Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Kamis, 24 Juni 2021


Untuk Buletin Sarung Edisi Oktober 2020 dapat dilihat dalam link di bawah ini

Buletin Sarung Edisi Oktober 2020


Selasa, 22 Juni 2021

Teori Wahdat al Wujud

 

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekurangan. Beribadah merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Di dalam Q.S Al-adiyat (56) menjelaskan bahwa seluruh makhluk di alam semesta diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Maka dari itu  jalan yang harus ditempuh manusia adalah berusaha untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Terdapat berbagai jalan yang dapat dilakukan manusia untuk beribadah, diantaranya dengan cara mendalami ilmu Filsafat dan Tasawuf. Dengan adanya filsafat dan tasawuf, manusia mampu memahami keberadaan Allah SWT sehingga dapat mengantarkan manusia menuju jalan kebenaran. Tasawuf sendiri merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang bagaiman cara manusia untuk menghindari sikap cinta kepada dunia. Istilah ini sering ditujukan kepada orang-orang sufi dan zuhud. Sedangkan filsafat sendiri merupakan jembatan untuk mendalami (logika) atau mengenal hakikat Allah SWT.

Filsafat dan Tasawuf mempunyai peran penting dalam ber-taqarrub ilallah. Keduanya sama-sama mempelajari bagaimana cara manusia dapat merasakan kehadiran sang pencipta di setiap perjalanannya. Dalam perkembanganya, tasawuf terbagi menjadi berbagai aliran, salah satunya yaitu Tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi sendiri merupakan suatu ajaran ma’rifatullah (tasawuf) yang berdasarkan nalar atau logika (filsafat). Tasawuf falsafi juga bisa dimaknai dengan tasawufnya orang filsafat, karena mengandung pemikiran orang-orang filsafat di dalamnya.

Konsep tasawuf falsafi muncul karena adanya pemahaman tasawuf yang beraneka ragam. Sehingga mengakibatkan para sufi berupaya untuk mengungkap ajaran tersebut, seperti halnya Syeikh Muhyi al-Din Muhammad Ibnu Ali yang dikenal dengan nama Ibnu Arabi[1]. Ibnu arabi sendiri merupakan tokoh yang dikenal dengan konsep tasawuf dan filsafatnya.

Konsep tasawuf dan filsafat ibnu arabi memberikan dampak yang cukup signifikan dalam dunia keilmuan, salah satu sumbangsinya ialah teori wahdat al wujud (tasawuf falsafi) yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi. Sebelum membahas tentang teori wahdat al wujud, disini penulis akan sedikit menjelaskan mengenai pemikiran metafisika Ibnu Arabi. Menurutnya, Allah SWT merupakan wujud yang hakiki, karena keberadaan-Nya tidak melalui bantuan dari pihak lain, serta  wujud Allah SWT merupakan dzat-Nya sendiri. Kemudian hakikat universal terdapat pada Tuhan dan alam semesta. Yang artinya tiada permulaan dan tiada yang mendahului wujudnya Allah SWT (qidam). Selanjutunya, jagat raya tersusun dari sesuatu yang ada di bumi dan langit, dan sesuatu yang berada di dalam keduanya, tak terkecuali manusia. Kemudian asumsi yang terakhir adalah manusia merupakan khalifah Allah SWT di muka bumi (mikro kosmos)[2].

Konsep wahdat al wujud tercipta berdasarkan logika dan perasaan sehingga dapat dirasakan oleh semua orang, baik sufi maupun tidak. Wahdat al wujud sendiri merupakan teori yang menegaskan bahwa tiada sesuatu yang wujud selain wujud Allah SWT, wujud hakiki semata-mata hanya milik-Nya[3]. Sedangkan pengertian secara terminologi yaitu pada hakikatnya manusia dan tuhan menyatu menjadi satu kesatuan yang wujud. Makna terminologi tersebut dianggap sulit untuk dimengerti oleh masyarakat yang rendah dalam pemahaman agamanya, sehingga menimbulkan banyak kontroversi dikalangan sufisme.

