Pengikut

CSSMoRA

CSSMoRA merupakan singkatan dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs, yang berarti Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kementrian Agama

SARASEHAN

Sarasehan adalah program kerja yang berfungsi sebagai ajang silaturahimi antara anggota aktif dan anggota pasif CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesantren

Para santri yang menerima beasiswa ini dikuliahkan hingga lulus untuk nantinya diwajibkan kembali lagi mengabdi ke Pondok Pesantren asal selama minimal tiga tahun.

Jumat, 31 Desember 2021

Pembelaan al-Asqalaniy terhadap Hadis-hadis Muallaq

 

    Tulisan ini akan mengulas tentang pembelaan al-Asqalaniy terhadap orang-orang yang mengkritik Kitab Shahih al-Bukhari. Al-Asqalaniy yang dikenal sebagai pendekar hadis, ia mengarang satu kitab khusus untuk membela Kitab Shahih al-Bukhari dalam diskursus pemotongan sanad hadis (ta’liiq).

    Perlu diketahui, bahwa penta’liqan dalam hadis sejatinya sudah kita ketahui di dalam karya-karya ulama yang masyhur di tangan kita, seperti kitab Bulugh al-Maram, Riyadl al-Shalihin, Mukhtar al-Ahadis. Akan tetapi, problem yang dihadapi pada abad ke 8-10 H. adalah banyaknya kritikan terhadap Kitab Shahih al-Bukhari. Hal ini disebabkan adanya legitimasi bahwa ashahhu al-kitab ba’da al-Qur’an huwa al-shahih al-bukhari. Maka dari itu, para penentang slogan tersebut ingin menguji kekuatan kualitas hadis dalam Kitab Shahih al-Bukhari.

    Penta’liqan dalam diskursus hadis ini sejatinya telah dibahas dalam beberapa literatur. التعليق sejatinya bermakna komentar, namun dalam diskursus hadis Ibn al-Shalah menjelaskan bahwa al-ta’liq memiliki makna yaitu adanya pemotongan sanad baik itu hanya di awal, atau bahkan sampai di akhir sanad. Al-Asqalaniy menambahkan adanya pemotongan seorang rawi yang tidak menggunakan shighat yang pasti (sima’iy). Artinya hadis muallaq adalah hadis yang perawinya terpotong, baik di awal, tengah, atau akhir, tentunya dengan shighat tertentu.  

    Terdapat dua shighat yang digunakan oleh al-Bukhari ketika menyampaikan hadis muallaq, yakni Shigat al-Jazm dan Shigat al-Tadl’if. Shighat al-Jazm biasanya menggunakan bentuk mabniy ma’lum, seperti: قال, ورَوَى. Adapun Shigat al-Tadl’if yang digunakan al-Bukhari biasanya cenderung menggunakan mabniy majhul, seperti: قيل, ورُوِىَ. Dua shigat tersebut menurut para pengkritik, dikatakan tidak konsisten dan tidak kredibel, sebab yang dianggap kredibel hanyalah metode sima’i yang notabenenya menggunakan Shighat al-Sima’i.


Pembelaan al-Asqalaniy terhadap Shigat al-Jazm

    Al-Asqalaniy melakukan pembelaan terhadap hadis-hadis muallaq yang menggunakan Shighat al-Jazm. Pertama, jika terdapat Shighat al-Jazm, maka sejatinya itu menunjukkan keabsahan perawi yang dipotong. Selain itu, hal tersebut menunjukkan adanya unsur saling melihat antar perawi dalam periwayatan. Kedua, hadis mu’allaq biasanya tidak serta merta terpotong begitu saja, hadis tersebut dijelaskan di bab lain dengan periwayatan yang berbeda, namun dengan makna yang sama.

    Ketiga, pemotongan sanad juga berfungsi untuk menjelaskan adanya pertemuan guru dan murid yang meriwayatkan hadis, namun guru tersebut ditadliskan oleh muridnya, alias disembunyikan namanya supaya seseorang tidak mengenalinya. Keempat, pemotongan sanad juga dilakukan sebab hadis tersebut mauquf, sedangkan Shahih al-Bukhari bukan tempatnya hadis mauquf.

