Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Minggu, 09 Mei 2021

Sistem Ekologi dalam Menghadapi Revolusi Industri : Ancaman Kepada Alam dan Ekosistemnya?

 


Seiring berkembangnya zaman, teknologi merupakan komponen terbesar yang memiliki andil dalam kemajuan dunia. Semakin hari, masyarakat dunia secara natural mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju dan canggih sehingga teknologi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia. Hal ini dikenal dengan revolusi. Revolusi yang dimaksud disini yakni revolusi industri dimana terjadi perubahan ekonomi dalam skala global dari ekonomi agraris ke ekonomi industri dengan konsep  penggunaan mesin untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Dan dalam 1 abad terakhir, revolusi ini bergerak dengan lebih pesat membentuk tatanan masyarakat yang modern.

Revolusi Industri yang bergerak saat ini sudah mencapai tahap Industri 4.0 yaitu era digital dimana penggunaan teknologi dalam kehidupan manusia menjadi fokus utama untuk memudahkan aktivitas manusia dengan cara yang lebih efisien. Melangkah dari Industri 4.0, kini negara Jepang mencetuskan konsep gerakan Society 5.0 dimana konsep gerakan ini memusatkan perhatiannya pada masyarakat itu sendiri yang digerakkan oleh teknologi modern. Singkatnya perbededaan dasar dari industri 4.0 dan society 5.0 adalah industri 4.0 berfokus kepada efektivitas penggunaan teknologi dan sistem komunikasi yang dapat terkomputerisasi dengan berbagai macam cara. Sedangkan society 5.0 adalah bentuk pengoptimalan pengetahuan serta pekerjaan masyarakat dengan bantuan mesin cerdas hingga dapat menciptakan konsep masyarakat superpintar. Namun terlepas dari perbedaan kedua tahap revolusi ini, keduanya sama-sama bertujuan untuk memudahkan pekerjaan manusia, hanya saja society 5.0 sebagai bentuk penyempurnaan pemanfaatan teknologi oleh manusia dan untuk manusia.

Tentunya konsep pergerakan industri 4.0 dan society 5.0 memberi dampak yang sangat signifinikan terhadap komponen maupun sistem yang ada di seluruh dunia. Dalam hal ini salah satunya yaitu sistem ekologi yang menerima dampak dari pergerakan besar ini. Konsep pergerakan industri 4.0 dari sisi kelestarian ekosistem dan lingkungan hidup berpihak pada pemeberdayaan lingkungan. Artinya menjaga kelestarian lingkungan juga ekosistemnya dengan pemberdayaan energi yang ramah lingkungan seperti penggunaan energi yang tidak bergantung pada penggunaan bahan bakar fosil. Salah satu contoh yang sudah diterapkan yaitu pencampuran bahan bakar fosil dengan energi terbarukan, misalnya B20. Dengan penerapan bentuk ini salah satu manfaatnya yaitu mengurasi emisi gas sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Namun konsep industri 4.0 juga merupakan tantangan bagi sistem ekologi karena pemberdayaan energi ramah lingkungan tak diterapkan oleh semua pelaku industri. Melalui pergerakan industri yang besar, tentunya harus didukung oleh sumber daya yang seimbang pula. Sayangnya tak semua pelaku industri berupaya mendukung hal ini sehingga memberi dampak negatif kepada sistem ekologi. Tuntunan industri yang semakin meningkat tentunya diiringi oleh pembangunan yang sangat meningkat, namun pembangunan ini akan lebih banyak mengorbankan lingkungan daripada memberi keuntungan kepada lingkungan dan ekosistemnya. Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi perubahan yang begitu pesat dalam masyarakat dan keacuhan dari sebagian oknum yang memiliki posisi penting dan banyak menerima “manfaat” dari bentuk pergerakan ini. Ketimpangan ini merupakan bentuk ancaman yang sangat besar bagi ekologi yang akan terus meningkat jika tidak ada usaha dan perhatian lebih untuk melestarikan sistem ekologi. Hal ini nantinya akan membawa pada kemerosotan keberagaman hayati dan sumber daya alam.