Pemahaman sufisme dianggap menyimpang serta dapat mengakibatkan manusia terjerumus ke dalam faham polytheisme, yaitu menganggap bahwa tuhan itu banyak.  Padahal wahdat al wujud yang dimaksud oleh Ibnu Arabi yaitu wahdat al wujud dalam bentuk hakikat, bukan juziyat. Bahwa secara hakikat, semua yang ada di alam semesta ini tidak berwujud (tidak ada wujudnya). Sebagaimana cahaya yang mampu bersinar dan dapat dilihat oleh indra penglihatan kita. Sesungguhnya cahaya tersebut tidak ada. Cahaya tersebut merupakan wujud Allah yang telah dimanifestasikan, sehingga memancarkan cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia (wujud).

Penulis: Ulfatun



[1] Zulkifli, “Tasawuf falsafi ibnu arabi”, (https://zulkifli-sekarbela.blogspot.com/2013/02/tasawuf-falsafi-ibnuarabi, diakses pada 18 November 2020, 09:32)

[2] Abd. Halim rofi’ie, “wahdat al wujud dalam pemikiran ibnu arabi”, Ulul Alban Vol. 13 No. 2 tahun 2010

[3] M. robith fuadi, “memahami tasawuf ibnu arabi dan ibnu al farid”, Ulul Albab Vol. 14 No. 2 tahun 2013

Pro dan Kontra Pilkada Serentak 2020 dalam Analisis Kaidah Fikih Tentang Kemudaratan

    Sebagian daerah di negara kita akan melaksanakan pilkada serentak pada tanggal 9 Desember 2020 nanti di tengah pandemi Covid-19. Tentu saja pelaksanaan pilkada serentak tahun ini sangat berbeda dari sebelumnya. Pasalnya negara kita masih diselimuti dengan pandemi Covid-19 yang mana belum ada penurunan yang begitu berarti. Masih banyak acara besar yang ditunda bahkan dibatalkan akibat pandemi Covid-19. Namun yang sedikit mengherankan, kenapa pemerintah tetap melaksanakan pilkada serentak tahun ini? Padahal acara besar yang lainnya seperti kompetisi sepak bola yang mana panitia dari kompetisi sepak bola menjamin kalau semua pertandingan yang dimainkan tidak akan didatangi oleh suporter ke stadion demi terhindarnya kasus penularan Covid-19. Hal ini yang menimbulkan kecemburuan pada pecinta sepak bola tanah air terhadap dilaksanakannya pilkada serentak tahun ini. Terlepas dari itu, terdapat pro dan kontra tentang pelaksanaan pilkada serentak apabila kita analisis dengan kaidah fikih tentang kemudaratan. Dalam beberapa kaidah turunan/cabang tentang kemudaratan, kita bisa lihat dan sikapi ke arah mana kaidah-kaidah yang akan disebutkan nantinya mengarah, apakah pro terhadap pilkada serentak, ataukah justru kontra.

Kaidah pertama, اَلضَّرَرُ يُزَالُ, “Kemudaratan dihilangkan sebisa mungkin.” Apabila kita kaitkan dengan pelaksanaan pilkada serentak tahun ini, maka kita harus menghilangkan mudarat semaksimal mungkin. Mudarat apa yang dimaksud? Yaitu menghindari terjadinya kerumunan atau berkumpulnya banyak orang saat melaksanakan pilkada serentak tersebut. Jadi, hal yang harus diberlakukan saat berlangsungnya pemilihan nanti, pemerintah harus mengatur ketat tentang salah satu komunikasi politik yang sering digunakan oleh calon legislatif atau eksekutif tersebut, yaitu kampaye. Pemerintah harus ekstra kerja keras agak tidak terjadi kerumunan saat perlaksanaan kampaye dengan mengutamakan jaga jarak dan menggunakan masker. Namun, apabila kerumunan tidak bisa dihindari dan masyarakat mengabaikan apa yang diatur oleh pemerintah, maka solusi yang ditawarkan bisa melakukan kampanye melalui media massa dan media elektronik. Begitu juga saat di TPS nanti, masyarakat harus dibatasi jumlahnya saat mendatangi TPS dengan cara membagi waktu pemilihan. Sesi pertama di pagi hari, sesi kedua di siang hari, dan sesi ketiga di sore hari. Jadi, kaidah ini pro terhadap pelaksanaan pilkada serentak tahun ini.

