Pengikut

Sabtu, 23 Oktober 2021

MUSYARAKAH PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’AN

Zaim Mahmudy
UIN Sunan Kalijaga yogyakarta
Mrzee1507@gmail.com 

    Musyarakah merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih dalam menjalankan usaha yang mana masing-masing pihak akan menyertakan modalnya sesuai dengan kesepakatan. Pembagian hasil atas usaha bersama akan diberikan sesuai kontribusi dana atau sesuai kesepakatan bersama sebelumya (Ismail:2011). Kasmir(2003) menuturkan bahwa musyarakah merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak memberikan dana atau jasa dengan kesepakatan bahwa nantinya keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan yang sudah disepakati. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa musyarakah merupakan akad kerja sama diantara para pemilik modal yang mencampurkan modal mereka dengan tujuan mencari keuntungan. Pembagian hasil atas usaha tersebut diberikan sesuai keuntungan yang diperoleh dan/atau kesepakatan bersama.

    Menurut perspektif ilmu fiqh dalam Kitab as-Sailul Jarrar III, Imam al-Syaukani berpendapat bahwa Syirkah syariyah terwujud (terealisasi) atas dasar sama-sama ridha di antara dua orang atau lebih yang masing-masing dari mereka mengeluarkan modal dalam ukuran yang ditentukan. Kemudian modal bersama itu dikelola untuk mendapatkan keuntungan dengan syarat masing-masing di antara mereka akan mendapat keuntungan sesuai dengan besarnya saham yang diserahkan kepada syirkah tersebut. Sejalan dengan itu, Al-qur’an menyebutkan bahwa Musyarakah merupakan salah satu kegiatan ekonomi (muamalah) yang dapat dibenarkan dalam Islam sesuai dengan Firman Allah Swt:

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْخُلَطَآءِ لَيَبْغِى بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ فَٱسْتَغْفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.(QS. Al-Shaad: 24)

Dalam ayat tersebut, lafal ٱلْخُلَطَآءِ (al-khulaha) diartikan syaruka, yakni orang-orang yang mencampurkan harta mereka untuk dikelola bersama. Menurut al-Suyuthi dalam Kitab Tafsir Jalalain menerangkan bahwa:

Daud berkata, "Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu) dengan maksud untuk menggabungkannya (untuk ditambahkan kepada kambingnya. Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu) yakni orang-orang yang terlibat dalam satu perserikatan (sebagian mereka berbuat lalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini") huruf Ma di sini untuk mengukuhkan makna sedikit. Lalu kedua malaikat itu naik ke langit dalam keadaan berubah menjadi wujud aslinya seraya berkata, "Lelaki ini telah memutuskan perkara terhadap dirinya sendiri." Sehingga sadarlah Nabi Daud atas kekeliruannya itu. Kemudian Allah Swt. berfirman, (Dan Daud yakin) yakni merasa yakin (bahwa Kami mengujinya) Kami menimpakan ujian kepadanya berupa cobaan dalam bentuk cinta kepada perempuan itu (maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur rukuk) maksudnya bersujud (dan bertobat.)

Dengan demikian dapat juga dikatakan bahwa musyarakah adalah sistem ekonomi Islam yang pada intinya merupakan salah satu usaha untuk keberlangsungan hidup bagi manusia. Hal ini juga bisa dijadikan sebagai solusi dari perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi yang merubah sistem ekonomi manusia yang cenderung menuntut agar mengikuti kepada arus perkembangan tersebut.

    Musyarakah sekilas merupakan akad yang didasarkan atas prinsip-prinsip syariah. Tetapi tentu belum bisa dikatakan bahwa akad ini telah memenuhi kualifikasi sebagai bagian dari akad-akad syariah. Karena, saat ini banyak sekali bermunculan bank dengan label syariah namun sebenarnya tidak menerapkan sistem tersebut. Contohnya, pada praktik musyarakah di dalam perbankan syariah masih terdapat perbedaan dengan musyarakah perspektif fiqh. Ini dapat dilihat dari beberapa unsur seperti; modal, manajemen, masa berlaku kontrak, jaminan, dan bagi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musyarakah yang dilaksanakan di perbankan syariah belum sesuai dengan konsep fiqh sebab di dalamnya masih terdapat unsur riba. Hal itu dilandaskan bahwa pada faktanya penetapan nominal uang yang harus disetorkan di dalam perbankan syari’ah sudah ditentukan di awal transaksi, walaupun masih belum diketahui apakah usaha yang akan dilakukan oleh nasabah nantinya mengalami keuntungan atau kerugian. Sementara apabila usaha yang dilakukan nasabah terjadi kerugian maka hanya akan ditanggung oleh pihak nasabahnya saja. Selain itu, di dalam praktiknya juga masih terdapat jaminan dalam akad musyarakah.

    Berdasakan keterangan di atas, dapat kita ketahui bahwa musyarakah juga dimaksudkan sebagai alternatif pembiayaan untuk modal kerja yang mana dana dari bank merupakan bagian dari modal usaha nasabah dan keuntungannya dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati. Manfaat yang ditimbulkan dari akad ini adalah; pertama, lebih menguntungkan karena berdasarkan prinsip bagi hasil; dan kedua, fasilitas yang diberikan adalah mekanisme pengembalian pembiayaan yang fleksibel (bulanan atau sekaligus di akhir periode). Oleh karena itu, kerjasama bagi hasil dapat dijalankan dengan memanfaatkan musyarakah untuk mencari solusi terbaik dalam memulai kolaborasi bisnis pada aktivitas muamalah. Sehingga aktivitas ekonomi riil dapat dijalankan dan sekaligus menghindarkan diri dari riba dan transaksi terlarang lainnya.



1 komentar: