Pengikut

Jumat, 11 Juni 2021

Sisi Positif Perkembangan Teknologi Sebagai Sarana Mempermudah Beragama Pada Era Society 5.0 dan Pandemi Covid-19

 

    Perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa tidak lepas dari peran penting teknologi. Hadirnya teknologi di tengah-tengah manusia sungguh membawa perubahan yang begitu signifikan. Kecanggihan teknologi membawa manusia semakin berinovasi dalam menjalani kehidupan, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Tampaknya, sangat sulit untuk lepas dari teknologi, sebab teknologi sudah menjalar ke semua lini kehidupan. Salah satu buah dari lahirnya teknologi adalah internet. Hadirnya internet menjadi bentuk semangat manusia dalam menghadapi era society 5.0.

Semuanya memang memiliki sisi positif dan negatif, tidak terkecuali internet. Semua sisi positif dari internet sangat membantu manusia dalam menjalani hidup. Terlebih di saat seluruh manusia bersiap dalam menghadapi era society 5.0 dan pandemi Covid-19, teknologi sangat berperan penting bagi manusia. Namun, harus diingat bahwa dengan kehadirannya teknologi jangan sampai membuat manusia terbuai. Sebab, teknologi bukanlah segalanya, meskipun tidak bisa kita pungkiri bahwa semua manusia membutuhkan teknologi. Masih ada norma dan batasan yang harus diperhatikan saat menggunakan teknologi, terlebih internet. Itulah yang menjadi tantangan tersendiri saat berhadapan dengan internet, karena tidak sedikit sisi negatifnya muncul di tengah keberlangsungan hidup.

Pembahasan

            Tekonolgi hadir untuk membantu manusia dalam menjalani kehidupan. Apapun itu, teknologi berperan sangat penting bagi manusia. Contoh sederhana dalam penerapan teknologi bagi manusia adalah menjadikan teknologi, khususnya internet sebagai sarana mempermudah beragama. Contoh sederhananya, ketika ingin mengikuti pengajian langsung di masjid, tetapi ada kesibukan, salah satu solusinya yaitu mengikuti kajian melalui live streaming. Adanya live streaming hadir di tengah-tengah kita membantu mempermudah saat tidak bisa mengikuti kajian langsung di masjid. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini, kita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa hadir langsung di masjid. Antara kemaslahatan diri untuk menuntut ilmu secara langsung di majelis ilmu harus dikalahkan oleh adanya kemudaratan pandemi Covid-19. Apabila kita tetap memaksakan diri untuk hadir secara langsung di masjid, sedangkan di sisi lain akan ada kemudaratan yang kita terima, sebagai konsekuensinya kita harus mengurungkan niat untuk hadir secara langsung. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah fikih turunan tentang kemudaratan,

دَرْءُ الْمفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan lebih diutamakan daripada menghilangkan kemaslahatan.”

Kaidah ini diterapkan apabila maslahat dan mudaratnya sama, tidak ada dari keduanya yang lebih besar. Oleh karena itu, yang harus didahulukan di antara keduanya adalah menghindari diri dari mudarat yang akan muncul, meskipun harus merelakan maslahat yang ada. Artinya, kita lebih baik untuk tidak menghadiri kajian secara langsung, terlebih apabila kondisi kesehatan kita kurang fit, maka sangat mudah untuk terpapar Covid-19. Meskipun kita tahu bahwa menghadiri kajian secara langsung akan dipermudah jalannya menuju surga dan dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikatNya.

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga.” (H.R. at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (H.R. Muslim).

            Semangat menuntut ilmu akan tetap ada dengan hadirnya internet di tengah-tengah kita. Salah satu wujud nyatanya yaitu dengan adanya live streaming yang bisa kita akses di mana dan kapan saja, termasuk mengakses kajian. Tentu saja ini merupakan salah satu spirit dalam berbuat kebaikan. Namun, jangan sampai dengan hadirnya internet membuat manusia melampaui batas. Maksudnya jangan sampai kita menuhankan internet dan bergantung segalanya dengan internet.

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah’.” (Q.S. az-Zumar: 53)

Penulis: Muhammad Torieq Abdillah mahasiswa S1 Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, UIN Antasari Banjarmasin

 

Referensi

Andirja, Firanda. 2019. Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubra – Kemudharatan Dihilangkan Sebisa Mungkin (Kaidah 4). https://firanda.com/2464-al-qawaid-al-fiqhiyyah-al-kubra-kemudharatan-dihilangkan-sebisa-mungkin-kaidah-4.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2021)

Purnama, Yulian. 2019. Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid. https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.html

https://tafsirweb.com/8715-quran-surat-az-zumar-ayat-53.html

 

0 komentar:

Posting Komentar