Berdasarkan catatan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) suhu bumi sepanjang lima abad terakhir naik secara signifikan hingga mencapai 1,5 derajat Celsius pada tahun 2018. Kenaikan itu diantaranya dipicu oleh pembangunan yang masif namun negatif dengan cara ekstraktif dan ekspliotatif. Sedangkan jumlah studi yang meneliti tentang penggunaan lahan bagi industri selama 10 tahun terkahir meningkat dengan sangat signifikan, membuktikan bahwa penggunaan lahan yang besar-besaran mengakibatkan isu-isu perubahan iklim. Sedangkan Indonesia, yang merupakan salah satu negara dengan luas hutan terluas di dunia seluas 95 juta hektar atau sekitar 50,6 persen luas Indonesia menghadapi tantangan berat atas pergerakan industri ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS Indonesia) total deforestasi di Indonesia pada tahun 2014-2015 mencapai 1,09 juta hektar. Sedangkan pada tahun 2014, total emisi gas rumah kaca di Indonesia mencapai 1.808 juta ton CO2e. Angka ini mengindikasikan bahwa adanya kenaikan emisi gas dari tahun 2000 sampai tahun 2013 secara konsisten meningkat sebesar 3,5 persen per tahunnya.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa seberapa besar dampak kerugian yang disebabkan oleh revolusi industri 4.0 terhadap ekologi secara global. Sehingga manusia, hamba yang diberikan kesempatan untuk berjalan di muka bumi yang telah diberkati lewat langit dan tanahnya, sudah seharusnya kita sebagai muslim menerapkan ajaran Islam dengan baik dengan tidak merusak atau menambah kerusakan pada bumi kita langit maupun tanahnya. Sebagaimana ayat dari QS. Al-Baqarah: 205 yang artinya;

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”

Dan agar kita selalu menjaga dan memberdayakan kelestarian lingkungan sekitar beserta jajaran ekosistemnya sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan kita di muka bumi lewat langit maupun tanahnya. Sebagaimana QS. An-Nahl: 10 yang artinya;

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu mengembalakan ternakmu.”

Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa sebagai manusia, tugas kitalah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana mungkin kita terus menerima hak sebagai penduduk bumi dengan memanfaatkan sumber daya alam tanpa menjalankan kewajiban kita untuk memberdayakan sumber daya alam itu sendiri?

Konsep society 5.0 dalam aspek ekologi sendiri tetap sama dengan konsep industry 4.0 yakni mempertimbangkan dan memastikan pelestarian alam dan sistem ekologi dalam keadaan baik dan terlindungi di tengah-tengah penegmbangan teknologi yang progresif. Salah satu konsep tatanan sosial dalam society 5.0 yakni masyarakat memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan aspek ekonomi dengan ekologi sehingga dapat memelihara kelestarian alam dan ekosistem di sekitarnya dalam waktu jangka Panjang.

Melihat dari pergerakan industri 4.0 yang justru banyak mengorbankan dan merugikan daripada memberi manfaat kepada sistem ekologi, maka untuk pergerakan konsep society 5.0 hal ini harus diantisipasi. Oleh karena itu pemerintah harus dapat mempersiapkan masyarakatnya menghadapi era disrupsi ini. Saran penulis kepada pemerintah adalah;

1. Mempersiapkan kurikulum pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan sesuai dengan industry era ini

2. Memberi kebijakan pada pelaku industri yang menjalankan industri dengan tidak memerhatikan konsep pemberdayaan sumber daya alam atau dalam kata lain yang merugikan kelestarian alam

3. Membuat program di masyarakat yang bertujuan untuk mengajarkan pentingnya menjaga sistem ekologi dan ganjaran bagi para pelaku perusak sistem tersebut serta menanamkan nilai-nilai sosial dalam masyarakat

Harapan penulis dalam Langkah pergerakan society 5.0, sistem ekologi dapat terjaga kelestariannya, sumber daya alam dapat dimanfaatkan dengan baik dan menghasilkan keuntungan bagi manusia serta dapat menerima manfaat dari pergerakan ini.

Penulis: Nahla Thalia Hasanah. A. M

Minggu, 02 Mei 2021

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Rangkaian Acara Dalam Rangka Memeriahkan Sersantara (Semarak Santri Nusantara)


CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga (02/05)-Badan Pengurus Harian (BPH) kembali mengadakan program kerja dalam rangka memeriahkan hari lahir CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini dinamakan Semarak Santri Nusantara atau biasa disingkat dengan Sersantara. Sersantara merupakan kegiatan rutin tahunan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang sampai saat ini telah mengnjak usia 13 tahun. Selama itu, rangkaian acara pun banyak mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan

