengan tema "Ramadan Berkah Bersama Milenial Berkualitas". Yarsa Arnanda, selaku ketua panitia mengaku mengambil tema tersebut dilatar belakangi oleh kegelisahan  sebagai generasi millennial yang hidup di era dengan perubahan cepat.

“Generasi milenial adalah generasi yang canggih, jika dididik dengan benar maka akan menjadi generasi emas, tetapi kalau tidak  dididik dengan baik maka akan menjadi masalah”. Ungkapnya

Tabligh akbar tersebut diisi oleh K.H Ulil Abshar Abdalla. Beliau merupakan tokoh intelektual muslim yang banyak digemari generasi millennial.

“Alhamdulillah Kegiatan Sersantara tahun ini telah selesai dan berjalan dengan baik. Hal tersebut tidak lepas dari campur tangan rekan-rekan panitia yang sudah memberikan waktu, tenaga, serta pikirannya untuk menyukseskan acara ini. Selain itu, kesuksesan acara ini juga tidak terlepas dari peran peserta lomba, lembaga panti asuhan, serta para jamaah tabligh akbar yang sangat antusias terhadap kegiatan Sersantara tahun ini. Kurang lebih ada sekitar 300-400 partisipan yang telah berpartisipasi baik dari peserta lomba, lembaga panti asuhan, dan para jamaah tabligh akbar untuk mensukseskan Sersantara tahun ini. Saya mewakili rekan-rekan panitia mengucapkan banyak terimakasih kepada para partisipan yang sudah menyukseskan acara ini”. Imbuhnya ketika diwawancarai

Hal-hal yang Tidak Bisa Mahasiswa Hindari Selama Pandemi

 

2020 nampaknya akan menjadi salah satu tahun yang akan selalu diingat oleh semua orang. Banyak hal baru terjadi di 2020, salah satunya yaitu virus COVID-19 yang masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020 dan mulai mengubah tatanan kehidupan sebelumnya. COVID-19 atau Corona sendiri sebenarnya pertama kali muncul pada akhir tahun 2019 di Wuhan yang kemudian menjadi wabah dan menyebar ke lebih dari 100 negara. Salah satunya Indonesia, yang pada saat awal kemunculannya mematahkan mitos bahwa Indonesia “kebal” dari Corona. Kehadirannya pun memaksa manusia untuk mengubah sistem kehidupan yang semula ada. Banyak sektor yang kemudian terpengaruh oleh adanya virus ini, salah satunya pendidikan.

Persebaran virus Corona yang cenderung cepat mendorong pemerintah harus segera membuat kebijakan baru untuk meminimalisir persebaran tersebut. Merespon hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim pun merumahkan seluruh siswa untuk belajar di rumah. Sebenarnya tidak hanya pelajar yang “dirumahkan”, guru, karyawan, dan pekerja lain pun harus tetap di rumah sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus. Corona bukan hanya tantangan untuk Wuhan, tapi untuk semua manusia di dunia ini.

Bagi mahasiswa sendiri, belajar di rumah pun merupakan suatu tantangan baru. Setelah terbiasa dengan kesibukan di kampus baik itu tugas kuliah yang tidak ada habisnya maupun kegiatan organisasi yang tidak ada hentinya, kami para mahasiswa harus beradaptasi lagi dengan hal-hal yang serba “di rumah”. Banyak hal baru yang harus disesuaikan untuk menyelaraskan kehidupan kembali, meskipun sebenarnya kehidupan sebelumnya juga tidak laras-laras amat. Beberapa hal yang sangat sulit dihindari mahasiswa selama pandemi yaitu:

Kolaborasi Jadwal Kuliah dan Jadwal Rumah

Hal yang pertama yaitu harus bisa menyeimbangkan antara jadwal rumah dan jadwal kuliah. Mahasiswa yang identik dengan kebiasaan merantau, harus beradaptasi kembali dengan sistem belajar yang sebelumnya mereka lakukan di tanah rantau. Baik itu antar kota, antar provinsi, antar pulau, atau bahkan antar negara.

