Pengikut

Minggu, 31 Oktober 2021

Kisah Masa Muda Nabi Muhammad SAW yang Mengutamakan Persatuan dalam Keberagaman Suku dan Golongan

 

Perbedaan adalah Rahmat Tuhan. Namun bagi sebagian orang justru memandangnya sebagai sebuah permusuhan dan kerap dijadikan sebagai persoalan. Hal ini sering menjadi akar dari beragam perselisihan yang tak jarang dapat menimbulkan perkelahian, lebih-lebih lagi dapat membuat seseorang untuk bertindak anarkis dan radikal. Menyikapi persoalan dan fenomena tersebut, mari kita bermuhasabah dan membaca kembali catatan-catatan kehidupan manusia pilihan dan utusan Allah Swt. yaitu Nabi Muhammad SAW. dalam hal merajut perdamaian dan mengutamakan persatuan di atas semua golongan.

            Alkisah pada lima tahun sebelum masa kenabian, tepatnya ketika Nabi berusia 35 tahun, kota Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul Haram yang sewaktu-waktu bisa membuat Ka’bah menjadi runtuh. Bencana tersebut membuat bangunan Ka’bah semakin rapuh dan dindingnya pecah-pecah. Ka’bah merupakan susunan batu-batu yang 9 hasta lebih tinggi dari tubuh manusia, dibangun sejak masa Nabi Ismail as tanpa adanya atap sehingga banyak pencuri yang sering mengambil barang-barang berharga yang tersimpan didalamnya. Orang-orang Quraisy dihinggapi rasa bimbang dan takut antara merenovasi atau membiarkan apa adanya. Meskipun akhirnya mereka sepakat untuk merenovasinya. Mereka juga sepakat bahwa dalam perenovasiannya hanya akan memasukan bahan-bahan bangunan yang baik. Artinya, selain dengan mempertimbangkan faktor kualitas dari bahan bangunan itu sendiri, mereka juga tidak menerima dana dari penghasilan para pelacur, riba, dan perampasan terhadap harta orang lain.

            Walau sudah demikian, mereka tetap saja masih merasa takut untuk merobohkannya. Akhirnya al-Walid bin Mughiroh al-Makhzumi mengawali perobohan bangunan Ka’bah yang kemudian diikuti oleh semua orang setelah mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang menimpa al-Walid. Mereka terus merobohkan setiap bangunan Ka’bah hingga Rukun Ibrahim, untuk kemudian membangunnya kembali. Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap kabilah dengan bagiannya masing-masing. Setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan mulai membangun. Adapun yang bertugas menangani urusan renovasi pembangunan Ka’bah secara keseluruhan adalah seorang arsitek berkebangsaan Romawi yang bernama Baqum (nama aslinya adalah Pachomius).

Tatkala pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan untuk meletakan batu suci tersebut di tempat semula. Perselisihan itu terus berlanjut selama 4-5 hari kemudian tanpa adanya keputusan. Bahkan, perselisihan itu semakin meruncing yang hampir saja mengakibatkan pertumpahan darah di Tanah Suci. Abu Umayyah bin al-Mughiroh Al-Makhzumi kemudian mengusulkan solusi atas perselisihan di antara mereka untuk menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk melalui pintu masjid, hingga mereka akhirnya sepakat. Allah Swt. menghendaki orang yang berhak dalam menangani masalah tersebut adalah Nabi SAW. Tatkala mengetahui hal ini, mereka saling berbisik-bisik ”Inilah Al-Amin -kami rela kepadanya-, Muhammad”. Setelah mereka berkumpul di sekitar Nabi dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, beliau pun kemudian meminta sehelai selendang sebelum beliau (Nabi) meletakan Hajar Aswad tepat di tengah-tengah selendang tersebut, lalu meminta kepada para pemuka kabilah yang saling berselisih untuk memegang tiap-tiap sudut selendang dan meminta mereka untuk mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah mendekati tempat (Hajar Aswad) yang semula, beliau kemudian mengambilnya dan meletakannya sendiri. Ini merupakan cara pemecahan yang sangat tepat dan memuaskan hati semua orang.

            Kisah Nabi dalam hal menyikapi perbedaan di tengah keberagaman suku dan golongan tersebut bisa dijadikan contoh untuk diterapkan di masyarakat saat ini. Bahwasanya persatuan merupakan nilai pokok kehidupan daripada harus memilih untuk membakar api perselisihan dan menjauh dari perdamaian.

 

Refrensi:

 

الرحيق المختوم، ص: 52 - بناء الكعبة وقضية التحكيم

Teks aslinya adalah:

ولخمس وثلاثين من مولده صلى الله عليه وسلم قامت قريش ببناء الكعبة وذلك لأن الكعبة كانت رضما فوق القامة ارتفاعها تسعة أذرع من عهد إسماعيل ولم يكن لها سقف فسرق نفر من اللصوص كنزها الذي كان في جوفها وكانت مع ذلك قد تعرضت اعتباره أثرا قديما للعوادي التي أهت بنيانها وصدعت جدرانها وقبل بعثته صلى الله عليه وسلم بخمس سنين جرف مكة سيل عرم انحدر إلى البت الحرام فأوشكت الكعبة منه على الانهيار فاضطرت قريش إلى تجديد بنائها حرصا على مكانتها واتفقوا على أن لا يدخلوا في بنائها إلا طيبا فلا يخلوا فيها مهر بغي ولابيع ربا ولامظلمة أحد من الناس وكانوا يهابون هدمها فابتدأ بها الوليد بن المغيرة المخزومي وتبعه الناس لما رأوا أنه لم يصبه شيء ولم يزالوال في الهدم حتى وصلبا إلى قواعد إبراهيم ثم أرادوا الأخذ في البناء فجزأوا الكعبة وخصصوا لكل قبيلة جزاء منها فجمعت كل قبيلة حجارة على حدة وأخذوا يبنونها وتولى البناء رومي اسمه باقوم ولما بلغ البنيان موضع الحجر الأسود اختلفوا فيمن يمتاز بشرف وضعه في مكانه واستمر النزاع أربع ليال أوخمسا واشتد حتى كاد يتحول إلى حرب ضروس في أرض الحرام إلا أن أبا أمة بن المغيرة المخزومي عرض عليهم أن يحكموا فيها شجر بينهم أول داخل عليهم من الأمين رضيناه هذا محمد فلما انتهى إليهم وأخبروه الخبر طلب رداء فوضع الحجر وسطه وطلب من رؤساء القبائل المتنازعين أن يمسكوا جميعا بأطراف الرداء وأمرهم أن يرفعوه حتى إذ أوصلوه إلى مضعه أخذه بيده فوضعه في مكانه وهذ حل حصيف رضي به القوم وقصرت بقريش النفقة فأخرجوا من الجهة الشمالية نحوا من ستة أذرع وهي التي تسمى بالحجر والحطيم ورفعوا بابيها من الأرض لئلا يدخلها إلا من أرادوا لما بلغ البنا خمسة عشر ذراعا سقفوه على ست  أعمدة ا ه

 

Penulis:

Nama               : Bad’ul Hilmi Arromdoni

Organisasi       CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Angkatan 2021

Institusi           : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

                          Fakultas Sains dan Teknologi

                          Program Studi Magister Informatika

Instagram        : bad.ul_hilmi.ar

Email               : 21206051014@student.uin-suka.ac.id

0 komentar:

Posting Komentar