Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Minggu, 31 Oktober 2021

Kisah Masa Muda Nabi Muhammad SAW yang Mengutamakan Persatuan dalam Keberagaman Suku dan Golongan

 

Perbedaan adalah Rahmat Tuhan. Namun bagi sebagian orang justru memandangnya sebagai sebuah permusuhan dan kerap dijadikan sebagai persoalan. Hal ini sering menjadi akar dari beragam perselisihan yang tak jarang dapat menimbulkan perkelahian, lebih-lebih lagi dapat membuat seseorang untuk bertindak anarkis dan radikal. Menyikapi persoalan dan fenomena tersebut, mari kita bermuhasabah dan membaca kembali catatan-catatan kehidupan manusia pilihan dan utusan Allah Swt. yaitu Nabi Muhammad SAW. dalam hal merajut perdamaian dan mengutamakan persatuan di atas semua golongan.

            Alkisah pada lima tahun sebelum masa kenabian, tepatnya ketika Nabi berusia 35 tahun, kota Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul Haram yang sewaktu-waktu bisa membuat Ka’bah menjadi runtuh. Bencana tersebut membuat bangunan Ka’bah semakin rapuh dan dindingnya pecah-pecah. Ka’bah merupakan susunan batu-batu yang 9 hasta lebih tinggi dari tubuh manusia, dibangun sejak masa Nabi Ismail as tanpa adanya atap sehingga banyak pencuri yang sering mengambil barang-barang berharga yang tersimpan didalamnya. Orang-orang Quraisy dihinggapi rasa bimbang dan takut antara merenovasi atau membiarkan apa adanya. Meskipun akhirnya mereka sepakat untuk merenovasinya. Mereka juga sepakat bahwa dalam perenovasiannya hanya akan memasukan bahan-bahan bangunan yang baik. Artinya, selain dengan mempertimbangkan faktor kualitas dari bahan bangunan itu sendiri, mereka juga tidak menerima dana dari penghasilan para pelacur, riba, dan perampasan terhadap harta orang lain.

            Walau sudah demikian, mereka tetap saja masih merasa takut untuk merobohkannya. Akhirnya al-Walid bin Mughiroh al-Makhzumi mengawali perobohan bangunan Ka’bah yang kemudian diikuti oleh semua orang setelah mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang menimpa al-Walid. Mereka terus merobohkan setiap bangunan Ka’bah hingga Rukun Ibrahim, untuk kemudian membangunnya kembali. Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap kabilah dengan bagiannya masing-masing. Setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan mulai membangun. Adapun yang bertugas menangani urusan renovasi pembangunan Ka’bah secara keseluruhan adalah seorang arsitek berkebangsaan Romawi yang bernama Baqum (nama aslinya adalah Pachomius).

Tatkala pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan untuk meletakan batu suci tersebut di tempat semula. Perselisihan itu terus berlanjut selama 4-5 hari kemudian tanpa adanya keputusan. Bahkan, perselisihan itu semakin meruncing yang hampir saja mengakibatkan pertumpahan darah di Tanah Suci. Abu Umayyah bin al-Mughiroh Al-Makhzumi kemudian mengusulkan solusi atas perselisihan di antara mereka untuk menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk melalui pintu masjid, hingga mereka akhirnya sepakat. Allah Swt. menghendaki orang yang berhak dalam menangani masalah tersebut adalah Nabi SAW. Tatkala mengetahui hal ini, mereka saling berbisik-bisik ”Inilah Al-Amin -kami rela kepadanya-, Muhammad”. Setelah mereka berkumpul di sekitar Nabi dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, beliau pun kemudian meminta sehelai selendang sebelum beliau (Nabi) meletakan Hajar Aswad tepat di tengah-tengah selendang tersebut, lalu meminta kepada para pemuka kabilah yang saling berselisih untuk memegang tiap-tiap sudut selendang dan meminta mereka untuk mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah mendekati tempat (Hajar Aswad) yang semula, beliau kemudian mengambilnya dan meletakannya sendiri. Ini merupakan cara pemecahan yang sangat tepat dan memuaskan hati semua orang.

            Kisah Nabi dalam hal menyikapi perbedaan di tengah keberagaman suku dan golongan tersebut bisa dijadikan contoh untuk diterapkan di masyarakat saat ini. Bahwasanya persatuan merupakan nilai pokok kehidupan daripada harus memilih untuk membakar api perselisihan dan menjauh dari perdamaian.