    Kelima, jika hadis tersebut dituliskan dengan Shigat al-Tadl’if (‘an, qaala, ruwiya, yudzkar), artinya bahwa perawi yang dipotong al-Bukhari menunjukkan kredibilitias lemah, konsekuensinya hadis tersebut juga akan berkualitas dlaif, namun dlaif tersebut hanya bertaraf ringan, sebab hadis tersebut dishahihkan dengan jalur lain. Keenam, Shighat-shigat yang dituduh lemah seperti قال, عن  bukan berarti menunjukkan hadis itu lemah, namun justru menunjukkan adanya Ittishal al-sanad. Hal ini disebabkan perbedaan sejarah, kebiasaan (‘urf) ulama mutaqaddimin menganggap bahwa shigat ‘an itu masuk dalam kategori metode sima’i, sehingga kualitas hadis tetap setara. Begitu juga dengan shighat qaala, bahwa pencetus hadis mudallas itu muncul belakangan pasca Imam al-Bukhari.

    Tidak hanya dua shigat di atas, shigat-shigat yang dianggap lemah  seperti:  قاال لنا, قال لي, زادنا, زادني, ذكر لنا, ذكر لي, tidak bisa dianggap penta’liqan dengan kategori penyembunyian nama guru. Semua shighat di atas masuk dalam kategori shigat al-jazm (shigat yang kuat). Hal ini disebabkan shigat di atas dapat masuk dalam kategori metode “munawalah” dan “ijazah”. Maka dengan demikian, tuduhan bahwa al-Bukhari menyembunyikan perawi yang berstatus guru itu terbantah. Selain argumen yang sudah disebutkan, al-Bukhari ketika menyampaikan hadis dengan shighat-shighat yang dianggap lemah tidak menuliskannya di dalam hadis yang utama, namun hanya di dalam hadis-hadis syawahid, mutabi’, dan hadis mauquf. Dengan demikian, argumentasi tentang pemotongan sanad dengan shighat yang lemah, sudah terbantahkan.

  Ketujuh, pendapat al-Asqalaniy di atas masih dibantah, bahwa masih ada hadis-hadis yang menggunakan shighat lemah, namun tidak disandarkan dengan hadis yang lebih kuat, atau diriwayatkan tanpa syawahid dan mutabi’. Hal tersebut dimaklumi, sebab periwayatan yang dilakukan oleh al-Bukhari tidak semata-mata berbasis riwayat, namun juga bil ma’na. Periwayat bil ma’na lebih memprioritaskan lafadz hadis, sehingga kualitas perawi tidak terlalu ditonjolkan. Meskipun demikian, al-Bukhari tidak dapat dituduh sebagai pemotong sanad.

     Dari kritikan-kritikan yang diajukan di atas, khususnya kepada Kitab Shahih al-Bukhari, dapat kita refleksikan bahwa pendapat tentang ashahhu al-kitab ba’da al-qur’an huwa Shahih al-Bukhari masih dapat terus untuk dikaji. Tidak ada satu teori  yang sempurna dan paten, jika satu teori dianggap sempurna dan dipatenkan, hal tersebut jutsru akan membunuh perkembangan penelitian. Selain itu, Shahih al-Bukhari bukanlah kitab yang semata-mata kitab dianggap sempurna dan monumental. Kita perlu melihat kembali kitab-itab setelahnya yang juga berupaya menyempurnakan karya al-Bukhari, mulai dari Shahih Muslim, kitab sunan, kitab musnad, kitab mustadrak, kitab mustakhraj, kitab al-jami’, dan kitab-kitab lainnya. Hal ini juga menjadi peluang bagi peneliti hadis, bahwa kajian hadis masih memiliki ruang yang cukup luas dan tidak stagnan.

 

Referensi:

Taghliiq al-Ta’liiq ‘ala Shahih al-Bukhari – Imam Ibn Hajar al-Asqalaniy

Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shihah al-Sittah – Abu Syuhbah


 Kontributor: Muhammad Mundzir S,Ag

Senin, 13 Desember 2021

Coach Hafidin: antara Pengamal Syariat, Pebisnis, atau Human Breeder (Pembacaan Semanalisis Julia Kristeva)

         Dewasa ini, Indonesia diramaikan dengan diskursus poligini yang dipantik oleh Tim Narasi Trans 7. Kegiatan tersebut dilakukan bukan tanpa sebab, hal ini merespon adanya sebuah pamflet “Mentoring  Kehidupan Poligini” yang digawangi oleh seseorang bernama Hafidin. Dalam flayer mentoring tersebut, Hafidin dinarasikan sebagai seorang laki-laki yang telah berpoligini selama 21 tahun dan telah mempunyai 25 anak.