            Kaidah kedua, اَلضَّرَرُ يُدْفَعُ عَلَى قَدرِ الْإِمْكَانِ, “Kemudaratan dihilangkan semaksimal mungkin meskipun tidak seluruhnya hilang.” Kaidah ini masih berkaitan dengan kaidah pertama, yaitu ketika kampanye dilaksanakan dan kerumunan tidak bisa dihindarkan, maka setidaknya masyarakat tetap menjaga jarak, tidak saling berdekatan, dan tetap menggunakan masker. Jadi, kaidah ini masih pro terhadap pelaksanaan pilkada serentak tahun ini.

            Kaidah ketiga, دَرْءُ الْمفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ, “Menolak kemudaratan lebih diutamakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan.” Kaidah ini berbicara ketika kemudaratan dan kemaslahatan berada dalam satu waktu, maka lebih baik mengutamakan untuk menolak kemudaratan. Di saat Indonesia masih terdapat banyak kasus masyarakat yang terkena Covid-19 dan pilkada serentak akan segera dilaksanakan yang kemungkinan akan menimbulkan bertambahnya kasus masyarakat yang terkena Covid-19, ditambah dengan munculnya klaster ‘pilkada serentak’ dalam sebuah kemudaratan. Sedangkan kemaslahatan yang akan diraih yaitu di beberapa daerah akan segera mendapatkan pemimpin yang baru. Apabila kita lihat kaidah ini, maka kemudaratan (pilkada serentak) harus ditiadakan untuk sementara waktu, meskipun maslahat yang didapatkan berupa terpilihnya pemimpin yang baru di beberapa daerah di Indonesia. Jadi, kaidah ini kontra terhadap pilkada serentak tahun ini.

            Kesimpulan, solusi, dan saran yang bisa penulis paparkan, apabila pemerintah tetap bersikeras untuk melaksanakan pilkada serentak tahun ini, maka pemerintah harus mengawal ketat berlangsungnya pilkada serentak tersebut dengan memerhatikan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan menggunakan masker untuk masyarakat. Kemudian, sebisa mungkin kampaye langsung ditiadakan dan diganti dengan kampanye secara daring dengan menggunakan media yang ada, sebab untuk menghindari kerumunan masyarakat. Namun, alangkah lebih baiknya pilkada serentak tahun ini ditunda terlebih dahulu dengan mengutamakan menghindari atau menolak kemudaratan yang ada. Selain itu, dalam masa mencari pemimpin yang baru di beberapa daerah yang ada, bukan berarti terjadi kekosongan kekuasaan di daerah yang menyelenggarakan pilkada serentak, masih ada pejabat sementara gubernur, wali kota, atau bupati yang mengisi kursi pemerintahan. Sehingga menurut penulis, tidak ada ruginya apabila pilkada serentak ditunda dalam 2-3 bulan ke depan, sambil membantu pemerintah pusat dalam meminimalisir dan memerangi  penyebaran Covid-19 di Indonesia. Siapa tahu dalam 2-3 bulan ke depan, terdapat penurunan yang signifikan terhadap penyebaran Covid-19 sehingga pilkada serentak bisa dilakukan dengan normal tanpa ada rasa khawatir dan takut.

Penulis: Muhammad Torieq Abdillah Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

mtabdillah11@gmail.com 

Insecure Tidak Akan Mensukseskan Diri

 

Kehidupan bahagia serta menjadi pribadi yang baik merupakan impian setiap manusia. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kehidupan yang dimimpikannya layaknya ajang kompetisi pencarian bakat. Namun, Pada saat berusaha melakukan yang terbaik, seringkali mereka melirik dan membanding-bandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Hal tersebut kerap memicu adanya rasa minder (tidak percaya diri), sehingga menganggap bahwa dirinya lemah dan tidak berguna.

Situasi tersebut akan menimbulkan perasaan Insecure pada diri seseorang. Belakangan ini, kata “Insecure” kerap kali terlontar dari mulut setiap orang. Kata tersebut mulai merajalela di berbagai kalangan, terutama kalangan remaja. Mereka selalu menanyakan pada dirinya sendiri “apa sih kemampuan yang saya miliki?”. Mereka beranggapan bahwa dirinya tidak memiliki kualitas diri dan ragu untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mata.