 

Refrensi:

 

الرحيق المختوم، ص: 52 - بناء الكعبة وقضية التحكيم

Teks aslinya adalah:

ولخمس وثلاثين من مولده صلى الله عليه وسلم قامت قريش ببناء الكعبة وذلك لأن الكعبة كانت رضما فوق القامة ارتفاعها تسعة أذرع من عهد إسماعيل ولم يكن لها سقف فسرق نفر من اللصوص كنزها الذي كان في جوفها وكانت مع ذلك قد تعرضت اعتباره أثرا قديما للعوادي التي أهت بنيانها وصدعت جدرانها وقبل بعثته صلى الله عليه وسلم بخمس سنين جرف مكة سيل عرم انحدر إلى البت الحرام فأوشكت الكعبة منه على الانهيار فاضطرت قريش إلى تجديد بنائها حرصا على مكانتها واتفقوا على أن لا يدخلوا في بنائها إلا طيبا فلا يخلوا فيها مهر بغي ولابيع ربا ولامظلمة أحد من الناس وكانوا يهابون هدمها فابتدأ بها الوليد بن المغيرة المخزومي وتبعه الناس لما رأوا أنه لم يصبه شيء ولم يزالوال في الهدم حتى وصلبا إلى قواعد إبراهيم ثم أرادوا الأخذ في البناء فجزأوا الكعبة وخصصوا لكل قبيلة جزاء منها فجمعت كل قبيلة حجارة على حدة وأخذوا يبنونها وتولى البناء رومي اسمه باقوم ولما بلغ البنيان موضع الحجر الأسود اختلفوا فيمن يمتاز بشرف وضعه في مكانه واستمر النزاع أربع ليال أوخمسا واشتد حتى كاد يتحول إلى حرب ضروس في أرض الحرام إلا أن أبا أمة بن المغيرة المخزومي عرض عليهم أن يحكموا فيها شجر بينهم أول داخل عليهم من الأمين رضيناه هذا محمد فلما انتهى إليهم وأخبروه الخبر طلب رداء فوضع الحجر وسطه وطلب من رؤساء القبائل المتنازعين أن يمسكوا جميعا بأطراف الرداء وأمرهم أن يرفعوه حتى إذ أوصلوه إلى مضعه أخذه بيده فوضعه في مكانه وهذ حل حصيف رضي به القوم وقصرت بقريش النفقة فأخرجوا من الجهة الشمالية نحوا من ستة أذرع وهي التي تسمى بالحجر والحطيم ورفعوا بابيها من الأرض لئلا يدخلها إلا من أرادوا لما بلغ البنا خمسة عشر ذراعا سقفوه على ست  أعمدة ا ه

 

Penulis:

Nama               : Bad’ul Hilmi Arromdoni

Organisasi       CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Angkatan 2021

Institusi           : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

                          Fakultas Sains dan Teknologi

                          Program Studi Magister Informatika

Instagram        : bad.ul_hilmi.ar

Email               : 21206051014@student.uin-suka.ac.id

Sabtu, 23 Oktober 2021

MUSYARAKAH PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’AN

Zaim Mahmudy
UIN Sunan Kalijaga yogyakarta
Mrzee1507@gmail.com 

    Musyarakah merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih dalam menjalankan usaha yang mana masing-masing pihak akan menyertakan modalnya sesuai dengan kesepakatan. Pembagian hasil atas usaha bersama akan diberikan sesuai kontribusi dana atau sesuai kesepakatan bersama sebelumya (Ismail:2011). Kasmir(2003) menuturkan bahwa musyarakah merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak memberikan dana atau jasa dengan kesepakatan bahwa nantinya keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan yang sudah disepakati. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa musyarakah merupakan akad kerja sama diantara para pemilik modal yang mencampurkan modal mereka dengan tujuan mencari keuntungan. Pembagian hasil atas usaha tersebut diberikan sesuai keuntungan yang diperoleh dan/atau kesepakatan bersama.

    Menurut perspektif ilmu fiqh dalam Kitab as-Sailul Jarrar III, Imam al-Syaukani berpendapat bahwa Syirkah syariyah terwujud (terealisasi) atas dasar sama-sama ridha di antara dua orang atau lebih yang masing-masing dari mereka mengeluarkan modal dalam ukuran yang ditentukan. Kemudian modal bersama itu dikelola untuk mendapatkan keuntungan dengan syarat masing-masing di antara mereka akan mendapat keuntungan sesuai dengan besarnya saham yang diserahkan kepada syirkah tersebut. Sejalan dengan itu, Al-qur’an menyebutkan bahwa Musyarakah merupakan salah satu kegiatan ekonomi (muamalah) yang dapat dibenarkan dalam Islam sesuai dengan Firman Allah Swt:

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْخُلَطَآءِ لَيَبْغِى بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ فَٱسْتَغْفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.(QS. Al-Shaad: 24)

