Pengikut

Minggu, 09 Mei 2021

Sistem Ekologi dalam Menghadapi Revolusi Industri : Ancaman Kepada Alam dan Ekosistemnya?

 


Seiring berkembangnya zaman, teknologi merupakan komponen terbesar yang memiliki andil dalam kemajuan dunia. Semakin hari, masyarakat dunia secara natural mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju dan canggih sehingga teknologi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia. Hal ini dikenal dengan revolusi. Revolusi yang dimaksud disini yakni revolusi industri dimana terjadi perubahan ekonomi dalam skala global dari ekonomi agraris ke ekonomi industri dengan konsep  penggunaan mesin untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Dan dalam 1 abad terakhir, revolusi ini bergerak dengan lebih pesat membentuk tatanan masyarakat yang modern.

Revolusi Industri yang bergerak saat ini sudah mencapai tahap Industri 4.0 yaitu era digital dimana penggunaan teknologi dalam kehidupan manusia menjadi fokus utama untuk memudahkan aktivitas manusia dengan cara yang lebih efisien. Melangkah dari Industri 4.0, kini negara Jepang mencetuskan konsep gerakan Society 5.0 dimana konsep gerakan ini memusatkan perhatiannya pada masyarakat itu sendiri yang digerakkan oleh teknologi modern. Singkatnya perbededaan dasar dari industri 4.0 dan society 5.0 adalah industri 4.0 berfokus kepada efektivitas penggunaan teknologi dan sistem komunikasi yang dapat terkomputerisasi dengan berbagai macam cara. Sedangkan society 5.0 adalah bentuk pengoptimalan pengetahuan serta pekerjaan masyarakat dengan bantuan mesin cerdas hingga dapat menciptakan konsep masyarakat superpintar. Namun terlepas dari perbedaan kedua tahap revolusi ini, keduanya sama-sama bertujuan untuk memudahkan pekerjaan manusia, hanya saja society 5.0 sebagai bentuk penyempurnaan pemanfaatan teknologi oleh manusia dan untuk manusia.

Tentunya konsep pergerakan industri 4.0 dan society 5.0 memberi dampak yang sangat signifinikan terhadap komponen maupun sistem yang ada di seluruh dunia. Dalam hal ini salah satunya yaitu sistem ekologi yang menerima dampak dari pergerakan besar ini. Konsep pergerakan industri 4.0 dari sisi kelestarian ekosistem dan lingkungan hidup berpihak pada pemeberdayaan lingkungan. Artinya menjaga kelestarian lingkungan juga ekosistemnya dengan pemberdayaan energi yang ramah lingkungan seperti penggunaan energi yang tidak bergantung pada penggunaan bahan bakar fosil. Salah satu contoh yang sudah diterapkan yaitu pencampuran bahan bakar fosil dengan energi terbarukan, misalnya B20. Dengan penerapan bentuk ini salah satu manfaatnya yaitu mengurasi emisi gas sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Namun konsep industri 4.0 juga merupakan tantangan bagi sistem ekologi karena pemberdayaan energi ramah lingkungan tak diterapkan oleh semua pelaku industri. Melalui pergerakan industri yang besar, tentunya harus didukung oleh sumber daya yang seimbang pula. Sayangnya tak semua pelaku industri berupaya mendukung hal ini sehingga memberi dampak negatif kepada sistem ekologi. Tuntunan industri yang semakin meningkat tentunya diiringi oleh pembangunan yang sangat meningkat, namun pembangunan ini akan lebih banyak mengorbankan lingkungan daripada memberi keuntungan kepada lingkungan dan ekosistemnya. Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi perubahan yang begitu pesat dalam masyarakat dan keacuhan dari sebagian oknum yang memiliki posisi penting dan banyak menerima “manfaat” dari bentuk pergerakan ini. Ketimpangan ini merupakan bentuk ancaman yang sangat besar bagi ekologi yang akan terus meningkat jika tidak ada usaha dan perhatian lebih untuk melestarikan sistem ekologi. Hal ini nantinya akan membawa pada kemerosotan keberagaman hayati dan sumber daya alam.