Memang, rasa Insecure seringkali dikatakan sebagai sifat manusiawi, dimana seseorang wajar mengalaminya. Di sisi lain akan berdampak buruk bila hal tersebut kerapkali terjadi pada diri seseorang. Sebab semua perkara yang dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan hal yang buruk. Terkadang Insecure pada orang lain diperbolehkan, dengan tujuan untuk muhasabah terhadap diri sendiri. Mungkin dalam situasi tersebut dapat membuat seseorang termotivasi dan menghidupkan kembali rasa semangat. Tetapi, alangkah baiknya jika perasaan insecure terhadap orang lain dimusnahkan. Karena khawatir memicu adanya keterpurukan, depresi, atau hal-hal negatif lainnya.

Semua orang sadar bahwa setiap Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, mengapa kita sering melihat kelebihan seseorang tanpa melihat kekurangannya?. Dan mengapa hal tersebut justru berbalik arah terhadap diri kita?. kerapkali kita melihat kekurangan diri sendiri, bahkan kelebihan pun tidak terdeteksi, why?. Karena seringkali orang lain hanya memperlihatkan kelebihan yang mereka miliki, dan cenderung menyembunyikan kekurangannya. Itulah akibatnya, kelebihan mereka lebih sering ter-ekspos dibandingkan kekurangannya. Padahal mereka juga pasti memiliki kekurangan yang mungkin sebanding dengan kelebihannya. Hanya saja Tuhan sedang menutupi kekurangan mereka. Berbeda dengan kita, yang kerapkali mengurung diri dengan rasa tidak percaya diri. Sehingga merasa bahwa dunia tidak adil.

Jika dilihat dari ungkapan di atas, nyata adanya bahwa kita semua memiliki kelebihan, namun kita seringkali tidak sadar akan kelebihan yang kita miliki. Hal tersebut terjadi karena adanya “Negativity bias”, di mana seseorang kerap kali mengingat pengalaman atau informasi yang bersifat negatif. Negativity bias ini merupakan sifat bawaan dari orang-orang terdahulu atau dikenal sebagai nenek moyang. Pada zaman dahulu, pengalaman negatif lebih penting untuk diingat dibandingkan pengalaman positif. Sifat tersebut masih menempel pada manusia dewasa ini. Itulah sebabnya kita seringkali beranggapan bahwa kelebihan pada diri kita tidak ada. Padahal kita juga pasti mempunyai pengalaman positif yang dianggap sebagai kelebihan tersendiri. Akan tetapi sulit untuk mengingatnya.

Negativity bias juga tidak baik bagi kesehatan mental. Semakin kita sering mengalaminya, maka semakin rendah pula self-esteem yang kita miliki, sehingga memicu adanya rasa stres. Selain itu, sseorang yang kerapkali mengalami Negativity bias, secara tidak langsung mereka membangun rasa insecure yang sangat besar. (https://youtu.be/VBSb63bJGXo)

Perlu kita sadari bahwa beberapa hal yang kita miliki, seperti halnya mampu bekerjasama, jujur terhadap orang sekitar, tidak mudah menyerah, mudah beradaptasi, setia terhadap teman, dll, kerapkali dianggap sebagai hal yang sepele. Padahal hal tersebut merupakan tindakan positif yang tidak dimiliki semua orang. Perilaku yang baik juga merupakan passion tersendiri. Tak perlu minder terhadap teman sekelas, rekan kerja, pengusaha, dan orang-orang di sekitar kita yang dirasa mempunyai kualitas lebih baik dibangding kita. Semua orang bisa menjadi yang terbaik versi dirinya sendiri. Tuhan maha adil, percayalah bahwa semua yang diberikan kepada kita adalah nikmat tiada duanya.

 So, buat apa insecure terhadap orang lain?, padahal belum tentu orang tersebut memiliki passion yang ada dalam diri kita. Terkadang ada satu orang yang membuat kita merasa insecure, tetapi percayalah bahwa ada puluhan orang yang menginginkan untuk menjadi kita.

Penulis: Ulfatun

Jumat, 11 Juni 2021

Sisi Positif Perkembangan Teknologi Sebagai Sarana Mempermudah Beragama Pada Era Society 5.0 dan Pandemi Covid-19

 

    Perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa tidak lepas dari peran penting teknologi. Hadirnya teknologi di tengah-tengah manusia sungguh membawa perubahan yang begitu signifikan. Kecanggihan teknologi membawa manusia semakin berinovasi dalam menjalani kehidupan, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Tampaknya, sangat sulit untuk lepas dari teknologi, sebab teknologi sudah menjalar ke semua lini kehidupan. Salah satu buah dari lahirnya teknologi adalah internet. Hadirnya internet menjadi bentuk semangat manusia dalam menghadapi era society 5.0.