Dalam ayat tersebut, lafal ٱلْخُلَطَآءِ (al-khulaha) diartikan syaruka, yakni orang-orang yang mencampurkan harta mereka untuk dikelola bersama. Menurut al-Suyuthi dalam Kitab Tafsir Jalalain menerangkan bahwa:

Daud berkata, "Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu) dengan maksud untuk menggabungkannya (untuk ditambahkan kepada kambingnya. Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu) yakni orang-orang yang terlibat dalam satu perserikatan (sebagian mereka berbuat lalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini") huruf Ma di sini untuk mengukuhkan makna sedikit. Lalu kedua malaikat itu naik ke langit dalam keadaan berubah menjadi wujud aslinya seraya berkata, "Lelaki ini telah memutuskan perkara terhadap dirinya sendiri." Sehingga sadarlah Nabi Daud atas kekeliruannya itu. Kemudian Allah Swt. berfirman, (Dan Daud yakin) yakni merasa yakin (bahwa Kami mengujinya) Kami menimpakan ujian kepadanya berupa cobaan dalam bentuk cinta kepada perempuan itu (maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur rukuk) maksudnya bersujud (dan bertobat.)

Dengan demikian dapat juga dikatakan bahwa musyarakah adalah sistem ekonomi Islam yang pada intinya merupakan salah satu usaha untuk keberlangsungan hidup bagi manusia. Hal ini juga bisa dijadikan sebagai solusi dari perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi yang merubah sistem ekonomi manusia yang cenderung menuntut agar mengikuti kepada arus perkembangan tersebut.

    Musyarakah sekilas merupakan akad yang didasarkan atas prinsip-prinsip syariah. Tetapi tentu belum bisa dikatakan bahwa akad ini telah memenuhi kualifikasi sebagai bagian dari akad-akad syariah. Karena, saat ini banyak sekali bermunculan bank dengan label syariah namun sebenarnya tidak menerapkan sistem tersebut. Contohnya, pada praktik musyarakah di dalam perbankan syariah masih terdapat perbedaan dengan musyarakah perspektif fiqh. Ini dapat dilihat dari beberapa unsur seperti; modal, manajemen, masa berlaku kontrak, jaminan, dan bagi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musyarakah yang dilaksanakan di perbankan syariah belum sesuai dengan konsep fiqh sebab di dalamnya masih terdapat unsur riba. Hal itu dilandaskan bahwa pada faktanya penetapan nominal uang yang harus disetorkan di dalam perbankan syari’ah sudah ditentukan di awal transaksi, walaupun masih belum diketahui apakah usaha yang akan dilakukan oleh nasabah nantinya mengalami keuntungan atau kerugian. Sementara apabila usaha yang dilakukan nasabah terjadi kerugian maka hanya akan ditanggung oleh pihak nasabahnya saja. Selain itu, di dalam praktiknya juga masih terdapat jaminan dalam akad musyarakah.

    Berdasakan keterangan di atas, dapat kita ketahui bahwa musyarakah juga dimaksudkan sebagai alternatif pembiayaan untuk modal kerja yang mana dana dari bank merupakan bagian dari modal usaha nasabah dan keuntungannya dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati. Manfaat yang ditimbulkan dari akad ini adalah; pertama, lebih menguntungkan karena berdasarkan prinsip bagi hasil; dan kedua, fasilitas yang diberikan adalah mekanisme pengembalian pembiayaan yang fleksibel (bulanan atau sekaligus di akhir periode). Oleh karena itu, kerjasama bagi hasil dapat dijalankan dengan memanfaatkan musyarakah untuk mencari solusi terbaik dalam memulai kolaborasi bisnis pada aktivitas muamalah. Sehingga aktivitas ekonomi riil dapat dijalankan dan sekaligus menghindarkan diri dari riba dan transaksi terlarang lainnya.



Rabu, 20 Oktober 2021

Dalam Rangka Memperkenalkan Organisasi kepada Mahasantri Baru, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Gelar Acara MESRA

 


    Minggu (17/10)-CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menggelar acara bertajuk Mengenal CSSMoRA (MESRA) bertempat di Taman Tempuran Cikal, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY. Acara tersebut merupakan rutinitas tahunan yang diselenggarakan oleh pengurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dalam rangka mengenalkan seluk-beluk organisasi CSSMoRA yang berada di dalam Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), sekaligus untuk saling memperkenalkan dan menguatkan relasi antara mahasantri baru dengan mahasantri lama. Sebagai akibat dari masih berlangsungnya masa pademi, acara Mengenal CSSMoRA diselenggarakan secara luring oleh sebagaian besar anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan mahasantri PBSB angkatan 2021 sebagai calon anggota baru, sementara beberapa diantaranya mengikuti secara virtual melalui Gmeet dikarenakan masih berada di daerah asal. Meskipun begitu, dalam acara tersebut panitia penyelenggara turut menghadirkan saudara Ahmad Fakhrurrozi sebagai pemateri. Beliau merupakan demisioner pegurus CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang juga mantan ketua umum CSSMoRA Nasional periode 2020/2021. 