Berdasarkan catatan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) suhu bumi sepanjang lima abad terakhir naik secara signifikan hingga mencapai 1,5 derajat Celsius pada tahun 2018. Kenaikan itu diantaranya dipicu oleh pembangunan yang masif namun negatif dengan cara ekstraktif dan ekspliotatif. Sedangkan jumlah studi yang meneliti tentang penggunaan lahan bagi industri selama 10 tahun terkahir meningkat dengan sangat signifikan, membuktikan bahwa penggunaan lahan yang besar-besaran mengakibatkan isu-isu perubahan iklim. Sedangkan Indonesia, yang merupakan salah satu negara dengan luas hutan terluas di dunia seluas 95 juta hektar atau sekitar 50,6 persen luas Indonesia menghadapi tantangan berat atas pergerakan industri ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS Indonesia) total deforestasi di Indonesia pada tahun 2014-2015 mencapai 1,09 juta hektar. Sedangkan pada tahun 2014, total emisi gas rumah kaca di Indonesia mencapai 1.808 juta ton CO2e. Angka ini mengindikasikan bahwa adanya kenaikan emisi gas dari tahun 2000 sampai tahun 2013 secara konsisten meningkat sebesar 3,5 persen per tahunnya.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa seberapa besar dampak kerugian yang disebabkan oleh revolusi industri 4.0 terhadap ekologi secara global. Sehingga manusia, hamba yang diberikan kesempatan untuk berjalan di muka bumi yang telah diberkati lewat langit dan tanahnya, sudah seharusnya kita sebagai muslim menerapkan ajaran Islam dengan baik dengan tidak merusak atau menambah kerusakan pada bumi kita langit maupun tanahnya. Sebagaimana ayat dari QS. Al-Baqarah: 205 yang artinya;

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”

Dan agar kita selalu menjaga dan memberdayakan kelestarian lingkungan sekitar beserta jajaran ekosistemnya sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan kita di muka bumi lewat langit maupun tanahnya. Sebagaimana QS. An-Nahl: 10 yang artinya;

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu mengembalakan ternakmu.”

Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa sebagai manusia, tugas kitalah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana mungkin kita terus menerima hak sebagai penduduk bumi dengan memanfaatkan sumber daya alam tanpa menjalankan kewajiban kita untuk memberdayakan sumber daya alam itu sendiri?

Konsep society 5.0 dalam aspek ekologi sendiri tetap sama dengan konsep industry 4.0 yakni mempertimbangkan dan memastikan pelestarian alam dan sistem ekologi dalam keadaan baik dan terlindungi di tengah-tengah penegmbangan teknologi yang progresif. Salah satu konsep tatanan sosial dalam society 5.0 yakni masyarakat memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan aspek ekonomi dengan ekologi sehingga dapat memelihara kelestarian alam dan ekosistem di sekitarnya dalam waktu jangka Panjang.

Melihat dari pergerakan industri 4.0 yang justru banyak mengorbankan dan merugikan daripada memberi manfaat kepada sistem ekologi, maka untuk pergerakan konsep society 5.0 hal ini harus diantisipasi. Oleh karena itu pemerintah harus dapat mempersiapkan masyarakatnya menghadapi era disrupsi ini. Saran penulis kepada pemerintah adalah;

1. Mempersiapkan kurikulum pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan sesuai dengan industry era ini

2. Memberi kebijakan pada pelaku industri yang menjalankan industri dengan tidak memerhatikan konsep pemberdayaan sumber daya alam atau dalam kata lain yang merugikan kelestarian alam

3. Membuat program di masyarakat yang bertujuan untuk mengajarkan pentingnya menjaga sistem ekologi dan ganjaran bagi para pelaku perusak sistem tersebut serta menanamkan nilai-nilai sosial dalam masyarakat

Harapan penulis dalam Langkah pergerakan society 5.0, sistem ekologi dapat terjaga kelestariannya, sumber daya alam dapat dimanfaatkan dengan baik dan menghasilkan keuntungan bagi manusia serta dapat menerima manfaat dari pergerakan ini.

Penulis: Nahla Thalia Hasanah. A. M

0 komentar:

Posting Komentar