Sersantara tahun ini memiliki serangkain kegiatan. Dimulai dari perlombaan MTQ, MQK, dan Pidato bahasa Indonesia tingkat nasional yang dimulai dari tanggal 24 Maret-22 April. Perlombaan-perlombaan tersebut dilaksanakan secara online dikarenakan kondisi dan situasi sekarang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan secara offline. Pada cabang lomba MTQ dan Pidato diambil kejuaraan 1, 2 dan 3 serta favorit. Sedangkan, lomba MQK dilakukan dalam dua tahap. Pertama, babak penyisihan. Kedua, babak final yang diadakan pada Kamis (29/04). Selain itu, Bakti Sosial santunan anak yatim di panti asuhan Bintan Sa'adillah Al-Rasyid Krapyak Yogyakartya turut memeriahkan rangkaian acara Sersantara 2021

Acara puncak sekaligus penutup dari Sersantara ke-13 yaitu tabligh akbar dengan tema "Ramadan Berkah Bersama Milenial Berkualitas". Yarsa Arnanda, selaku ketua panitia mengaku mengambil tema tersebut dilatar belakangi oleh kegelisahan  sebagai generasi millennial yang hidup di era dengan perubahan cepat.

“Generasi milenial adalah generasi yang canggih, jika dididik dengan benar maka akan menjadi generasi emas, tetapi kalau tidak  dididik dengan baik maka akan menjadi masalah”. Ungkapnya

Tabligh akbar tersebut diisi oleh K.H Ulil Abshar Abdalla. Beliau merupakan tokoh intelektual muslim yang banyak digemari generasi millennial.

“Alhamdulillah Kegiatan Sersantara tahun ini telah selesai dan berjalan dengan baik. Hal tersebut tidak lepas dari campur tangan rekan-rekan panitia yang sudah memberikan waktu, tenaga, serta pikirannya untuk menyukseskan acara ini. Selain itu, kesuksesan acara ini juga tidak terlepas dari peran peserta lomba, lembaga panti asuhan, serta para jamaah tabligh akbar yang sangat antusias terhadap kegiatan Sersantara tahun ini. Kurang lebih ada sekitar 300-400 partisipan yang telah berpartisipasi baik dari peserta lomba, lembaga panti asuhan, dan para jamaah tabligh akbar untuk mensukseskan Sersantara tahun ini. Saya mewakili rekan-rekan panitia mengucapkan banyak terimakasih kepada para partisipan yang sudah menyukseskan acara ini”. Imbuhnya ketika diwawancarai

Hal-hal yang Tidak Bisa Mahasiswa Hindari Selama Pandemi

 

2020 nampaknya akan menjadi salah satu tahun yang akan selalu diingat oleh semua orang. Banyak hal baru terjadi di 2020, salah satunya yaitu virus COVID-19 yang masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020 dan mulai mengubah tatanan kehidupan sebelumnya. COVID-19 atau Corona sendiri sebenarnya pertama kali muncul pada akhir tahun 2019 di Wuhan yang kemudian menjadi wabah dan menyebar ke lebih dari 100 negara. Salah satunya Indonesia, yang pada saat awal kemunculannya mematahkan mitos bahwa Indonesia “kebal” dari Corona. Kehadirannya pun memaksa manusia untuk mengubah sistem kehidupan yang semula ada. Banyak sektor yang kemudian terpengaruh oleh adanya virus ini, salah satunya pendidikan.

Persebaran virus Corona yang cenderung cepat mendorong pemerintah harus segera membuat kebijakan baru untuk meminimalisir persebaran tersebut. Merespon hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim pun merumahkan seluruh siswa untuk belajar di rumah. Sebenarnya tidak hanya pelajar yang “dirumahkan”, guru, karyawan, dan pekerja lain pun harus tetap di rumah sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus. Corona bukan hanya tantangan untuk Wuhan, tapi untuk semua manusia di dunia ini.

Bagi mahasiswa sendiri, belajar di rumah pun merupakan suatu tantangan baru. Setelah terbiasa dengan kesibukan di kampus baik itu tugas kuliah yang tidak ada habisnya maupun kegiatan organisasi yang tidak ada hentinya, kami para mahasiswa harus beradaptasi lagi dengan hal-hal yang serba “di rumah”. Banyak hal baru yang harus disesuaikan untuk menyelaraskan kehidupan kembali, meskipun sebenarnya kehidupan sebelumnya juga tidak laras-laras amat. Beberapa hal yang sangat sulit dihindari mahasiswa selama pandemi yaitu:

Kolaborasi Jadwal Kuliah dan Jadwal Rumah

Hal yang pertama yaitu harus bisa menyeimbangkan antara jadwal rumah dan jadwal kuliah. Mahasiswa yang identik dengan kebiasaan merantau, harus beradaptasi kembali dengan sistem belajar yang sebelumnya mereka lakukan di tanah rantau. Baik itu antar kota, antar provinsi, antar pulau, atau bahkan antar negara.

