Pengikut

Jumat, 31 Desember 2021

Pembelaan al-Asqalaniy terhadap Hadis-hadis Muallaq

 

    Tulisan ini akan mengulas tentang pembelaan al-Asqalaniy terhadap orang-orang yang mengkritik Kitab Shahih al-Bukhari. Al-Asqalaniy yang dikenal sebagai pendekar hadis, ia mengarang satu kitab khusus untuk membela Kitab Shahih al-Bukhari dalam diskursus pemotongan sanad hadis (ta’liiq).

    Perlu diketahui, bahwa penta’liqan dalam hadis sejatinya sudah kita ketahui di dalam karya-karya ulama yang masyhur di tangan kita, seperti kitab Bulugh al-Maram, Riyadl al-Shalihin, Mukhtar al-Ahadis. Akan tetapi, problem yang dihadapi pada abad ke 8-10 H. adalah banyaknya kritikan terhadap Kitab Shahih al-Bukhari. Hal ini disebabkan adanya legitimasi bahwa ashahhu al-kitab ba’da al-Qur’an huwa al-shahih al-bukhari. Maka dari itu, para penentang slogan tersebut ingin menguji kekuatan kualitas hadis dalam Kitab Shahih al-Bukhari.

    Penta’liqan dalam diskursus hadis ini sejatinya telah dibahas dalam beberapa literatur. التعليق sejatinya bermakna komentar, namun dalam diskursus hadis Ibn al-Shalah menjelaskan bahwa al-ta’liq memiliki makna yaitu adanya pemotongan sanad baik itu hanya di awal, atau bahkan sampai di akhir sanad. Al-Asqalaniy menambahkan adanya pemotongan seorang rawi yang tidak menggunakan shighat yang pasti (sima’iy). Artinya hadis muallaq adalah hadis yang perawinya terpotong, baik di awal, tengah, atau akhir, tentunya dengan shighat tertentu.  

    Terdapat dua shighat yang digunakan oleh al-Bukhari ketika menyampaikan hadis muallaq, yakni Shigat al-Jazm dan Shigat al-Tadl’if. Shighat al-Jazm biasanya menggunakan bentuk mabniy ma’lum, seperti: قال, ورَوَى. Adapun Shigat al-Tadl’if yang digunakan al-Bukhari biasanya cenderung menggunakan mabniy majhul, seperti: قيل, ورُوِىَ. Dua shigat tersebut menurut para pengkritik, dikatakan tidak konsisten dan tidak kredibel, sebab yang dianggap kredibel hanyalah metode sima’i yang notabenenya menggunakan Shighat al-Sima’i.


Pembelaan al-Asqalaniy terhadap Shigat al-Jazm

    Al-Asqalaniy melakukan pembelaan terhadap hadis-hadis muallaq yang menggunakan Shighat al-Jazm. Pertama, jika terdapat Shighat al-Jazm, maka sejatinya itu menunjukkan keabsahan perawi yang dipotong. Selain itu, hal tersebut menunjukkan adanya unsur saling melihat antar perawi dalam periwayatan. Kedua, hadis mu’allaq biasanya tidak serta merta terpotong begitu saja, hadis tersebut dijelaskan di bab lain dengan periwayatan yang berbeda, namun dengan makna yang sama.

    Ketiga, pemotongan sanad juga berfungsi untuk menjelaskan adanya pertemuan guru dan murid yang meriwayatkan hadis, namun guru tersebut ditadliskan oleh muridnya, alias disembunyikan namanya supaya seseorang tidak mengenalinya. Keempat, pemotongan sanad juga dilakukan sebab hadis tersebut mauquf, sedangkan Shahih al-Bukhari bukan tempatnya hadis mauquf.

    Kelima, jika hadis tersebut dituliskan dengan Shigat al-Tadl’if (‘an, qaala, ruwiya, yudzkar), artinya bahwa perawi yang dipotong al-Bukhari menunjukkan kredibilitias lemah, konsekuensinya hadis tersebut juga akan berkualitas dlaif, namun dlaif tersebut hanya bertaraf ringan, sebab hadis tersebut dishahihkan dengan jalur lain. Keenam, Shighat-shigat yang dituduh lemah seperti قال, عن  bukan berarti menunjukkan hadis itu lemah, namun justru menunjukkan adanya Ittishal al-sanad. Hal ini disebabkan perbedaan sejarah, kebiasaan (‘urf) ulama mutaqaddimin menganggap bahwa shigat ‘an itu masuk dalam kategori metode sima’i, sehingga kualitas hadis tetap setara. Begitu juga dengan shighat qaala, bahwa pencetus hadis mudallas itu muncul belakangan pasca Imam al-Bukhari.

    Tidak hanya dua shigat di atas, shigat-shigat yang dianggap lemah  seperti:  قاال لنا, قال لي, زادنا, زادني, ذكر لنا, ذكر لي, tidak bisa dianggap penta’liqan dengan kategori penyembunyian nama guru. Semua shighat di atas masuk dalam kategori shigat al-jazm (shigat yang kuat). Hal ini disebabkan shigat di atas dapat masuk dalam kategori metode “munawalah” dan “ijazah”. Maka dengan demikian, tuduhan bahwa al-Bukhari menyembunyikan perawi yang berstatus guru itu terbantah. Selain argumen yang sudah disebutkan, al-Bukhari ketika menyampaikan hadis dengan shighat-shighat yang dianggap lemah tidak menuliskannya di dalam hadis yang utama, namun hanya di dalam hadis-hadis syawahid, mutabi’, dan hadis mauquf. Dengan demikian, argumentasi tentang pemotongan sanad dengan shighat yang lemah, sudah terbantahkan.

  Ketujuh, pendapat al-Asqalaniy di atas masih dibantah, bahwa masih ada hadis-hadis yang menggunakan shighat lemah, namun tidak disandarkan dengan hadis yang lebih kuat, atau diriwayatkan tanpa syawahid dan mutabi’. Hal tersebut dimaklumi, sebab periwayatan yang dilakukan oleh al-Bukhari tidak semata-mata berbasis riwayat, namun juga bil ma’na. Periwayat bil ma’na lebih memprioritaskan lafadz hadis, sehingga kualitas perawi tidak terlalu ditonjolkan. Meskipun demikian, al-Bukhari tidak dapat dituduh sebagai pemotong sanad.

     Dari kritikan-kritikan yang diajukan di atas, khususnya kepada Kitab Shahih al-Bukhari, dapat kita refleksikan bahwa pendapat tentang ashahhu al-kitab ba’da al-qur’an huwa Shahih al-Bukhari masih dapat terus untuk dikaji. Tidak ada satu teori  yang sempurna dan paten, jika satu teori dianggap sempurna dan dipatenkan, hal tersebut jutsru akan membunuh perkembangan penelitian. Selain itu, Shahih al-Bukhari bukanlah kitab yang semata-mata kitab dianggap sempurna dan monumental. Kita perlu melihat kembali kitab-itab setelahnya yang juga berupaya menyempurnakan karya al-Bukhari, mulai dari Shahih Muslim, kitab sunan, kitab musnad, kitab mustadrak, kitab mustakhraj, kitab al-jami’, dan kitab-kitab lainnya. Hal ini juga menjadi peluang bagi peneliti hadis, bahwa kajian hadis masih memiliki ruang yang cukup luas dan tidak stagnan.

 

Referensi:

Taghliiq al-Ta’liiq ‘ala Shahih al-Bukhari – Imam Ibn Hajar al-Asqalaniy

Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shihah al-Sittah – Abu Syuhbah


 Kontributor: Muhammad Mundzir S,Ag

0 komentar:

Posting Komentar