Kuliah di rumah dengan jadwal yang pastinya tidak bisa diganggu gugat membuat mahasiswa harus pintar-pintar membagi waktu untuk bisa fokus belajar. Padahal di rumah juga ada kerjaan yang wajib dikerjakan. Siapa pun kita, anak laki-laki atau perempuan kalau di rumah pastinya ada kewajiban untuk membantu pekerjaan orang tua, mau itu bersih-bersih, memasak, mencuci, atau pekerjaan yang lain. Kecuali untuk mereka anak sultan sih. Intinya, tugas kuliah yang terus berjalan tanpa henti dan pekerjaan rumah yang terkadang tidak bisa diajak kompromi harus kita kolaborasikan agar target kuliah tetap bisa tercapai.

Kualitas Pembelajaran

Tantangan selanjutnya yaitu kualitas dari pembelajaran itu sendiri. Kuliah online sejatinya memberi jarak ruang dan waktu, sehingga proses pembelajaran tidak akan leluasa sebagaimana di kelas. Materi yang minim penjelasan dan tingkat fokus yang kadang naik turun membuat suasana pembelajaran terasa menjemukan. Alhasil diskusi yang tercipta sebatas “iya pak, baik bu, terimakasih”.  Walaupun sebenarnya ruang keaktifan terbuka sama lebarnya antara kuliah di kelas maupun di rumah, tapi yo tetap saja perbedaan ruang dan waktu itu membuat kita benar-benar berjarak fisik dan pikiran.

Belum lagi derita menjadi anggun alias anak gunung yang sinyalnya kadang-kadang tidak bisa dinegosiasi, padahal kalau tidak ada sinyal kan susah juga mau lancar ikut perkuliahan. Apalagi kalau kalian punya adik kecil, pasti tau dong rasanya dirusuhi anak kecil. Kuliah di rumah membuat kita mempertanyakan kembali kualitas sebagai mahasiswa yang katanya agent of change.

Susahnya cari referensi

Selain dua hal di atas, permasalahan yang sama pentingnya yaitu minimnya referensi yang kita dapatkan. Kalau di kampus sudah disediakan perpusatakaan lengkap dengan fasilitas nyaman untuk mengerjakan tugas. Maka di rumah, kita dituntut untuk pandai mencari buku-buku online sebagai rujukan untuk mengerjakan tugas. Meskipun buku pdf sudah sama bertebarannya dengan bintang kecil, namun tetap saja buku fisik lebih banyak dibutuhkan ketika mengerjakan tugas, pun karena tidak semua buku ada versi pdf-nya.

Terlebih, buku fisik memberi kenyamanan tersendiri bagi beberapa orang. Bisa menghirup aroma bukunya, tidak membuat mata sakit untuk dibaca lama-lama, dan tentunya bisa diberi tanda di bagian yang kita inginkan. Belum lagi mereka yang mengambil jurusan dengan beberapa mata kuliah praktikum. Sangat menyenangkan bukan menyiapkan praktikum, mengerjakan praktikum, dan membuat laporan praktikum sendiri di rumah.

Yang Patut Disyukuri

Beberapa hal di atas memang terasa berat untuk saat ini, namun yang harus kita sadari adalah bahwa kita menjadi punya banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga, kita juga bisa bebas ke kamar mandi tanpa antre seperti di kampus, sistem pencernaan pun sangat terjaga ketika di rumah, tidak seperti di kos biasanya. Selain itu, pasti ada hikmah yang dapat kita petik dari adanya virus ini untuk kita jadikan evaluasi di kemudian hari.

Hal-hal tersebut memang sudah menjadi bagian dari takdir untuk kita jalani. Selain melatih kesabaran, tentunya juga melatih diri kita untuk selalu siap mengahadapi situasi dan kondisi apapun. Melatih kita untuk bisa sigap menghadapi apa yang terjadi di depan kita. Setiap zaman kan memang mempunyai tantangan yang berbeda-beda. Sebagai agent of change, siap berubah menjadi lebih baik itu utamanya. Masalah pikiran pusing, tekanan batin yowes jalani saja. 

Oleh: Alfa Puspita Nahara