Semuanya memang memiliki sisi positif dan negatif, tidak terkecuali internet. Semua sisi positif dari internet sangat membantu manusia dalam menjalani hidup. Terlebih di saat seluruh manusia bersiap dalam menghadapi era society 5.0 dan pandemi Covid-19, teknologi sangat berperan penting bagi manusia. Namun, harus diingat bahwa dengan kehadirannya teknologi jangan sampai membuat manusia terbuai. Sebab, teknologi bukanlah segalanya, meskipun tidak bisa kita pungkiri bahwa semua manusia membutuhkan teknologi. Masih ada norma dan batasan yang harus diperhatikan saat menggunakan teknologi, terlebih internet. Itulah yang menjadi tantangan tersendiri saat berhadapan dengan internet, karena tidak sedikit sisi negatifnya muncul di tengah keberlangsungan hidup.

Pembahasan

            Tekonolgi hadir untuk membantu manusia dalam menjalani kehidupan. Apapun itu, teknologi berperan sangat penting bagi manusia. Contoh sederhana dalam penerapan teknologi bagi manusia adalah menjadikan teknologi, khususnya internet sebagai sarana mempermudah beragama. Contoh sederhananya, ketika ingin mengikuti pengajian langsung di masjid, tetapi ada kesibukan, salah satu solusinya yaitu mengikuti kajian melalui live streaming. Adanya live streaming hadir di tengah-tengah kita membantu mempermudah saat tidak bisa mengikuti kajian langsung di masjid. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini, kita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa hadir langsung di masjid. Antara kemaslahatan diri untuk menuntut ilmu secara langsung di majelis ilmu harus dikalahkan oleh adanya kemudaratan pandemi Covid-19. Apabila kita tetap memaksakan diri untuk hadir secara langsung di masjid, sedangkan di sisi lain akan ada kemudaratan yang kita terima, sebagai konsekuensinya kita harus mengurungkan niat untuk hadir secara langsung. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah fikih turunan tentang kemudaratan,

دَرْءُ الْمفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan lebih diutamakan daripada menghilangkan kemaslahatan.”

Kaidah ini diterapkan apabila maslahat dan mudaratnya sama, tidak ada dari keduanya yang lebih besar. Oleh karena itu, yang harus didahulukan di antara keduanya adalah menghindari diri dari mudarat yang akan muncul, meskipun harus merelakan maslahat yang ada. Artinya, kita lebih baik untuk tidak menghadiri kajian secara langsung, terlebih apabila kondisi kesehatan kita kurang fit, maka sangat mudah untuk terpapar Covid-19. Meskipun kita tahu bahwa menghadiri kajian secara langsung akan dipermudah jalannya menuju surga dan dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikatNya.

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga.” (H.R. at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (H.R. Muslim).

            Semangat menuntut ilmu akan tetap ada dengan hadirnya internet di tengah-tengah kita. Salah satu wujud nyatanya yaitu dengan adanya live streaming yang bisa kita akses di mana dan kapan saja, termasuk mengakses kajian. Tentu saja ini merupakan salah satu spirit dalam berbuat kebaikan. Namun, jangan sampai dengan hadirnya internet membuat manusia melampaui batas. Maksudnya jangan sampai kita menuhankan internet dan bergantung segalanya dengan internet.

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah’.” (Q.S. az-Zumar: 53)

Penulis: Muhammad Torieq Abdillah mahasiswa S1 Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

 

Referensi

Andirja, Firanda. 2019. Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubra – Kemudharatan Dihilangkan Sebisa Mungkin (Kaidah 4). https://firanda.com/2464-al-qawaid-al-fiqhiyyah-al-kubra-kemudharatan-dihilangkan-sebisa-mungkin-kaidah-4.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2021)

Purnama, Yulian. 2019. Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid. https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.html

https://tafsirweb.com/8715-quran-surat-az-zumar-ayat-53.html