Kuliah di rumah dengan jadwal yang pastinya tidak bisa diganggu gugat membuat mahasiswa harus pintar-pintar membagi waktu untuk bisa fokus belajar. Padahal di rumah juga ada kerjaan yang wajib dikerjakan. Siapa pun kita, anak laki-laki atau perempuan kalau di rumah pastinya ada kewajiban untuk membantu pekerjaan orang tua, mau itu bersih-bersih, memasak, mencuci, atau pekerjaan yang lain. Kecuali untuk mereka anak sultan sih. Intinya, tugas kuliah yang terus berjalan tanpa henti dan pekerjaan rumah yang terkadang tidak bisa diajak kompromi harus kita kolaborasikan agar target kuliah tetap bisa tercapai.

Kualitas Pembelajaran

Tantangan selanjutnya yaitu kualitas dari pembelajaran itu sendiri. Kuliah online sejatinya memberi jarak ruang dan waktu, sehingga proses pembelajaran tidak akan leluasa sebagaimana di kelas. Materi yang minim penjelasan dan tingkat fokus yang kadang naik turun membuat suasana pembelajaran terasa menjemukan. Alhasil diskusi yang tercipta sebatas “iya pak, baik bu, terimakasih”.  Walaupun sebenarnya ruang keaktifan terbuka sama lebarnya antara kuliah di kelas maupun di rumah, tapi yo tetap saja perbedaan ruang dan waktu itu membuat kita benar-benar berjarak fisik dan pikiran.

Belum lagi derita menjadi anggun alias anak gunung yang sinyalnya kadang-kadang tidak bisa dinegosiasi, padahal kalau tidak ada sinyal kan susah juga mau lancar ikut perkuliahan. Apalagi kalau kalian punya adik kecil, pasti tau dong rasanya dirusuhi anak kecil. Kuliah di rumah membuat kita mempertanyakan kembali kualitas sebagai mahasiswa yang katanya agent of change.

Susahnya cari referensi

Selain dua hal di atas, permasalahan yang sama pentingnya yaitu minimnya referensi yang kita dapatkan. Kalau di kampus sudah disediakan perpusatakaan lengkap dengan fasilitas nyaman untuk mengerjakan tugas. Maka di rumah, kita dituntut untuk pandai mencari buku-buku online sebagai rujukan untuk mengerjakan tugas. Meskipun buku pdf sudah sama bertebarannya dengan bintang kecil, namun tetap saja buku fisik lebih banyak dibutuhkan ketika mengerjakan tugas, pun karena tidak semua buku ada versi pdf-nya.

Terlebih, buku fisik memberi kenyamanan tersendiri bagi beberapa orang. Bisa menghirup aroma bukunya, tidak membuat mata sakit untuk dibaca lama-lama, dan tentunya bisa diberi tanda di bagian yang kita inginkan. Belum lagi mereka yang mengambil jurusan dengan beberapa mata kuliah praktikum. Sangat menyenangkan bukan menyiapkan praktikum, mengerjakan praktikum, dan membuat laporan praktikum sendiri di rumah.

Yang Patut Disyukuri

Beberapa hal di atas memang terasa berat untuk saat ini, namun yang harus kita sadari adalah bahwa kita menjadi punya banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga, kita juga bisa bebas ke kamar mandi tanpa antre seperti di kampus, sistem pencernaan pun sangat terjaga ketika di rumah, tidak seperti di kos biasanya. Selain itu, pasti ada hikmah yang dapat kita petik dari adanya virus ini untuk kita jadikan evaluasi di kemudian hari.

Hal-hal tersebut memang sudah menjadi bagian dari takdir untuk kita jalani. Selain melatih kesabaran, tentunya juga melatih diri kita untuk selalu siap mengahadapi situasi dan kondisi apapun. Melatih kita untuk bisa sigap menghadapi apa yang terjadi di depan kita. Setiap zaman kan memang mempunyai tantangan yang berbeda-beda. Sebagai agent of change, siap berubah menjadi lebih baik itu utamanya. Masalah pikiran pusing, tekanan batin yowes jalani saja. 

Oleh: Alfa Puspita Nahara