            Kapasitas Hafidin yang dijadikan narasumber utama dalam kegiatan mentoring tersebut paling tidak memunculkan beberapa kesan, baik dari golongan yang pro maupun yang kontra. Golongan yang pro dalam memandang kegiatan tersebut berkesan bahwa poligini adalah syariat dan memang harus dijalankan. Adapun golongan yang kontra, mereka miris melihat seorang laki-laki dengan empat istri dan 25 anak. Perhatian mereka tertuju kepada bagaimana Hafidin bisa berbuat adil dalam kehidupan tersebut. Dua persepsei tersebut tidak lepas dari konsep poligini yang dilakukan oleh Hafidin.

            Tulisan tidak akan membahas benar atau salah tentang apa yang dilakukan oleh Hafidin, sebab hal tersebut akan bermain dalam ranah teks-teks perkawinan dan juga hukumnya. Penulis juga tidak akan membahas secara detail bagaimana perspektif gender jika digunakan untuk membaca fenomena kehidupan Hafidin. Akan tetapi, penulis lebih memilih jalan tengah, yakni dengan membaca konsep poligini Hafidin dengan Semanalisis Julia Kristeva. Hal ini lebih menarik, sebab akan menelisik lebih dalam bagaimana konteks pemahaman Hafidin terkait konsep poligini.

Melihat Konsep Poligini dalam Pemikiran Hafidin

            Telah disinggung sebelumnya bahwa Hafidin telah melakukan poligini selama kurang lebih 21 tahun, dengan total 6 istri yang telah ia nikahi, dua wanita di antaranya sudah diceraikan, sementara ada 4 wanita masih berstatus sebagai istri. Argumentasi yang ditanamkan dalam dirinya tidak lain adalah praktik kehidupan Nabi Saw., yang kemudian ia melegitimasi bahwa poligini adalah syariat. Tidak heran, jika wanita yang dinikahinya hanya “mantuk-mantuk” saja ketika diajak menikah.

            Terlepas dari syariat atau bukan, setidaknya terdapat beberapa faktor tentang mengapa Hafidin melakukan poligini. Pertama, ia memahami bahwa poligini adalah syariat mutlak yang harus dilakukan. Poligini yang ia lakukan bertujuan untuk mengamalkan sunah Nabi Saw. Selain itu, ia mengambil ayat Al-Qur’an sebagai legitimasi bahwa poligini adalah praktik kehidupan yang islami. Ia menafikan penafsiran teks-teks yang berbicara tentang poligini.

            Kedua, ia mendapat pujian dari keluarga dan masyarakat bahwa praktik poligininya berjalan sukses. Poligini yang ia lakukan tidak terlepas dari statusnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren. Statusnya sebagai pengasuh ponpes ini kemudian memberikan sebuah konstruk di masyarakat bahwa apa yang dilakukan Hafidin adalah hal yang baik dan patut untuk dikembangkan. Circle masyarakat di lingkungan Hafidin dapat dikatakan ortodoks, artinya segala sesuatu yang dilakukan oleh Hafidin sebagai pengasuh pesantren adalah hal yang dilegalisasi oleh agama.

            Ketiga, praktik poligini yang ia lakukan karena ingin memperbanyak keturunan. Hal ini penulis sampaikan sebab ia pernah menceraikan satu wanita yang sudah menopause, di lain sisi ia juga masih ingin memiliki keturunan yang banyak. Secara tidak langsung, bahwa ia menjadikan wanita hanya sebagai ladang bercocok tanam untuk menghasilkan keturunan. Ia melupakan esensi bahwa pernikahan adalah mitsaqan galiidzan, yakni ikatan kuat yang tidak mudah untuk dilepaskan.

            Keempat, praktik poligini yang dilakukan Hafidin, selanjutnya ia jadikan sebagai bahan komersialisasi dengan mendirikan program mentoring kehidupan berpoligini. Faktor ini meskipun tidak diniatkan oleh Hafidin, namun sebab permintaan masyarakat yang ingin mengetahui kehidupan berpoligini menjadikannya tidak dapat menolak. Dalam melakukan program mentoring tersebut, tentu terdapat biaya yang dibayarkan oleh peserta kepada Hafidin, sebab konsepnya adalah “ada uang, ada ilmu”.

            Kelima, menyelamatkan kehidupan janda. Salah satu wanita yang dinikahi oleh Hafidin berstatus sebagai janda, namun kemudian ia ceraikan sebab terdapat takdir yang tidak dapat diperjuangkan. Hal tersebut kemudian menimbulkan asumsi bahwa tekadnya untuk berpoligini belum bulat, sebab perceraian yang ia lakukan tidak dengan alasan yang kuat, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Di lain sisi, ia melupakan potret kehidupan Nabi yang tidak pernah menceraikan istrinya.

