Pengikut

Minggu, 10 Oktober 2021

Tradisi Mandi Safar dalam Masyarakat Bugis

            Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki beraneka ragam budaya dan tradisi yang berbeda-beda pada setiap daerahnya. Keragaman budaya dan tradisi tersebut menjadi pendorong untuk meningkatkan hubungan emosional antara suatu wilayah dengan wilayah yang lain. Pada pelestariannya, budaya dan tradisi yang dilestarikan antar generasi tersebut telah melahirkan proses transmisi ilmu pengetahuan yang berupa doktrin maupun prakteknya. Ilmu pengetahuan inilah yang mengikat emosional di antara masyarakat untuk terus melestarikan tradisi di daerahnya.

            Istilah tradisi dalam islam dikenal dengan kata 'urf yang secara terminologi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang diyakini oleh mayoritas orang baik berupa ucapan ataupun perbuatan yang sudah berulang-ulang sehingga dapat tertanam di dalam jiwanya. Tradisi islam yang terdapat di Indonesia merupakan hasil dari proses perkembangan agama dalam mengatur penganutnya untuk melakukan aktivitas dan interaksi sehari-hari. Di sisi lain, tradisi islam cenderung memberikan keringanan dan kemudahan sehingga tidak memaksa pemeluknya di luar batas kemampuannya. Maka dari itu tidak jarang jika proses perkembangan dan pengamalannya masih dapat kita saksikan hingga saat ini.

            Sebagai contoh tradisi islam yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Mandi Safar. Tradisi tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang masih terlestari di dalam kehidupan masyarakat Bugis. Selain dengan maksud untuk melakukan pembersihan diri atau yang dikenal sebagai thaharah yang juga merupakan salah satu perintah dari agama, Mandi Safar juga merupakan ritual yang dilaksanakan sebagai bentuk permohonan pada Allah  Swt. agar dijauhkan dari segala  bencana. Konon, tradisi Mandi Safar ini merupakan pengaruh dari budaya masyarakat Arab zaman dahulu yang beranggapan bahwa Safar  merupakan bulan penuh bencana. Biasanya, mandi safar ini dilakukan di sungai dengan membaca beberapa ayat al-Qur’an, seperti Q.S. Yasin ayat 58, ash-Shafat ayat 79, ash-Shafat  ayat 109, ash-Shafat ayat 120, ash-Shafat  ayat 130, dan al-Qadar ayat 5.

            Dengan demikian, berdasarkan tradisi ini kita bisa melihat bahwa sebenarnya agama selalu terkait di dalam berbagai macam tradisi dan menjadi sebuah ekspresi budaya tentang keyakinan seseorang terhadap sesuatu yang suci tentang ungkapan keimanan terhadap pencipta-Nya. Apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai pergulatan dalam dinamika sejarah umat beragama itu sendiri.

 

Kontributor : Zaim Mahmudy

0 komentar:

Posting Komentar