Pengikut

Selasa, 22 Juni 2021

Teori Wahdat al Wujud

 

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekurangan. Beribadah merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Di dalam Q.S Al-adiyat (56) menjelaskan bahwa seluruh makhluk di alam semesta diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Maka dari itu  jalan yang harus ditempuh manusia adalah berusaha untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Terdapat berbagai jalan yang dapat dilakukan manusia untuk beribadah, diantaranya dengan cara mendalami ilmu Filsafat dan Tasawuf. Dengan adanya filsafat dan tasawuf, manusia mampu memahami keberadaan Allah SWT sehingga dapat mengantarkan manusia menuju jalan kebenaran. Tasawuf sendiri merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang bagaiman cara manusia untuk menghindari sikap cinta kepada dunia. Istilah ini sering ditujukan kepada orang-orang sufi dan zuhud. Sedangkan filsafat sendiri merupakan jembatan untuk mendalami (logika) atau mengenal hakikat Allah SWT.

Filsafat dan Tasawuf mempunyai peran penting dalam ber-taqarrub ilallah. Keduanya sama-sama mempelajari bagaimana cara manusia dapat merasakan kehadiran sang pencipta di setiap perjalanannya. Dalam perkembanganya, tasawuf terbagi menjadi berbagai aliran, salah satunya yaitu Tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi sendiri merupakan suatu ajaran ma’rifatullah (tasawuf) yang berdasarkan nalar atau logika (filsafat). Tasawuf falsafi juga bisa dimaknai dengan tasawufnya orang filsafat, karena mengandung pemikiran orang-orang filsafat di dalamnya.

Konsep tasawuf falsafi muncul karena adanya pemahaman tasawuf yang beraneka ragam. Sehingga mengakibatkan para sufi berupaya untuk mengungkap ajaran tersebut, seperti halnya Syeikh Muhyi al-Din Muhammad Ibnu Ali yang dikenal dengan nama Ibnu Arabi[1]. Ibnu arabi sendiri merupakan tokoh yang dikenal dengan konsep tasawuf dan filsafatnya.

Konsep tasawuf dan filsafat ibnu arabi memberikan dampak yang cukup signifikan dalam dunia keilmuan, salah satu sumbangsinya ialah teori wahdat al wujud (tasawuf falsafi) yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi. Sebelum membahas tentang teori wahdat al wujud, disini penulis akan sedikit menjelaskan mengenai pemikiran metafisika Ibnu Arabi. Menurutnya, Allah SWT merupakan wujud yang hakiki, karena keberadaan-Nya tidak melalui bantuan dari pihak lain, serta  wujud Allah SWT merupakan dzat-Nya sendiri. Kemudian hakikat universal terdapat pada Tuhan dan alam semesta. Yang artinya tiada permulaan dan tiada yang mendahului wujudnya Allah SWT (qidam). Selanjutunya, jagat raya tersusun dari sesuatu yang ada di bumi dan langit, dan sesuatu yang berada di dalam keduanya, tak terkecuali manusia. Kemudian asumsi yang terakhir adalah manusia merupakan khalifah Allah SWT di muka bumi (mikro kosmos)[2].

Konsep wahdat al wujud tercipta berdasarkan logika dan perasaan sehingga dapat dirasakan oleh semua orang, baik sufi maupun tidak. Wahdat al wujud sendiri merupakan teori yang menegaskan bahwa tiada sesuatu yang wujud selain wujud Allah SWT, wujud hakiki semata-mata hanya milik-Nya[3]. Sedangkan pengertian secara terminologi yaitu pada hakikatnya manusia dan tuhan menyatu menjadi satu kesatuan yang wujud. Makna terminologi tersebut dianggap sulit untuk dimengerti oleh masyarakat yang rendah dalam pemahaman agamanya, sehingga menimbulkan banyak kontroversi dikalangan sufisme.

Pemahaman sufisme dianggap menyimpang serta dapat mengakibatkan manusia terjerumus ke dalam faham polytheisme, yaitu menganggap bahwa tuhan itu banyak.  Padahal wahdat al wujud yang dimaksud oleh Ibnu Arabi yaitu wahdat al wujud dalam bentuk hakikat, bukan juziyat. Bahwa secara hakikat, semua yang ada di alam semesta ini tidak berwujud (tidak ada wujudnya). Sebagaimana cahaya yang mampu bersinar dan dapat dilihat oleh indra penglihatan kita. Sesungguhnya cahaya tersebut tidak ada. Cahaya tersebut merupakan wujud Allah yang telah dimanifestasikan, sehingga memancarkan cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia (wujud).

Penulis: Ulfatun



[1] Zulkifli, “Tasawuf falsafi ibnu arabi”, (https://zulkifli-sekarbela.blogspot.com/2013/02/tasawuf-falsafi-ibnuarabi, diakses pada 18 November 2020, 09:32)

[2] Abd. Halim rofi’ie, “wahdat al wujud dalam pemikiran ibnu arabi”, Ulul Alban Vol. 13 No. 2 tahun 2010

[3] M. robith fuadi, “memahami tasawuf ibnu arabi dan ibnu al farid”, Ulul Albab Vol. 14 No. 2 tahun 2013

0 komentar:

Posting Komentar