            Keenam, ia memandang bahwa poligini di masa depan adalah praktik berkeluarga yang ideal dan modern, maka ia tidak berhenti untuk menjadi mentor poligini. Ia memandang bahwa peradaban Islam akan maju dengan banyaknya keturunan dan banyaknya istri. Memang benar, teradapat sinkronisasi anara pandangan Hafidin dengan hadis Nabi. Namun, ia melupakan aspek-aspek penyebab Nabi melakukan poligini. Selain itu, praktik poligini adalah tradisi umat Islam zaman dahulu, jika tradisi Islam zaman dahulu masih diberlakukan tanpa mengambil nilai-nilai universalitasnya, maka bagaimana Islam akan memimpin peradaban?

            Dari beberapa faktor di atas, yang menjadi argumentasi utama Hafidin dalam berpoligini, yang kemudian ia doktrinkan kepada istri dan para peserta mentornya adalah prinsip ketaatan. “Taat” menurutnya adalah konsep mutlak yang harus dilakukan istri kepada suami. Dengan demikian, secara tidak langsung ia mengabaikan konsep keadilan dalam berkeluarga, kemaslahatan untuk dirinya, istrinya, dan keturunannya. Ia juga melupakan konsep kesetaraan, di mana ia mendoktrinkan bahwa segala keputusan suami adalah keputusan Tuhan yang tidak dapat diintervensi oleh istri.

            Poligini yang dilakukan Hafidin tidak lepas dari pembacaannya terhadap teks-teks yang memerintahkan untuk poligini. Ia memerintahkan para mentornya untuk membaca sampai tuntas, mulai dari terjemah dan penafsiran ulama terkait ayat tersebut. Ia melarang membaca ayat-ayat tersebut menggunakan akal dan otak. Perintah tersebut juga bertentangan dengan sarjana tafsir modern, bahwa pembacaan ayat tidak hanya cukup berhenti kepada terjemah maupun tafsir, namun perlu mencari nilai-nilai universal dan makna tersembunyi di balik teks.

Membaca Pemikiran Hafidin dengan Semiotika Julia Kristeva

            Pemikiran Hafidin memberikan sebuah tamparan bagi beberapa golongan, khususnya kaum wanita, di mana wanita harus selalu patuh dengan apa yang diinginkan laki-laki, terutama keinginan laki-laki berpoligini. Namun, sejatinya tidak perlu menjustifikasi siapa yang salah, apakah Hafidin atau pemikirannya. Dalam hal ini, mari kita telisik pemahaman diksi “poligini” versi Hafidin dengan pendekatan Semiotika Julia Kristeva.

            Perlu diketahui bahwa Julia Kristeva adalah seorang filsuf bahasa yang masuk dalam kategori pemikiran Post-Structualism. Ia berpendapat bahwa segala hal yang empiris bagi manusia disebut sebagai teks, baik itu berupa tulisan, gambar, atau suara. Konsekuensinya, maka segala hal perlu dibaca ulang, baik membaca konteks teks tersebut turun atau sejarah yang melingkupi.

            Dalam pemikirannya, Julia Kristeva memiliki dua teori besar dalam membaca teks, yakni Semanalisis dan Intertekstualitas. Semanalisis bermakna bahwa bahasa yang muncul dari mulut manusia, ketika dipahami pendengar dengan konteks masing-masing akan memunculkan makna yang variatif atau berbeda-beda. Sebagai contoh ketika hadis dipahami oleh seorang sufi bukan lagi segala hal yang disandarkan kepada Nabi, baik ucapan, perbuatan, atau ketetapan. Namun, kaum sufi memahami bahwa hadis adalah sarana untuk meniru keteladanan Nabi guna mencapai makam hakikat.

            Adapun intertekstualitas menurut Julia Kristeva bermakna bahwa adanya relasi antara teks dengan teks lain. Adanya hubungan antara ruang lingkup internal teks dengan eksternal teks. Maka intertekstualitas berfungsi untuk menghubungkan antara teks dengan teks lain, baik dari segi pembaca, atau pencipta teks. Sebagai contoh ketika memahami fenomena hadis, maka terdapat ruang lingkup eksternal hadis yang juga diungkap, seperti peristiwa sahabat, latar belakang sahabat meriwayatkan, posisi Nabi ketika mengeluarkan hadis tersebut, dll.