                Acara dimulai pada pukul 08:30 WIB dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang kemudian dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA. Kemudian selanjutnya adalah sambutan oleh ketua umum CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga periode 2020/2021, Hamada Hafidzu. Acara kemudian dilanjutkan dengan acara inti, yaitu pemberian materi oleh saudara Ahmad Fakhrurrozi. Beliau bepesan bahwa slogan CSSMoRA yang berbunyi ‘loyalitas tanpa batas’ tidak hanya sebuah slogan, akan tetapi harus bisa diselaraskan dengan praktik-praktik di dalam kehidupan berorganisasi. Beliau juga berpesan untuk tidak hanya mengenal teman-teman dari CSSMoRA atau PBSB tingkat perguruan tinggi saja, melainkan untuk mengenal seluruh anggota CSSMoRA atau mahasantri PBSB nasional, khususnya yang seangkatan. Acara Mengenal CSSMoRA itu kemudian ditutup dengan pelantikan dan peresmian anggota baru CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga oleh saudara Hamada Hafidzu selaku ketua umum organisasi tingkat perguruan tinggi.

                Setelah acara MESRA selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan berbagai macam kegiatan perlombaan yang juga ditujukan untuk semakin mengeratkan relasi dan solidaritas antara mahasantri PBSB angkatan 2019 yang merupakan pengurus aktiv CSSMoRA dengan mahasantri baru angkatan 2021. Kegiatan tersebut berlangsung hingga minggu sore yang kemudian ditutup dengan do’a dan sesi foto bersama.

 

Reporter: Azharin saja

Minggu, 10 Oktober 2021

Tradisi Mandi Safar dalam Masyarakat Bugis

            Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki beraneka ragam budaya dan tradisi yang berbeda-beda pada setiap daerahnya. Keragaman budaya dan tradisi tersebut menjadi pendorong untuk meningkatkan hubungan emosional antara suatu wilayah dengan wilayah yang lain. Pada pelestariannya, budaya dan tradisi yang dilestarikan antar generasi tersebut telah melahirkan proses transmisi ilmu pengetahuan yang berupa doktrin maupun prakteknya. Ilmu pengetahuan inilah yang mengikat emosional di antara masyarakat untuk terus melestarikan tradisi di daerahnya.

            Istilah tradisi dalam islam dikenal dengan kata 'urf yang secara terminologi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang diyakini oleh mayoritas orang baik berupa ucapan ataupun perbuatan yang sudah berulang-ulang sehingga dapat tertanam di dalam jiwanya. Tradisi islam yang terdapat di Indonesia merupakan hasil dari proses perkembangan agama dalam mengatur penganutnya untuk melakukan aktivitas dan interaksi sehari-hari. Di sisi lain, tradisi islam cenderung memberikan keringanan dan kemudahan sehingga tidak memaksa pemeluknya di luar batas kemampuannya. Maka dari itu tidak jarang jika proses perkembangan dan pengamalannya masih dapat kita saksikan hingga saat ini.

            Sebagai contoh tradisi islam yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Mandi Safar. Tradisi tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang masih terlestari di dalam kehidupan masyarakat Bugis. Selain dengan maksud untuk melakukan pembersihan diri atau yang dikenal sebagai thaharah yang juga merupakan salah satu perintah dari agama, Mandi Safar juga merupakan ritual yang dilaksanakan sebagai bentuk permohonan pada Allah  Swt. agar dijauhkan dari segala  bencana. Konon, tradisi Mandi Safar ini merupakan pengaruh dari budaya masyarakat Arab zaman dahulu yang beranggapan bahwa Safar  merupakan bulan penuh bencana. Biasanya, mandi safar ini dilakukan di sungai dengan membaca beberapa ayat al-Qur’an, seperti Q.S. Yasin ayat 58, ash-Shafat ayat 79, ash-Shafat  ayat 109, ash-Shafat ayat 120, ash-Shafat  ayat 130, dan al-Qadar ayat 5.

            Dengan demikian, berdasarkan tradisi ini kita bisa melihat bahwa sebenarnya agama selalu terkait di dalam berbagai macam tradisi dan menjadi sebuah ekspresi budaya tentang keyakinan seseorang terhadap sesuatu yang suci tentang ungkapan keimanan terhadap pencipta-Nya. Apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai pergulatan dalam dinamika sejarah umat beragama itu sendiri.

 

Kontributor : Zaim Mahmudy