            Penulis akan fokus terhadap teori pertama, yakni Semanalisis untuk mengungkap bagaimana konteks kehidupan Hafidin memahami poligini. Hal ini dilakukan untuk mengetahui di mana posisi Hafidin ketika memahami konsep poligini. Asumsinya bahwa tidak semua yang disampaikan oleh Hafidin tentang poligini melgitimasi bahwa ia adalah penganut sunah Nabi, namun juga terdapat konteks-konteks tersembunyi.

            Pertama, Hafidin pembaca dzahir teks. Praktik poligini yang ia lakukan pada tahap awal adalah sebagai pengamal ayat Al-Qur’an an-Nisa’: 3. Ia memberikan pemahaman kepada peserta dan keluarganya bahwa yang menjadi syariat adalah laki-laki harus memiliki empat istri. Dalam memahami teks, meskipun ia memberikan statement bahwa praktiknya dilandaskan kepada ayat, ia selamanya tidak akan mengetahui bagaimana praktik poligini pada zaman Nabi.

            Dalam teori Julia Kristeva, terdapat dua aspek yang menjadi klasifikasi seseorang dalam memahami teks, yakni genotek dan fenotek. Genotek berarti teks asli, di mana teks pembentuk tidak akan dapat diimajinasikan oleh pembaca. Sebaliknya, aspek fenotek memiliki arti tentang pemahaman yang dilingkupi dengan faktor, waktu, dan konteks pembaca masing-masing.

            Dengan demikian, pemahaman Hafidin tentang poligini tidak dapat ditendensikan kepada ayat Al-Qur’an (genotek). Ia tidak akan pernah mengetahui bagaimana konsep poligini yang dilakukan Nabi. Sebaliknya, ia hanya berdiri di poros fenotek, artinya praktik poligini yang dilakukannya saat ini adalah hasil pengaruh faktor-faktor kehidupan yang melingkupinya. Selain itu, jarak rentang waktu antara zaman Nabi dengan Hafidin cukup menjadi alasan mendasar, bahwa praktik poligininya tidak dapat disamakan dengan praktik poligini Nabi.

            Kedua, Hafidin sebagai pebisnis. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Hafidin memiliki program mentoring kehidupan berpoligini. Program tersebut muncul akhir-akhir ini sebab permintaan masyarakat yang kepo dengan konsep poligininya. Namun, tidak dipungkiri bahwa ia juga meraup keuntungan dari kegiatan tersebut. Secara tidak langsung, bahwa praktik poligini yang ia lakukan bukan lagi karena mengamalkan ayat atau sunah Nabi, namun juga mengomersialkan perilakunya yang diatasnamakan ajaran Nabi untuk meraup keuntungan materi.

            Ketiga, Hafidin sebagai Human Breeders. Maaf jika istilah ”Human Breeders” sebagai pilihan untuk melabeli Hafidin. Hal ini juga imbas dari praktik perceraian yang ia lakukan terhadap perempuan yang telah menopause. Ia dengan mudahnya menceraikan wanita hanya dengan alasan sudah menopause, dan menjadikan poligini sebagai sarana untuk memiliki keturunan lebih banyak. Secara tidak langsung, ia juga memberikan stereotipe bahwa wanita yang menopause sudah tidak layak untuk dikasihi dan dinikahi.

            Dengan memahami analisis singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa praktik poligini yang dilakukan Hafidin bukanlah praktik yang dapat disandarkan dengan mudah kepada Nabi. Ia hanya berada di posisi fenotek, ia tidak akan bisa menyamakan praktik poligininya dengan praktik poligini Nabi. Selain itu, dalam memahami dan melakukan poligini, ia tidak lepas dari konteks kehidupannya, sebagai pembaca dzahir teks, pebisnis, dan Human Breeders.

            Klasifikasi di atas masih dapat ditambahkan dan dikembangkan sesuai pembacaan seseorang terhadap kehidupan Hafidin. Namun demikian, tidak selamanya kehidupan Hafidin sesuai dengan analisis dalam tulisan ini, dapat lebih baik atau bahkan lebih buruk. Hal ini berdasarkan prinsip teori bahwa teks pemikiran Hafidin di setiap waktu dapat berubah. 

*Tulisan ini berdasarkan penelitian singkat penulis dalam beberapa konten Youtube yang terdapat Coach Hafidin di dalamnya.

 

Kontributor: Muhammad Mundzir